Tradisi Lisan dan Dongeng Masyarakat Tentang Tsunami di Negeri Cincin Api

Artikel ini saya buat setelah mengikuti seminar dan pameran foto yang diadakan Kompas sebagai penutup dari Ekspedisi Cincin Api Kompas. Saya sendiri jujur, terlambat mengikuti dan membaca hasil liputan khusus yang terdapat di Kompas cetak edisi hari Sabtu terakhir di tiap bulan selama ekspedisi berlangsung. Ini terbukti, dari 12 edisi liputan khusus yang dicetak, saya hanya mempunyai 5 edisi, agak sedikit menyesal memang. Namun, setelah mengikuti seminar tentang Ekspedisi Cincin Api pada Rabu, 12 Desember 2012 akhirnya saya mempunyai seluruh edisi liputan khusus Ekspedisi Cincin Api. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim Ekspedisi Cincin Api Kompas, atas segala informasi yang diberikan dan semoga makin banyak masyarakat Indonesia yang mengerti bagaimana dan apa harus dilakukan ketika gempa yang bisa diikuti dengan tsunami melanda. Terima Kasih.

Para awak Ekspedisi Cincin Api berbagi pengalaman dan wawasan dalam seminar interaktif di Lobi gedung Kompas Gramedia.

Para awak Ekspedisi Cincin Api berbagi pengalaman dan wawasan dalam seminar interaktif di Lobi gedung Kompas Gramedia.

Agus M. Toh membawakan dongeng tentang Negeri Cincin Api. Dengan celotehnya suasana jadi cair.

Agus M. Toh membawakan dongeng tentang Negeri Cincin Api. Dengan celotehnya suasana jadi cair.

 

***

Indonesia merupakan negara yang terletak di pertemuan dua jalur pegunungan dunia. Dari barat terbentang jalur pegunungan Mediterania dan dari sebelah timur terdapar jalur pegunungan Pasifik. Hal itulah yang membuat Indonesia dijuluki sebagai ring of fire atau salah satu negara dengan jumlah gunung api aktif terbanyal di dunia. Tercatat, di Indonesia terdapat sekitar 127 gunung api aktif yang dapat melepaskan energi kapan saja. Indonesia juga terletak di jalur pertemuan tiga lempeng besar dunia yaitu, Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Terletak di pusat tiga lempeng besar dunia membuat Indonesia sering dilanda gempa-gempa besar yang terkadang dapat memunculkan tsunami. Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia sendiri yang kurang peduli atau kurang banyak tahu tentang tsunami. Gempa besar memang sering melanda Indonesia, namun tidak selalu diikuti dengan munculnya gelombang tsunami.

Dalam ilmu sejarah, meski bukan sumber yang utama dipakai, tradisi lisan yang hidup di suatu masyarakat merupakan informasi penting. Tradisi lisan merupakan media komunikasi antar generasi yang digunakan masyarakat tradisional untuk mewariskan salah satu sistem pengetahuannya. Dalam konteks ini adalah sistem pengetahuan masyarakat tradisional tentang mitigasi bencana. Dan dalam seminar penutupan Ekspedisi Cincin Api Kompas kemarin, saya belajar tentang hal itu.

Dalam khazanah kebudayaan Indonesia, baik tsunami maupun gempa sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu. Khusus untuk tsunami, terdapat banyak mitos dan legenda yang menyertainya di berbagai wilayah. Di Barus misalnya, sebuah kota yang terletak di pantai barat Sumatera. Ada legenda yang berkembang bahwa kota yang dahulu pernah menjadi bandar pelabuhan besar ini hilang karena diserang oleh gergasi. Gergasi digambarkan sebagai suatu raksasa yang muncul dari laut yang membuat kota Barus hancur. Ada banyak perdebatan mengenai gergasi ini. Ada orang-orang yang menganggap bahwa gergasi ini merupakan tsunami yang pernah melanda Barus pada abad ke-12. Ada pula yang menganggap gergasi ini adalah bajak laut yang pada saat itu marak di pantai barat Sumatera yang kemudian menyerang Barus dan membuat Kota Barus menjadi hancur.

