Bonivasius Margono, Berkarya di Jalan Sunyi

Sebuah potret B. Margono yang dipajang dalam pameran karya-karyanya di Bentara Budaya Yoyakarta, 2010 (diambil dari ANTARA).

Barangkali sekarang ini tidak terlalu banyak orang yang mengenal sosok B. Margono. Bahkan seniman-seniman terkenal sekarang belum tentu mengenalnya. B. Margono memang tidak hadir ke tengah-tengah hiruk pikuk dunia seni Indonesia dengan karya seni rupa yang monumental atau spektakuler. B. Margono juga telah lama meninggal dunia sehingga kini kita tak akan melihat karya-karya barunya. Tapi di masa lalu, dalam tingkatan tertentu, karya-karya sederhana B. Margono pernah menjadi sangat akrab dengan masyarakat di Hindia Belanda. Bagi pembaca majalah Kedjawen dan buku-buku pengajaran terbitan Balai Pustaka pastilah tidak asing dengan ilustrasi-ilustrasi karya beliau.

B. Margono memiliki nama lengkap Raden Bonivasius Margono Darmo Pusoro adalah seorang ilustrator bagi terbitan-terbitan Balai Pustaka dan beberapa iklan koran pada masa Hindia Belanda. Ketika B. Margono hidup dan aktif berkarya, Indonesia sebagai sebuah negara bangsa yang merdeka belum ada. Karena itulah namanya tak banyak dikenal publik secara luas. Lagi pula semasa beliau masih hidup tak pernah sekalipun mengadakan pameran tunggal secara khusus. Karya-karya ilustrasinya telah terdokumentasi dan tersebar dalam majalah, buku-buku pengajaran terbitan Balai Pustaka atau pada koran-koran sebagai iklan produk. Satu-satunya pameran yang memajang karya-karyanya secara khusus bahkan tidak diprakarsai oleh keluarganya, melainkan oleh Bentara Budaya Yogyakarta (selanjutnya disebut BBY).

Mengambil tajuk ‘Seporet’, BBY mengadakan pameran karya-karya ilustrasi B. Margono pada 13-21 Juli 2010 lalu. Sekitar 150 karya ilustrasi goresan tangan beliau dipamerkan kepada khalayak ramai. Yang unik dari karya-karya ilustrasi B. Margono adalah konsistensinya menampilkan budaya Jawa sebagai objek. Lebih spesifik lagi karya-karya beliau didominasi oleh gambar tokoh Patruk dan Gareng, sesekali juga bersama Semar, tokoh-tokoh wayang yang populer di kalangan masyarakat. B. Margono menampilkan Petruk dan Gareng tidak dalam imaji wayang purwa sebagaimana biasa, namun memberinya dinamika dan suasana keseharian. Petruk dan Gareng sering tampil dengan balutan beskap dan kain lengkap dengan rokok kreteknya. Kadang Petruk dan Gareng hadir dalam busana sederhana khas petani desa kebanyakan. Bahkan ada imaji Petruk dan Gareng berpakaian ala eropa berjalan-jalan di Pasar Malam Gambir.

Ons Untoro berpendapat bahwa B. Margono merupakan salah satu peletak dasar seni gambar ilustrasi di Indonesia. Gambar-gambarnya sederhana dan mudah dipahami. Selain itu jika dinilai dari aspek teknis gambar-gambar B. Margono terbilang bagus. Sekali melihat orang awam tak perlu mengernyitkan dahi berpikir keras untuk menikmati dan memahami gambarnya. Ilustrasi-ilustrasinya pun dibuat realis dalam artian menggunakan masyarakat dan dinamikanya sebagai objek. Inilah arti penting karya-karya B. Margono. Dengan sangat baik B. Margono merekam dinamika masyarakat di masa lalu layaknya sebuah rekaman sejarah.

 

Perjalanan Hidup & Proses Kreatif

Berdasarkan penuturan putra beliau kepada Hermanu, salah seorang pengelola BBY, B. Margono merupakan sulung dari sepuluh bersaudara. Lahir pada 12 Februari 1901 di Ngadinegaran, Kota Yogyakarta. Ayahnya yang bernama Raden Tanda Saputra adalah seorang abdi dalem kraton Yogyakarta. Menamatkan belajar di Normal School Muntilan. Begitu lulus, B. Margono bekerja sebagai guru di sekolah Ongko Loro Ganjuran, Bantul pada Onderneming pabrik gula. Pada 1923 B. Margono pindah mengajar ke Buitenzorg (Bogor) pada sebuah sekolah Onderneming perkebunan karet. Lalu pada 1931 pindah lagi ke Batavia dan menetap di sana hingga pensiun.

