#Nitisemito

Melalui kultwit ini saya coba untuk mengapresiasi jasa-jasa HM Nitisemito yang telah merintis industri kretek nasional yang mandiri. Kretek Koning van Koedoes (Belanda: Raja Kretek dari Kudus) ini terbilang sukses dengan jalan ‘nyeleneh’. Kebanyakan bumiputra pada awal abad ke-20 lebih suka merintis karir jadi ambtenaar dengan gaji lumayan ketimbang jadi pengusaha. Tapi Nitisemito malah menjemput kemapanan dengan menjadi pengusaha mandiri. Nitisemito setidaknya telah membuktikan bahwa kaum bumiputra tak kalah dengan para tuan-tuan tanah Belanda dan saudagar-saudagar Tionghoa.

Sekaligus pula kultwit ini mencoba untuk mengimbangi wacana-wacana penggalang gerakan anti-tembakau yang akhir-akhir ini marak. Kretek nyatanya tak hanya soal kesehatan belaka. Kretek juga bicara soal budaya dan perekonomian pula. Berikut ulasannya…

***

Lukisan potret HM Nitisemito, Kretek Koning van Koedoes.

Masa penjajahan Belanda sering diidentikkan dgn kemelaratan & ketertindasan, pun di bidang ekonomi. #Nitisemito

Terlebih ketika masa kolonial memasuki masa liberalisasi ekonomi di mana modal swasta asing membanjir masuk Hindia Belanda. #Nitisemito Continue reading →

Iklan

#OeiTiongHam

Menjamurnya penggunaan media sosial di internet dan gadget canggih yang mendukung semakin mempermudah penyampaian informasi. Pun demikian dengan informasi sejarah. Pembaca tentu kenal dan telah akrab dengan twitter. Memanfaatkan media sosial apik ini saya coba untuk bikin kultwit sejarah dengan membahas sedikit tentang Oei Tiong Ham. Siapa dia? Simak kultwit berikut ini… 🙂

***

Potret si Raja Gula asal Semarang, Oei Tiong Ham.

Mampir ke toko buku mgkn Anda pernah tahu buku berjudul ‘Kisah Tragis Oei Hui Lan, Putri Orang Terkaya di Indonesia”... #OeiTiongHam Continue reading →

Cirebon Merdeka Lebih Dulu

(Saya bingung mau menulis apa di bulan yang spesial ini. Agustus kali ini bertepatan dengan Ramadhan dan juga hari kemerdekaan Indonesi yang ke-67. Sekilas saja saya teringat sebuah artikel di majalah TEMPO edisi 9-15 Maret 2009, yang merupakan edisi khusus mengenang 100 tahun Sutan Sjahrir. Jadi Cirebon telah mendahului Jakarta memproklamirkan kemerdekaan? Sutan Sjahrir punya peran saat itu? Rasa-rasanya penasaran ini wajib saya tularkan kepada Pembaca sekalian. Detailnya silakan baca artikel di bawah ini. Selamat Hari Kemerdekaan!)

***

 

Begitu Jepang kalah Perang, Sjahrir ingin kemerdekaan Indonesia dikumandangkan secepatnya. Proklamasi Cirebon dibacakan lebih cepat.

Tugu berwarna putih dengan ujung lancip menyerupai pensil itu berdiri tegak di tengah jalan di dekat alun-alun Kejaksaan, Cirebon. Tugu yang sama, dengan tinggi sekitar tiga meter, menancap di halaman Kepolisian Sektor Waled di kota yang sama.

Tak banyak warga Cirebon tahu dua tugu tersebut merupakan saksi sejarah. Di tugu itu, pada 15 Agustus 1945, dokter Soedarsono membacakan teks proklamasi. “Hanya para sesepuh yang mengingat itu sebagai tugu peringatan proklamasi 15 Agustus,” tutur Mondy Sukerman, salah satu warga Cirebon yang aktif dalam Badan Pekerja Pengaktifan Kembali Partai Sosialis Indonesia. Kakek Mondy, Sukanda, aktivis Partai Sosialis Indonesia, hadir saat proklamasi ini dibacakan di kota udang itu.

