Category Archives: Tulisan dari Masa Lalu

Cirebon Merdeka Lebih Dulu

(Saya bingung mau menulis apa di bulan yang spesial ini. Agustus kali ini bertepatan dengan Ramadhan dan juga hari kemerdekaan Indonesi yang ke-67. Sekilas saja saya teringat sebuah artikel di majalah TEMPO edisi 9-15 Maret 2009, yang merupakan edisi khusus mengenang 100 tahun Sutan Sjahrir. Jadi Cirebon telah mendahului Jakarta memproklamirkan kemerdekaan? Sutan Sjahrir punya peran saat itu? Rasa-rasanya penasaran ini wajib saya tularkan kepada Pembaca sekalian. Detailnya silakan baca artikel di bawah ini. Selamat Hari Kemerdekaan!)

***

 

Begitu Jepang kalah Perang, Sjahrir ingin kemerdekaan Indonesia dikumandangkan secepatnya. Proklamasi Cirebon dibacakan lebih cepat.

Tugu berwarna putih dengan ujung lancip menyerupai pensil itu berdiri tegak di tengah jalan di dekat alun-alun Kejaksaan, Cirebon. Tugu yang sama, dengan tinggi sekitar tiga meter, menancap di halaman Kepolisian Sektor Waled di kota yang sama.

Tak banyak warga Cirebon tahu dua tugu tersebut merupakan saksi sejarah. Di tugu itu, pada 15 Agustus 1945, dokter Soedarsono membacakan teks proklamasi. “Hanya para sesepuh yang mengingat itu sebagai tugu peringatan proklamasi 15 Agustus,” tutur Mondy Sukerman, salah satu warga Cirebon yang aktif dalam Badan Pekerja Pengaktifan Kembali Partai Sosialis Indonesia. Kakek Mondy, Sukanda, aktivis Partai Sosialis Indonesia, hadir saat proklamasi ini dibacakan di kota udang itu.

Saat Soedarsono membacakan teks proklamasi, sekitar 150 orang memenuhi alun-alun Kejaksaan. Sebagian besar anggota Partai Nasional Indonesia Pendidikan. Cirebon memang salah satu basis PNI Pendidikan. Continue reading →

Siapa Penganjur Pekik Nasional “Merdeka” ? (Pak Diro)

(Detail-detail sejarah bangsa Indonesia hingga kini masih banyak berserakan dan masih juga jarang dikupas. Hal-hal “kecil” yang terjadi di masa lalu tersebut seringkali dianggap sepele, namun ketika ia diungkap malah semua orang tertegun-tegun. Dan ini adalah satu dari sekian banyak detail yang mungkin tak banyak orang Indonesia mengetahuinya. Pekik “Merdeka”, yang terkenal itu, yang tiap menjelang peringatan Hari Proklamasi selalu di pekikkan di mana-mana itu, siapa yang mencetuskan? Kalau anda belum tahu, mari baca tulisan Pak Diro yang dimuat dalam Berita Yudha tanggal 14 Oktober 1984. Selamat membaca!)

Kini, setelah kita hampir 40 tahun menjadi bangsa yang merdeka, pasti pekik nasional kita, yang hanya terdiri dari satu patah kata saja itu, telah diketahui oleh setiap orang Indonesia. Baik secara tertulis – pada awal surat-menyurat, maupun pada saat pembukaan rapat. Pekik “Merdeka” pasti dijawab dengan teriakan yang sama, “Merdeka”. Ada juga menjawabnya dengan kata, “Tetap”.

Dalam Mubenas Angkatan 45 di Ujung Pandang baru-baru ini, kalau ada pembicara yang lupa menyerukan pekik perjuangan kita itu, selalu oleh para peserta Mubenas diperingatkan. Dengan cara mendahuluinya dengan teriakan, “Merdeka, Bung!”. Ada pula yang secara senda gurau menjawab pekik tersebut dengan kata-kata, “Ya, sudah 39 tahun!”.

Bung B. M. Diah, pemimpin umum dari harian Merdeka kadang-kadang menjawabnya dengan seruan, “Bacala!”. Maksudnya, “Bacalah koran Merdeka” yang dipimpinnya. Pendeknya, rakyat Indonesia seluruhnya, wanita dan pria, tua dan muda, bahkan bayi pun, sudah mulai diajarkan pekik tersebut oleh ibu-bapaknya atau kakaknya.