Di pantai selatan Jawa, kita akan menemui hal yang berbeda terkait tsunami. Ada sebagian masyarakat yang menganggap tsunami yang melanda daerah pantai selatan Jawa ada hubungannya dengan keberadaan Nyi Roro Kidul. Ahmad Arif, ketua tim ekspedisi cincin api pada seminar yang diadakan oleh Kompas di Gedung Kompas Gramedia pada 12 Desember 2012 lalu menjelaskan bahwa telah ada babad yang mencatat tentang tsunami yang terjadi di selatan Jawa. Babad ing Sangkala, berisi tentang bagaimana tanda-tanda dan terjadinya sebuah bencana dan apa yang harus dilakukan masyarakat untuk bisa bertahan hidup. Tsunami yang melanda selatan Jawa selalu dikait-kaitkan dengan datangnya pasukan berkuda Nyi Roro Kidul yang hendak keluar dari dalam laut. Sejarawan UGM, Bambang Purwanto juga mengungkapkan pemikirannya untuk menggali sumber-sumber lokal terkait dengan Nyi Roro Kidul dan sejarah gempa di pantai selatan Jawa. Bambang Purwanto dalam salah satu laporan ekspedisi cincin api Kompas edisi Hikayat Smong Penjaga Hayat juga menambahkan jika masyarakat Jawa pada masa lalu sudah menitip pesan agar manusia peka melihat alam.

Fenomena alam selalu digunakan orang Jawa untuk menandai perubahan zaman. Misalnya goro-goro dalam pertunjukan wayang, gunung jugrug, segoro asat, (gunung meletus dan lautan kering.” Bambang Purwanto, sejarawan UGM.

Berbeda lagi dengan cerita berasal dari Kepulauan Simeulue. Kepulauan yang terletak di pantai barat Sumatera ini mempunyai benteng yang kokoh untuk menjaga penduduknya dari bahaya tsunami. Benteng kuat nan kokoh itu adalah hikayat smong tahun tujuh. Sebuah cerita turun temurun yang selalu diceritakan kepada anak-anak sebagai dongeng pengantar tidur. Dalam salah satu laporan tim ekspedisi cincin api Kompas, didokumentasikan bagaimana hikayat Smong diceritakan oleh salah seorang penduduk Simeulue. Nenek Rukiah, yang kini berusia sekitar 110 tahun. Nenek Rukiah merupakan salah satu orang di Simeulue yang merasakan dua tsunami dahsyat yang melanda pantai barat Sumatera pada tahun 1907 dan 2004 lalu. Hikayat Smong sendiri berasal dari peristiwa kelam yang melanda Simeulue pada tahun 1907. Simeulue memang daerah yang sering dilanda gempa, namun suatu hari di tahun 1907 gempa yang datang diikuti dengan tsunami hebat, membuat masyarakat di daerah Simeulue menjadi trauma karena memakan jumlah korban yang sangat banyak. Dalam salah satu artikel di laporan ekspedisi cincin api Kompas disebutkan salah satu isi dari hikayat Smong tahun tujuh

Mak Jadah selalu bercerita jika terjadi linon (gempa) besar lalu air laut surut. Segeralah lari ke bukit. Tinggalkan harta benda karena setelah itu akan datang smong.” Nenek Rukiah.

Dari kutipan hikayat smong tahun tujuh di atas, dapat terlihat ciri tsunami yang ada di dalam cerita memang benar ciri-ciri gejala alam yang terjadi sebelum tsunami. Jika pada tahun 1907 banyak masyarakat Simeulue yang menjadi korban tsunami, hal yang berbeda terjadi pada tsunami tahun 2004. Ketika itu, jumlah masyarakat Simeulue yang meninggal hanya tujuh orang. Banyak orang yang ingat dengan hikayat smong tahun tujuh, sehingga setelah gempa dan melihat air laut surut penduduk banyak yang berlari ke atas bukit, meninggalkan segala harta benda.

Masih dari hasil laporan Ekspedisi Cincin Api Kompas lainnya, kali ini dari daerah Kepuluauan Nias. 24 November 1833 gempa berkekuatan 8,9 SR mengguncang pantai barat Sumatera yang diikuti dengan tsunami. Pada sat itu, M. Saleh berdagang di Pulau Tello, Kepulauan Nias, menceritakan dalam bukunya seperti yang dijelaskan oleh Gusti Asnan, sejarawan Universitas Andalas.

Setelah ada gempa, orang-orang lari pergi ke arah bukit dekat pasar. Rumah dan uang diabaikan keberadaannya, tidak dihiraukan, tidak terpikir akan hilang atau rugi. Orang hanya hendak menyelamatkan diri masing-masing.” M. Saleh (Datuk Orang Kaya Besar) – Riwajat Hidoep dan Perasaian Saja.

Dari catatan yang ditulis M. Saleh, kita dapat mengetahui bahwa masyarakat di Pulau Tello telah tahu jika gempa mengguncang, gelombang laut besar akan datang setelah gempa. Hampir mirip seperti apa yang dilakukan oleh masyarakat Simeulue dan hikayat smong tujuh-nya.