Saat Soedarsono membacakan teks proklamasi, sekitar 150 orang memenuhi alun-alun Kejaksaan. Sebagian besar anggota Partai Nasional Indonesia Pendidikan. Cirebon memang salah satu basis PNI Pendidikan. Continue reading →

KELUAR DARI BUKU DIKTAT

Apa yang ada di bayangan Pembaca sekalian ketika ada seseorang menyebut kata Sejarah. Bisa jadi banyak hal berkelebat dipikiran Anda, atau mungkin juga hanya satu hal. Ada yang merasa tertarik, ada yang bosan, ada yang apatis, ada yang sinis, ada yang gembira, dan ada juga yang bangga. Sejarah, sebagai salah satu bidang kajian yang metodologis, memang tak bisa dilepaskan dari selera orang. Tapi saya yakin banyak orang yang tertarik. Yah, tentu saja selain orang-orang yang beranggapan miring. Tapi percayalah, sebenarnya banyak orang suka sejarah.

Saya sampai pada kesimpulan itu setelah beberapa kali terlibat obrolan dengan beberapa orang. Memang bukan tolok ukur yang valid, namanya juga kesimpulan pribadi. Mungkin memang benar, sejarah itu membosankan. Lihatlah di ruang-ruang kelas sekolah SMA atau SMP. Seakan-akan murid-murid duduk manis mendengarkan dongeng masa lalu dari gurunya. Saya sendiri bahkan mengalami hal itu. Sungguh ngantuk sekali mendengarkan guru menerangkan materi dengan nada datar dan tanpa gerakan apapun.

Atau, mungkin juga ketika Anda bertemu dengan kawan lama yang lalu bertanya-tanya tentang kegiatan anda saat ini.

Hai, wah lama tak jumpa kita. Kuliah di mana sekarang?” Continue reading →

KH Ahmad Dahlan, Sebuah Biografi Pemikiran (Bagian 2)

(Tulisan sebelumnya dapat dibaca di sini)

Pokok-pokok & Aktualisasi Pemikiran KH Ahmad Dahlan

Telah penyusun jelaskan di atas bahwa Kyai Dahlan selama di Mekah dalam hajinya yang pertama dan kedua banyak berguru demi memperdalam wawasan ke-Islamannya. Telah kita sama-sama ketahui pula seperti apa keadaan Timur Tengah semasa beliau belajar di sana. Dari kedua premis ini dapat kita ambil benang merah terkait perkembangan pemikiran Kyai Dahlan sepulang dari Mekah. Ketika pemahamannya akan keberagamaan kian matang ia pulang dan berhadapan dengan kenyataan-kenyataan sosial masyarakatnya yang terkadang tidak sejalan dengan pengetahuan yang beliau terima di Mekah.

Kyai Dahlan tentulah pernah bersentuhan dengan gagasan pembaruan Islam yang diusung oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani. Lagipula beliau juga belajar di Mekah yang merupakan bagian dari tanah Arab yang ketika itu diwarnai dengan gerakan-gerakan purifikasi Islam ala Wahabi. Persentuhan intelektual ini jelas meninggalkan bekas mendalam bagi Kyai Dahlan. Bertolak dari situlah Kyai Dahlan mulai menghayati perlunya suatu gerakan pembaruan Islam di kampung halamannya. Ketika Islam telah tercampur aduk dengan tradisi dan umat muslim kian terjebak dalam formalitas agama jelas harus ada yang ‘meluruskannya’ kembali. Inilah peran besar yang diambil oleh Kyai Dahlan dengan penuh keinsyafan.

Penyusun berpendapat bahwa pemikiran pembaruan dan pemurnian Islam Kyai Dahlan merupakan sebuah sintesis pemikiran. Kyai Dahlan sampai pada cita-citanya setelah ‘terlibat’ dialog intelektual dari pembacaannya terhadap gagasan-gagasan serupa di Timur Tengah dan kegelisahannya menghadapi kenyataan sosio-kultural masyarakat muslim Jawa yang terjebak formalitas keagamaan. Yang otentik dari Kyai Dahlan Adalah model gerakannya yang mengakar. Tajdid aatau pembaruan dihayati sebagi sebuah gerakan sosial yang tidak hanya mandeg di tataran ide, tapi juga tindakan nyata yang menyentuh langsung kehidupan umat muslim. Dalam bahasa Mohammad Damami, MA, dalam karyanya Akar Gerakan Muhammadiyah, bergama harus menyapa kehidupan. Untuk lebih jelasnya tentang pokok-pokok pemikiran Kyai Dahlan dan aktualisasinya akan penyusun uraikan di bawah ini. Continue reading →