Category Archives: Sejarah Kolonial

Mooi Spoorwegen op Vorstenlanden

Kereta api, merupakan sarana transportasi massal yang kehadirannya dirasa penting bagi negara dengan penduduk besar seperti Indonesia. Jumlah daya angkut manusia, waktu tempuh yang relatif lebih cepat dibanding transportasi darat lainnya, anti macet, dan harga tiket yang lumayan terjangkau merupakan contoh beberapa kelebihan kereta api dibandingkan dengan moda transportasi darat lain.

Kantor pusat NISM di Semarang, sekarang kita mengenalnya dengan sebutan Lawang Sewu.

Hadirnya kereta api di Indonesia, berawal dengan berdirinya perusahaan swasta NV Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 27 Agustus 1863. Sekitar enam tahun kemudian, Continue reading →

Iklan

#Nitisemito

Melalui kultwit ini saya coba untuk mengapresiasi jasa-jasa HM Nitisemito yang telah merintis industri kretek nasional yang mandiri. Kretek Koning van Koedoes (Belanda: Raja Kretek dari Kudus) ini terbilang sukses dengan jalan ‘nyeleneh’. Kebanyakan bumiputra pada awal abad ke-20 lebih suka merintis karir jadi ambtenaar dengan gaji lumayan ketimbang jadi pengusaha. Tapi Nitisemito malah menjemput kemapanan dengan menjadi pengusaha mandiri. Nitisemito setidaknya telah membuktikan bahwa kaum bumiputra tak kalah dengan para tuan-tuan tanah Belanda dan saudagar-saudagar Tionghoa.

Sekaligus pula kultwit ini mencoba untuk mengimbangi wacana-wacana penggalang gerakan anti-tembakau yang akhir-akhir ini marak. Kretek nyatanya tak hanya soal kesehatan belaka. Kretek juga bicara soal budaya dan perekonomian pula. Berikut ulasannya…

***

Lukisan potret HM Nitisemito, Kretek Koning van Koedoes.

Masa penjajahan Belanda sering diidentikkan dgn kemelaratan & ketertindasan, pun di bidang ekonomi. #Nitisemito

Terlebih ketika masa kolonial memasuki masa liberalisasi ekonomi di mana modal swasta asing membanjir masuk Hindia Belanda. #Nitisemito Continue reading →

#OeiTiongHam

Menjamurnya penggunaan media sosial di internet dan gadget canggih yang mendukung semakin mempermudah penyampaian informasi. Pun demikian dengan informasi sejarah. Pembaca tentu kenal dan telah akrab dengan twitter. Memanfaatkan media sosial apik ini saya coba untuk bikin kultwit sejarah dengan membahas sedikit tentang Oei Tiong Ham. Siapa dia? Simak kultwit berikut ini… 🙂

***

Potret si Raja Gula asal Semarang, Oei Tiong Ham.

Mampir ke toko buku mgkn Anda pernah tahu buku berjudul ‘Kisah Tragis Oei Hui Lan, Putri Orang Terkaya di Indonesia”... #OeiTiongHam Continue reading →

The Death Railway, Pekanbaru-Muaro Sijunjung (Bagian 1)

(Disusun oleh Omar Mohtar, mahasiswa Ilmu Sejarah UI 2010)

Tiga jalur kereta apa di Asia mendapat julukan “The Death Railway”. Pertama, adalah jalur kereta api Bangkok-Rangoon yang mempunyai panjang kurang lebih 415 Km. Kedua, jalur kereta api Saketi – Bayah di Banten, yang mempunyai jarak kurang lebih 89 Km. Kemudian yang ketiga dan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah jalur kereta api Pekanbaru – Muaro Sijunjung yang mempunyai jarak sekitar 220 Km. Ketiga jalur kereta api tersebut dibangun pada saat Jepang menguasai Asia Tenggara dalam kurun waktu tahun 1942 sampai dengan 1945. Ketiga jalur kereta api tersebut dibangun sebagai salah satu strategi dan cara tentara Jepang untuk mempertahankan, meluaskan daerah jajahan mereka, dan mempermudah eksploitasi sumber daya alam yang ada di Indonesia.

Jalur kereta api Pekanbaru – Muaro Sijunjung dibangun oleh Jepang bertujuan menghubungkan bagian barat Sumatera dengan bagian timur Sumatera untuk mempermudah perpindahan pasukan tambahan tentara Jepang yang didatangkan dari Singapura. Selain itu, tujuan lain dibangunnya jalur kereta api ini adalah sebagai salah satu cara untuk mengangkut batu bara dari Tapui menuju Pekanbaru untuk kemudian dibawa ke Singapura dengan kapal. Jepang bisa membangun jalur ini karena telah mempelajari arsip tentang rencana pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan pantai barat dan timur Sumatera yang tersimpan di Nederlands-Indische Staatsspoorwegen (Perusahaan Negara Kereta Api Hindia Belanda).

Pembangunan jalur kereta api Pekanbaru-Muaro Sijunjung dimulai pada bulan Maret 1943. Hampir sekitar 100.000 romusha yang dilibatkan dalam proyek maut ini. Sebagian besar didatangkan dari Jawa dan sisanya diambil dari penduduk sekitar serta dari Medan dan Bukittinggi. Ditambah lebih dari 5000 orang tahanan perang (Prisoner of War / POW) asal Amerika Serikat, Australia, Belanda, Selandia Baru, dan Inggris dilibatkan pula dalam pembangunan jalur kereta api yang selesai tepat saat Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 ini. Continue reading →

Batavia, Banjir Sejak Dahulu Kala…

(Disusun oleh Omar Mochtar, mahasiswa Ilmu Sejarah FIB UI)

Banjir dan Jakarta adalah dua hal yang sulit dipisahan. Semua orang pasti mafhum, banjir merupakan salah satu masalah yang dihadapi kota Jakarta sejak lama. Banjir besar pertama yang melanda Jakarta saat masih bernama Batavia tercatat pada tahun 1621. Beberapa hal yang menjadi sebab Batavia selalu dilanda banjir adalah letak Batavia yang sebagian besar wilayahnya berada lebih rendah daripada permukaan laut, curah hujan yang tinggi, kurang baiknya sistem drainase, dan tentu saja sampah. Seiring perjalanan waktu, banjir yang melanda Batavia semakin tahun semakin parah, awalnya banjir yang melanda Batavia hanya merendam kawasan pinggiran sungai-sungai besar yang mengalir di wilayah Batavia, namun lama kelamaan kota bagian tengah pun tak luput dari banjir.

Usaha pertama untuk menanggulangi banjir di Batavia pertama kali dilakukan oleh gubernur jendral VOC keenam, Gubernur Jenderal JP. Coen. Cara pertama yang dilakukan JP. Coen untuk menanggulangi banjir di Batavia dengan cara membagi aliran Sungai Ciliwung melalui pembangunan kanal-kanal seperti yang ada di negeri Belanda. Kanal-kanal itu dibuat untuk memperlancar aliran Sungai Ciliwung menuju Laut Jawa. Kanal-kanal yang dibangun di masa kolonial tidak hanya dibangun untuk membantu aliran air sungai-sungai yang melintasi Batavia, tetapi untuk sarana transportasi air di daerah Batavia. Misalnya saluran Ammanusgracht yang dibangun oleh Johannes Amanus pada tahun 1647 berguna untuk pengangkutan barang ke laut melalui Kali Angke. Continue reading →