Category Archives: Sejarah Populer

Bonivasius Margono, Berkarya di Jalan Sunyi

Sebuah potret B. Margono yang dipajang dalam pameran karya-karyanya di Bentara Budaya Yoyakarta, 2010 (diambil dari ANTARA).

Barangkali sekarang ini tidak terlalu banyak orang yang mengenal sosok B. Margono. Bahkan seniman-seniman terkenal sekarang belum tentu mengenalnya. B. Margono memang tidak hadir ke tengah-tengah hiruk pikuk dunia seni Indonesia dengan karya seni rupa yang monumental atau spektakuler. B. Margono juga telah lama meninggal dunia sehingga kini kita tak akan melihat karya-karya barunya. Tapi di masa lalu, dalam tingkatan tertentu, karya-karya sederhana B. Margono pernah menjadi sangat akrab dengan masyarakat di Hindia Belanda. Bagi pembaca majalah Kedjawen dan buku-buku pengajaran terbitan Balai Pustaka pastilah tidak asing dengan ilustrasi-ilustrasi karya beliau.

B. Margono memiliki nama lengkap Raden Bonivasius Margono Darmo Pusoro adalah seorang ilustrator bagi terbitan-terbitan Balai Pustaka dan beberapa iklan koran pada masa Hindia Belanda. Ketika B. Margono hidup dan aktif berkarya, Indonesia sebagai sebuah negara bangsa yang merdeka belum ada. Karena itulah namanya tak banyak dikenal publik secara luas. Lagi pula semasa beliau masih hidup tak pernah Continue reading →

Iklan

Mooi Spoorwegen op Vorstenlanden

Kereta api, merupakan sarana transportasi massal yang kehadirannya dirasa penting bagi negara dengan penduduk besar seperti Indonesia. Jumlah daya angkut manusia, waktu tempuh yang relatif lebih cepat dibanding transportasi darat lainnya, anti macet, dan harga tiket yang lumayan terjangkau merupakan contoh beberapa kelebihan kereta api dibandingkan dengan moda transportasi darat lain.

Kantor pusat NISM di Semarang, sekarang kita mengenalnya dengan sebutan Lawang Sewu.

Hadirnya kereta api di Indonesia, berawal dengan berdirinya perusahaan swasta NV Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 27 Agustus 1863. Sekitar enam tahun kemudian, Continue reading →

Gunung Salju Khatulistiwa dan Sejarah Pendakiannya

Salju adalah hal yang tak lazim di daerah khatulistiwa. Eropa yang bersalju di musim dingin adalah pesona tersendiri bagi orang-orang khatulistiwa kebanyakan. Orang Eropa pun demikian, kehangatan udara khatulistiwa begitu menggiurkan selain sumber daya alam yang melimpah. Barangkali inilah yang mereka sebut dengan nostalgia tropicana. Membuat mereka betah sekali tinggal di bumi jajahannya di khatulistiwa.

Dan mungkin bagi orang-orang Eropa, melihat salju di khatulistiwa adalah sebuah keajaiban. Yah, setidaknya untuk masa-masa yang lalu, mengingat kini dengan berbagai macam teknologi apa saja bisa diciptakan. Di tempat yang setiap hari mereka merasa panas, menemukan salju tentu sebuah keajaiban. Itulah barangkali yang mereka rasakan ketika melihat “mahkota putih” menghiasi puncak-puncak gunung tertinggi di khatulistiwa. Kilimanjaro, Aconcagua, dan Carstensz Pyramid. Tiga gunung yang ketika pertama kali terlihat puncaknya membuat orang-orang Eropa tertegun-tegun tak percaya. Mahkota salju abadi yang menghiasi puncaknya adalah keajaiban khatulistiwa. Berikut ini penulis sajikan kisah penemuan dua puncak bersalju di khatulistiwa itu dan ekspedisi penaklukannya yang pertama-tama. Mohon maaf karena keterbatasan sumber penulis tak dapat melacak tentang Gunung Aconcagua. Selamat membaca!

Carstensz Pyramid

“Kami melihat satu gunung sangat tinggi yang memutih di berbagai tempat karena salju, satu hal yang tentunya aneh bagi gunung yang begitu dekat dengan garis khatulistiwa.”

Sepenggal catatan yang bertarikh 16 Februari 1623 itu ditulis oleh seorang kapten kapal maskapai dagang Kerajaan Belanda, VOC, Jan Carstensz. Ia sedang berada di laut Arafuru ketika dilihatnya “pucuk” tertinggi di daratan Papua itu. Sebuah gunung salju mencuat dari tanah di dekat khatulistiwa! Memang mula-mula orang tak percaya pada laporan Jan Carstensz ini. Mungkin mereka pikir, mana ada salju di daerah tropis. Tapi setelah beberapa waktu kemudian terdengar kabar bahwa di pegunungan Andes, Amerika Selatan, juga terdapat gunung berpuncak tertutup salju, orang-oarang mulai percaya akan kebenaran laporan sang kapten VOC itu. Lalu penghargaan atas dirinya pun menyusul. Carstensz Toppen hingga kini menjadi nama untuk puncak-puncak bersalju yang ia temukan. Continue reading →