Di Indonesia bagian timur, terdapat catatan yang menceritakan bagaimana gempa yang kemudian diikuti oleh tsunami menghancurkan pulau Seram dan Ambon. 17 Februari 1674, gempa besar yang diikuti oleh tsunami menerjang Pulau Seram dan Ambon. Catatan tentang gempa pada tahun itu ditulis oleh seorang naturalis asal Jerman Georg Eerhard Rumphius. Dalam catatan itu Rumphius menceritakan bagaimana kondisi desa-desa di daerah Pulau Seram dan Ambon saat tsunami menerjang.

Begitu gempa mulai menggoyang, seluruh garnisun, kecuali beberapa orang yang terperangkap di atas Benteng Amsterdam, mundur ke lapangan di bawah benteng, menyangka mereka akan lebih aman. Akan tetapi, tidak ada orang yang menduga bahwa air akan naik ke beranda benteng.” Georg Eerhard Rumphius.

Kejadian ini menyebabkan 2.322 orang di Pulau Ambon dan Seram tewas termasuk istri dan salah satu anak dari Rumphius. Desa-desa yang paling parah akibat kejadian itu, pada umumnya terletak di daerah pesisir Ambon dan Seram. Catatan Rumphius tentang gempa dan tsunami Ambon dan Seram ini sekarang disimpan di Perpustakaan Kerajaan Belanda, di Den Haag.

Indonesia merupakan negara yang rawan gempa yang bisa mengakibatkan tsunami. Diperlukan suatu pengetahuan bagi masyarakat terutama yang tinggal di daerah pesisir pantai yang rawan gempa dan tsunami tentang hal itu. Hal itu tidak lain hanya untuk menekan jumlah korban agar tidak banyak menimbulkan korban jiwa. Dari laporan-laporan Ekspedisi Cincin Api Kompas yang dilakukan mulai September 2011 hingga September 2012, setidaknya kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Dalam laporan yang berjudul “Tsunami, Hikayat Smong Penjaga Hayat” dapat diketahui bahwa sudah ada masyarakat pesisir yang tinggal di daerah rawan gempa mengerti bagaimana dan apa yang harus dilakukan jika gempa mengguncang wilayahnya. Hal itu terjadi karena masih ada tradisi lisan yang membentengi pikiran mereka di saat benteng-benteng alam untuk memecah gelombang seperti Hutan Bakau mulai banyak berkurang. Dari tradisi lisan tersebut hendaknya kita juga dapat bersiap untuk tsunami yang dapat melanda Indonesia kapan saja. (Omar Mohtar)

Berfoto bersama rombongan UI usai acara. Dua kontributor Sejarawan Muda jongkok di baris depan, Omar Mohtar (kiri) dan Fafa Firdausi.

Berfoto bersama rombongan UI usai acara. Dua kontributor Sejarawan Muda jongkok di baris depan, Omar Mohtar (kiri) dan Fafa Firdausi.

Feature terkait juga bisa di baca di sini.

5 responses

  1. salam kak..
    saya pelajar kelas xi yg benar2 suka sama sejarah.. sya punya rasa ingin tahu yg tinggi tentang sejarah. terutama sejarah indonesia.

    saya mau minta tolong kak, bisa kakak share tentang sejarah nusantara yg ada di kitab babad tanah jawa seri 1 ? karena saya mencari di perpustakaan daerah tempat tinggal saya buku itu tidak ada. mungkin kakak pernah membaca nya ?

    1. Kebetulan sekilas pernah juga baca Babad Tanah Jawi. Klo mau nulis tentang babad itu tentu saya harus baca lengkap dulu n riset. Hehe.. butuh waktu juga, tapi insyaAllah jika ada kesempatan akan saya bahas.

  2. salam kak
    saya pelajar kelas XI. saya suka sekali dengan sejarah. semua sejarah saya sukai.
    bisa dibilang saya punya rasa ingin tau yg tinggi terutama pada sejarah nusantara. bisa kakak share tentang sejarah yg terdapat di kitab babad tanah jawa seri 1 ? saya sudah mencari buku itu. di perpusda tempat saya tinggal tidak ada.. mungkin kakak sudah pernah membacanya .. mohon bantuannya kak

  3. salam kak? Saya kelas XI Aliyah. Saya gilak banget sama yang namanya sejarah. Sampek kemarin saya diskusi sama guru (yang sama sama gilaknya) tentang teori Indonesia yang merupakan pusat peradaban dunia. tentang nabi Adam As yang hidupnya berbarengan dengan manusia purba. Bahkan mengkaitkan antara banjir nabi Nuh dengan Atlantis. Sungguh, kalau ada waktu.. kita bisa sharing saya sng banget.. ^_^.. bahan bacaan saya aja udah saya jumlahin smua harganya.. uda 2 jtan lebih hanya untuk sejarah aja..

    1. Salam kenal Yoga, keep moving forward!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: