Tag Archives: sejarah kolonial

#OeiTiongHam

Menjamurnya penggunaan media sosial di internet dan gadget canggih yang mendukung semakin mempermudah penyampaian informasi. Pun demikian dengan informasi sejarah. Pembaca tentu kenal dan telah akrab dengan twitter. Memanfaatkan media sosial apik ini saya coba untuk bikin kultwit sejarah dengan membahas sedikit tentang Oei Tiong Ham. Siapa dia? Simak kultwit berikut ini… 🙂

***

Potret si Raja Gula asal Semarang, Oei Tiong Ham.

Mampir ke toko buku mgkn Anda pernah tahu buku berjudul ‘Kisah Tragis Oei Hui Lan, Putri Orang Terkaya di Indonesia”... #OeiTiongHam Continue reading →

Iklan

Batavia, Banjir Sejak Dahulu Kala…

(Disusun oleh Omar Mochtar, mahasiswa Ilmu Sejarah FIB UI)

Banjir dan Jakarta adalah dua hal yang sulit dipisahan. Semua orang pasti mafhum, banjir merupakan salah satu masalah yang dihadapi kota Jakarta sejak lama. Banjir besar pertama yang melanda Jakarta saat masih bernama Batavia tercatat pada tahun 1621. Beberapa hal yang menjadi sebab Batavia selalu dilanda banjir adalah letak Batavia yang sebagian besar wilayahnya berada lebih rendah daripada permukaan laut, curah hujan yang tinggi, kurang baiknya sistem drainase, dan tentu saja sampah. Seiring perjalanan waktu, banjir yang melanda Batavia semakin tahun semakin parah, awalnya banjir yang melanda Batavia hanya merendam kawasan pinggiran sungai-sungai besar yang mengalir di wilayah Batavia, namun lama kelamaan kota bagian tengah pun tak luput dari banjir.

Usaha pertama untuk menanggulangi banjir di Batavia pertama kali dilakukan oleh gubernur jendral VOC keenam, Gubernur Jenderal JP. Coen. Cara pertama yang dilakukan JP. Coen untuk menanggulangi banjir di Batavia dengan cara membagi aliran Sungai Ciliwung melalui pembangunan kanal-kanal seperti yang ada di negeri Belanda. Kanal-kanal itu dibuat untuk memperlancar aliran Sungai Ciliwung menuju Laut Jawa. Kanal-kanal yang dibangun di masa kolonial tidak hanya dibangun untuk membantu aliran air sungai-sungai yang melintasi Batavia, tetapi untuk sarana transportasi air di daerah Batavia. Misalnya saluran Ammanusgracht yang dibangun oleh Johannes Amanus pada tahun 1647 berguna untuk pengangkutan barang ke laut melalui Kali Angke. Continue reading →

Naar Buitenzorg Twee Eeuwen Geleden

Awal Pembukaan Buitenzorg (Kampung Baru) oleh Belanda

Pada masa lalu, Buitenzorg atau Bogor adalah ibukota kerajaan Pajajaran. Nama sebelumnya adalah Pakuan. Setelah runtuh akibat serangan Kesultanan Banten, Pakuan tidak pernah disebut lagi. Pada tahun 1687, gubernur jendral Johanes Camphuijs memerintahkan Tanuwijaya, seorang perwira VOC pribumi Sunda trah Sumedang untuk membuka hutan di wilayah selatan Batavia. Akhirnya, Tanuwijaya berhasil membuka perkampungan baru di daerah Parung Angsana. Selanjutnya perkampungan itu dinamakan Kampung Baru. Tempat inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor yang didirikan kemudian. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar. Dengan adanya Kampung Baru menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampung-kampung lainnya.

Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung. Gubernur Jendral Matheus De Haan memulai daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa (1689-1705), walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik baru terjadi pada tahun 1745.

Pada 4 dan 5 Januari 1699 Gunung Salak meletus disertai gempa yang sangat kuat. Dari sebuah catatan bertahun 1702 melaporkan akibat-akibat yang ditimbulkan sebagai berikut :

  1. Dataran tinggi antara Batavia dan Cisadane di belakang bekas kraton raja-raja Jakarta (Pakuan) yang tadinya berupa hutan berubah menjadi lapangan luas terbuka tanpa pohon-pohon sama sekali.
  2. Permukaan tanah tertutup tanah liat merah halus. Di beberapa tempat tanah telah mengeras hingga menyulitkan orang berjalan di atasnya.
  3. Aliran Ciliwung dekat muaranya tersumbat sepanjang beberapa ratus meter akibat lumpur yang dibawanya. Tidak terdapat berita mengenai keadaan penduduk sepanjang aliran sungai itu.

Gubernur Jendral Abraham Van Riebeeck kemudian membersihkan sumbatan itu. Atas jasanya ini Van Riebeeck meminta imbalan berupa tanah di Bojong Manggis dan Bojong Gede. Tahun 1704 ia membangun rumah peristirahatan di daerah Batu Tulis setelah Gunung Salak dianggap tidak membahayakan lagi. Pada tahun 1709, Van Riebeeck menyuruh membangun jalan ke arah pantai selatan. Di sini pada tahun 1714 atas biaya Wali Negeri didirikan empat daerah yaitu Gunung Guru, Citarik, Pondok Opo, dan Cidurian. Continue reading →

Bangsa Barat di Indonesia; dari Pengembaraan Hingga Penjajahan

Berkelana ke Timur

Ditutupnya perdagangan di Laut Tengah oleh Turki Ottoman membuat bangsa-bangsa Eropa kebingungan. Rempah-rempah yang mereka butuhkan untuk melewati musim dingin menjadi komoditas yang langka dan mahal. Hanya ada dua pilihan bagi Eropa, mencari sendiri rempah-rempah langsung ke sumbernya atau menyerang pelabuhan-pelabuhan Islam dan menjarah apa yang mereka inginkan. Terdesak oleh kebutuhan tersebut mulailah bangsa Eropa berusaha untuk mencari sendiri rempah-rempah dari sumbernya. Bertambahnya pengetahuan bangsa Eropa (yang dipelopori oleh Portugis) dalam hal pelayaran menjadikan tujuan itu lebih mudah. Mereka mendapat pengetahuan tersebut dari bangsa Cina.

Abad XIV hingga XVI merupakan saat-saat di mana pelaut-pelaut Eropa menjelajahi samudera untuk mencapai Asia. Yang paling awal adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh pelaut-pelaut Portugis. Bartolomeus Diaz berhasil sampai ke Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, dan setelah berlayar selama tiga tahun (1497-1499) akhirnya Vasco da Gama berhasil sampai di India. Setelah merebut pelabuhan Goa dari kerajaan Bijapur, Portugis menjadikannya sebagai pusat kegiatannya di Asia. Untuk memperlancar tujuannya itu Portugis menerapkan strategi sentralistik dalam berdagang di Asia. Barulah setelah memantapkan posisinya, Portugis dibawah komando Alfonso d’Alberquerque melanjutkan ekspansinya ke Malaka.

Di mata orang-orang Islam di sekitar jalur pelayaran bagian barat Nusantara, cara-cara yang dilakukan Portugis sangat mengganggu.  Hal inilah yang menyebabkan Portugis agak kesulitan mengembangkan perdagangannya di sekitar selat Malaka. Orang-orang Islam tidak menyukai praktek Continue reading →