LOKANANTA, PERUSAHAAN LABEL PERTAMA DI INDONESIA

Dalam dunia pewayangan nama Lokananta bukanlah nama sembarangan. Lokananta adalah gamelan kahyangan yang bersuara amat merdu tanpa ditabuh. Itu di dunia pewayangan. Di dunia nyata, di Indonesia ini juga ada Lokananta. Namun nasib Lokananta ini tak semerdu gamelan kahyangan itu. Di Indonesia ini, Lokananta adalah nama sebuah perusahaan rekaman (label) milik pemerintah yang pernah jaya di era 70-80-an. Lokananta Recording, begitulah orang mengenalnya dahulu. Namun kini, mungkin hanya segelintir orang tua saja yang mengenal namanya. Kali ini penulis akan mengupas perjalanan perusahaan label pertama yang berdiri di Indonesia itu.

Kelahiran Lokananta

Dua orang pegawai Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, kala itu tengah sibuk merintis sebuah pabrik piringan hitam sederhana. Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero sepakat bekerja sama mendirikan pabrik piringan hitam itu pada 1950. Siapa sangka enam tahun kemudian, usaha kedua pegawai RRI ini dilirik pemerintah. Pada 29 Oktober 1956, secara resmi berdirilah Lokananta. Nama resminya sendiri adalah Pabrik Piringan Hitam Lokananta, Djawatan Radio Kementrian Penerangan RI. Diresmikan secara langsung oleh Mentri Penerangan kala itu, Soedibyo.

Nama Lokananta sendiri digagas oleh musisi legendaris R. Maladi, pencipta lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama. Lokananta di awal pendiriannya Lokananta mengemban dua tugas, yaitu merekam dan memproduksi (menggandakan) piringan hitam untuk bahan siaran 27 studio RRI di seluruh Indonesia. Dua tahun kemudian, Lokananta diperbolehkan menjual piringan hitam produksinya untuk umum melalui Pusat Koperasi Angkasawan RRI (Pusat) Jakarta. Semua piringan hitam itu berlabel Lokananta. Continue reading →

The Beatles Sepanjang Masa

Ide John Lennon

Terinspirasi oleh “Skiffle Boom”, seorang mahasiswa di Quarry Bank School di Liverpool memutuskan untuk membentuk sebuah grup band pada tahun 1957. Siapa kira apa yang ia lakukan akan berbuah sangat fantastis.  Dialah John Winston Lennon. John menamai band-nya “The Blackjack”. Tampaknya ia tidak puas dengan nama ini dan mengubahnya menjadi “The Quarry Men” pada Maret 1957. Selain John yang bernyanyi dan bermain gitar, ada Colin Hanton memainkan drum, Eric Griffiths pada gitar, Pete Shotton pada Keyboard, Rod Davis pada banjo, dan Bill Smith pada bass. Lalu kemudian posisi Bill segera digantikan oleh Ivan Vaughan. The Quarry Men awalnya adalah band rock, tapi tak berapa lama John terinspirasi oleh “Heartbreak Hotel” dan menjadi penggemar musik rock ‘n’ roll Amerika.

Main “Bongkar Pasang”, ke Hamburg, Hingga Rekaman

Pada tanggal 6 Juli 1957, Ivan Vaughan mengundang James Paul McCartney untuk melihat pertunjukan mereka di gereja The Woolton Parish. Saat itu Paul berusia lima belas tahun. Ivan lalu memperkenalkan Paul kepada John yang saat itu enam belas tahun. Dari perkenalan inilah sebuah pertemanan unik diantara mereka berawal.

The Quarry Men semakin “gembung” dengan masuknya Paul pada gitar dan vokal, John Lowe pada piano, dan George Harrison pada gitar dan vokal. Segera Eric Griffiths dan anggota lain pergi karena terlalu banyak anggota. Kelompok ini muncul di beberapa kontes bakat lokal dan beberapa pertunjukan. Pada Januari 1959, The Quarry Men tidak bermain lagi. Walaupun begitu John dan Paul terus berhubungan, sementara George telah bergabung dengan Les Stewart Quartet.

Memang inilah akhir The Quarry Men, tetapi dari sinilah perjalan keberuntungan mereka berawal. Les Stewart Quartet  masuk di sebuah klub malam baru bernama “The Casbah”. Karena suatu permasalahan, George keluar dan mengajak pula kawannya Ken Brown. George kembali berhubungan dengan John dan Paul. Bersama Ken Brown mereka membentuk band lagi. Tapi tak lama Ken Brown keluar dari band karena mempermasalahkan honor. Dari Oktober 1959 sampai Januari 1960 John, Paul, dan George bertahan sebagai trio dengan Paul pada drum. Mereka menyebut diri mereka “Johnny & the Moondogs”.

Pada saat itu John terdaftar sebagai mahasiswa di Liverpool College of Art. Johny & the Moondogs sedang membutuhkan pemain bass, maka ia mengajak kedua kawan mahasiswanya untuk masuk band. Keduanya adalah Stuart Sutcliffe dan Rod Murray. Sayangnya, ternyata keduanya tidak mampu gitar. Namun, Stuart yang jago melukis,  menjual salah satu lukisannya dan  membeli gitar bass Hofner dan bergabung dengan grup di bulan Januari, 1960. Continue reading →