Tetapi kalau saya sekarang tanya, siapakah yang mencetuskan pekik kita itu, bahkan yang untuk pertama kali menyerukan pekik nasional kita itu, pasti banyak yang tidak tahu! Atau telah lupa! Continue reading →

DEMOKRASI ASLI INDONESIA DAN KEDAULATAN RAKYAT (Mohammad Hatta)

(Indonesia adalah negara demokrasi, itu jelas. Tapi yang jadi pertanyaan saat ini adalah demokrasi yang seperti apa? itulah yang tantangan yang dihadapi oleh generasi muda Indonesia saat ini. Generasi yang oleh Soe Hok Gie disebut sebagai “generasi pasca kemerdekaan”, generasi yang hanya mengetahui pembentukan negara ini dari buku-buku sejarah dan cerita orang tua. Dalam proses pemaknaan demokrasi ini kita seringkali terjebak dalam pemaknaan yang asal dan kurang ilmiah. Dan ternyata hal ini telah terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka. Adalah seorang Bung Hatta, sesepuh bangsa yang terkemuka, menjawab polemik ini dalam Daulat Ra’jat edisi 10 Januari 1932. Lewat karangannya ini Bung Hatta menjawab sebuah karangan karya Si Rakyat yang di muat dalam Persatoean Indonesia nomor 109. Menurut Bung Hatta, Si Rakyat dalam karangannya itu terlalu mentah dalam memahami demokrasi. Si Rakyat dianggap hanya menelan mentah-mentah demokrasi ala Barat tanpa melibatkan realitas ke-Indonesiaan kala itu. Agaknya, isi karangan Bung Hatta ini masih relevan untuk sama-sama kita jadikan bahan renungan dalam pemaknaan “demokrasi yang Indonesia”. Dalam tulisan ini saya hanya mengubah ejaan dan memberikan beberapa keterangan yang sekiranya perlu agar menghindari kerancuan. Selamat membaca!)

 ***

Dalam majalah Persatuan Indonesia No. 109 Si Rakyat menulis perkara demokrasi. Ia mencela demokrasi impor yang “tentu tinggal demokrasi impor, atinya tidak (bercirikan, red.) kebudayaan kita”. Dan juga ia menolak cita-cita Volkssouvereiniteit. Itu sama sekali barang impor saja dan “boleh kita buang”. Di sini ia menyindir asas pergerakan kita, karena kita memakai dasar Kedaulatan Rakyat, yaitu Volkssouvereiniteit dengan kata Belanda. Akhirnya ia menulis, “Kedemokrasian ada keyakinan keadilansegenap bangsa Indonesia, bukan keyakinan impor cap Volkssouvereiniteit atau lain, melainkan keyakinan Indonesia sejati. Keyakinan ini mesti menjadi semboyan segala partai-partai Indonesia, dan mesti menjadi dasar susunan Indonesia Merdeka yang akan datang”.

Demokrasi Asli Sampai Kepada Kedaulatan Rakyat

Kita senantiasa suka membaca kritik-kritik, karena berkat kritik itu kita dapat memperdalam pemahaman kita, memperkuat sendi asas kita dan memperbaiki pendirian kita. Persoalan tentang Demokrasi Asli Indonesia tentu akan kita hargai benar, karena kita juga mau menyusun Perumahan Indonesia Merdeka di atas dasar demokrasi yang terdapat dalam pergaulan hidup yang asli di Indonesia. Sebelumnya Si Rakyat tahu membuka mulut dalam hal politik, kita sudah menyatakan keyakinan kita itu dalam kitab perlawanan kita, yang bernama Indonesia Vrij, terbit di tahun 1928. Di dalamnya kita sebut tiga pasal yang akan kita pakai sebagai sendi Perumahan Indonesia Merdeka. Pertama, cita-cita Rapat (musyawarah, red) yang hidup dalam sanubari rakyat Indonesia dari zaman dahulu sampai sekarang dan tak luput (hilang atau luntur, red.) karena tindasan yang pelbagai rupa. Kedua, cita-cita massa-protest, yaitu hak rakyat untuk membantah dengan cara umum segala peraturan negeri yang dipandang tidak adil. Inilah yang menjadi dasar tuntutan kita, supaya mendapat kemerdekaan bergerak dan berkumpul bagi rakyat! Ketiga, cita-cita tolong-menolong. Sebab itulah, maka semenjak tahun 1925 kita tidak puas membuat propaganda untuk koperasi, sebagai dasar perekonomian Indonesia.

Dasar-dasar demokrasi yang terdapat dalam pergaulan hidup asli di Indonesia kita pakai sebagai sendi politik kita. akan tetapi kita insyaf akan pertukaran zaman, insyaf bahwa dasar-dasar yang ada dahulu itu tidak mencukupi sekarang untuk menyusun Indonesia Merdeka yang berdasar demokrasi. Sebab itu asas-asas asli itu harus dicocokkan dengan kehendak pergaulan hidup sekarang, harus dibawa ke  atas tingkat yang lebih tinggi. Pendeknya, diluaskan lingkarannya dan dilanjutkan tujuannya!

Dalam memperluas itu kita sampai kepada teori Kedaulatan Rakyat! Ini bukan suatu barang impor, satu tiruan dari teori Volkssouvereiniteit, yang kembang di Eropa Barat, yang berdasar individualisme (bersifat perseorangan). Dalam Daulat Rakyat No. 1 saya kira sudah cukup diterangkan, bahwa dasar Kedaulatan Rakyat Continue reading →