Category Archives: Belajar Sejarah

Tradisi Lisan dan Dongeng Masyarakat Tentang Tsunami di Negeri Cincin Api

Artikel ini saya buat setelah mengikuti seminar dan pameran foto yang diadakan Kompas sebagai penutup dari Ekspedisi Cincin Api Kompas. Saya sendiri jujur, terlambat mengikuti dan membaca hasil liputan khusus yang terdapat di Kompas cetak edisi hari Sabtu terakhir di tiap bulan selama ekspedisi berlangsung. Ini terbukti, dari 12 edisi liputan khusus yang dicetak, saya hanya mempunyai 5 edisi, agak sedikit menyesal memang. Namun, setelah mengikuti seminar tentang Ekspedisi Cincin Api pada Rabu, 12 Desember 2012 akhirnya saya mempunyai seluruh edisi liputan khusus Ekspedisi Cincin Api. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim Ekspedisi Cincin Api Kompas, atas segala informasi yang diberikan dan semoga makin banyak masyarakat Indonesia yang mengerti bagaimana dan apa harus dilakukan ketika gempa yang bisa diikuti dengan tsunami melanda. Terima Kasih.

Para awak Ekspedisi Cincin Api berbagi pengalaman dan wawasan dalam seminar interaktif di Lobi gedung Kompas Gramedia.

Para awak Ekspedisi Cincin Api berbagi pengalaman dan wawasan dalam seminar interaktif di Lobi gedung Kompas Gramedia.

Agus M. Toh membawakan dongeng tentang Negeri Cincin Api. Dengan celotehnya suasana jadi cair.

Agus M. Toh membawakan dongeng tentang Negeri Cincin Api. Dengan celotehnya suasana jadi cair.

 

***

Indonesia merupakan negara yang terletak di pertemuan dua jalur pegunungan dunia. Dari barat terbentang jalur pegunungan Mediterania dan dari sebelah timur terdapar jalur pegunungan Pasifik. Hal itulah yang membuat Indonesia dijuluki sebagai ring of fire atau salah satu negara dengan jumlah gunung api aktif terbanyal di dunia. Continue reading →

DEMOKRASI ASLI INDONESIA DAN KEDAULATAN RAKYAT (Mohammad Hatta)

(Indonesia adalah negara demokrasi, itu jelas. Tapi yang jadi pertanyaan saat ini adalah demokrasi yang seperti apa? itulah yang tantangan yang dihadapi oleh generasi muda Indonesia saat ini. Generasi yang oleh Soe Hok Gie disebut sebagai “generasi pasca kemerdekaan”, generasi yang hanya mengetahui pembentukan negara ini dari buku-buku sejarah dan cerita orang tua. Dalam proses pemaknaan demokrasi ini kita seringkali terjebak dalam pemaknaan yang asal dan kurang ilmiah. Dan ternyata hal ini telah terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka. Adalah seorang Bung Hatta, sesepuh bangsa yang terkemuka, menjawab polemik ini dalam Daulat Ra’jat edisi 10 Januari 1932. Lewat karangannya ini Bung Hatta menjawab sebuah karangan karya Si Rakyat yang di muat dalam Persatoean Indonesia nomor 109. Menurut Bung Hatta, Si Rakyat dalam karangannya itu terlalu mentah dalam memahami demokrasi. Si Rakyat dianggap hanya menelan mentah-mentah demokrasi ala Barat tanpa melibatkan realitas ke-Indonesiaan kala itu. Agaknya, isi karangan Bung Hatta ini masih relevan untuk sama-sama kita jadikan bahan renungan dalam pemaknaan “demokrasi yang Indonesia”. Dalam tulisan ini saya hanya mengubah ejaan dan memberikan beberapa keterangan yang sekiranya perlu agar menghindari kerancuan. Selamat membaca!)

 ***

Dalam majalah Persatuan Indonesia No. 109 Si Rakyat menulis perkara demokrasi. Ia mencela demokrasi impor yang “tentu tinggal demokrasi impor, atinya tidak (bercirikan, red.) kebudayaan kita”. Dan juga ia menolak cita-cita Volkssouvereiniteit. Itu sama sekali barang impor saja dan “boleh kita buang”. Di sini ia menyindir asas pergerakan kita, karena kita memakai dasar Kedaulatan Rakyat, yaitu Volkssouvereiniteit dengan kata Belanda. Akhirnya ia menulis, “Kedemokrasian ada keyakinan keadilansegenap bangsa Indonesia, bukan keyakinan impor cap Volkssouvereiniteit atau lain, melainkan keyakinan Indonesia sejati. Keyakinan ini mesti menjadi semboyan segala partai-partai Indonesia, dan mesti menjadi dasar susunan Indonesia Merdeka yang akan datang”.

Demokrasi Asli Sampai Kepada Kedaulatan Rakyat

Kita senantiasa suka membaca kritik-kritik, karena berkat kritik itu kita dapat memperdalam pemahaman kita, memperkuat sendi asas kita dan memperbaiki pendirian kita. Persoalan tentang Demokrasi Asli Indonesia tentu akan kita hargai benar, karena kita juga mau menyusun Perumahan Indonesia Merdeka di atas dasar demokrasi yang terdapat dalam pergaulan hidup yang asli di Indonesia. Sebelumnya Si Rakyat tahu membuka mulut dalam hal politik, kita sudah menyatakan keyakinan kita itu dalam kitab perlawanan kita, yang bernama Indonesia Vrij, terbit di tahun 1928. Di dalamnya kita sebut tiga pasal yang akan kita pakai sebagai sendi Perumahan Indonesia Merdeka. Pertama, cita-cita Rapat (musyawarah, red) yang hidup dalam sanubari rakyat Indonesia dari zaman dahulu sampai sekarang dan tak luput (hilang atau luntur, red.) karena tindasan yang pelbagai rupa. Kedua, cita-cita massa-protest, yaitu hak rakyat untuk membantah dengan cara umum segala peraturan negeri yang dipandang tidak adil. Inilah yang menjadi dasar tuntutan kita, supaya mendapat kemerdekaan bergerak dan berkumpul bagi rakyat! Ketiga, cita-cita tolong-menolong. Sebab itulah, maka semenjak tahun 1925 kita tidak puas membuat propaganda untuk koperasi, sebagai dasar perekonomian Indonesia.

Dasar-dasar demokrasi yang terdapat dalam pergaulan hidup asli di Indonesia kita pakai sebagai sendi politik kita. akan tetapi kita insyaf akan pertukaran zaman, insyaf bahwa dasar-dasar yang ada dahulu itu tidak mencukupi sekarang untuk menyusun Indonesia Merdeka yang berdasar demokrasi. Sebab itu asas-asas asli itu harus dicocokkan dengan kehendak pergaulan hidup sekarang, harus dibawa ke  atas tingkat yang lebih tinggi. Pendeknya, diluaskan lingkarannya dan dilanjutkan tujuannya!

Dalam memperluas itu kita sampai kepada teori Kedaulatan Rakyat! Ini bukan suatu barang impor, satu tiruan dari teori Volkssouvereiniteit, yang kembang di Eropa Barat, yang berdasar individualisme (bersifat perseorangan). Dalam Daulat Rakyat No. 1 saya kira sudah cukup diterangkan, bahwa dasar Kedaulatan Rakyat Continue reading →