Di Batavia inilah B. Margono bertemu dengan kawan lamanya yang baru pulang belajar dari Jepang, W.J.S. Purwadarminta. Purwadarminta-lah yang pertama kali mengajak B. Margono masuk ke Balai Pustaka dan memulai profesi baru sebagai ilustrator. Hal ini setelah Purwadarminta melihat bakat B. Margono dalam menggambar. B. Margono menyambut ajakan itu dan bergabung bersama dengan ilustrator-ilustrator Balai Pustaka yang sudah punya nama seperti D.S. Tanto, Kamil, Barli, Surya, dan Ardi Soma. Meskipun demikian, B. Margono tidak serta merta menjadi ilustrator tetap dalam keredaksian Balai Pustaka.

Kesempatan menjadi ilustrator tetap baru ia dapatkan setelah redaksi majalah Kedjawen, majalah berbahasa Jawa terbitan Balai Pustaka, memuji karyanya yang tampil dalam rubrikRembagipun Petruk lan Gareng. Sebelumnya ilustrasi untuk rubrik tersebut lebih dulu diisi oleh D.S. Tanto. Namun karena secara teknis ilustrasi karya B. Margono bisa dikatakan lebih bagus daripada goresan D.S. Tanto. Sejak itulah beliau menjadi ilustrator tetap di majalah tersebut hingga tahun 1941. Karya-karya B. Margono sangat terkenal dan ikonik dengan menampilkan Petruk dan Gareng, terkadang juga Semar, dalam suasana realitas sehari-hari.

Petruk yang senantiasa menjadi ikon B. Margono.

Ons Untoro, dalam tulisannya di laman tembi.org, menuturkan bahwa karya-karya B. Margono memiliki nilai sebagai sebuah rekaman sejarah. Dalam karya-karya ilustrasinya B. Margono memang banyak sekali memasukkan unsur-unsur budaya dan realitas sosial sezaman. Inilah yang membuat karyanya otentik. Sebagai contoh B. Margono pernah menggambar ilustrasi Petruk dan Gareng yang sedang berjalan-jalan menikmati suasana Pasar Malam Gambir. Di lain kesempatan Petruk dan Gareng ditampilkan dalam balutan uniform khas militer kala Hindia Belanda mulai dibayang-bayangi perang dengan Jepang. Tak jarang pula Petruk dan Gareng ditampilkan dalam balutan busana priyayi atau meneer Belanda. Karena itulah karya-karya B. Margono otentik untuk melihat kembali realitas sodial-budaya pada masa akhir kolonial Hindia Belanda.

Kuss Indarto menilai kekuatan karya-karya B. Margono secara lebih teknis. Menurut Kuss Indarto, titik menarik dari karya B. Margono adalah ketekunan dan ketelitiannya untuk mengguratkan garis monoton (dengan satu tone) pada tiap panil gambar. Lewat goresan garis vertikal, horisontal, atau diagonal tersebut B. Margono memberi impresi sebuah ruang tiga dimensi yang hidup. B. Margono juga dinilai piawai menghadirkan citra Petruk dan Gareng yang akrab di mata publik sebagai sosok wayang dua dimensi menjadi Petruk dan Gareng yang mempribadi. Dalam karya-karya ilustrasinya untuk rubrikRembagipun Petruk lan Gareng, B. Margono menampilkan profil kedua tokoh ponokawan itu dalam wujud manusia yang bertubuh dan hidup dalam ruang. Ditambah dengan atribut-atribut sosial-budaya sezaman, B. Margono menjadikan dua sosok wayang ini hadir dalam realitas sehari-hari.

Dengan kreatifitasnya wayang Petruk dan Gareng seakan-akan dihadirkan oleh B. Margono dalam kehidupan sehari-hari.

Diakui oleh putra beliau, Mursumarwan, bahwa sosok B. Margono memang lekat dengan profil Petruk yang digambarnya. B. Margono berperawakan jangkung dan berhidung mancung, mirip dengan citra Petruk. Kepiawaian menggambar B. Margono juga bisa dikatakan mumpuni. Mursumarwan menuturkan bahwa ayahnya mampu menggambar dengan kedua tangannya secara bersamaan. Saat menyelesaikan sebuah karya ilutrasi pun B. Margono tidak terlebih dahulu membuat sketsa. Beliau langsung menggambarnya dan diselesaikan saat itu juga.

Memasuki paruh akhir dekade 1930-an, keadaan Batavia mulai menunjukkan gejolak. Ancaman perang dengan Jepang mulai terindikasi dan cepat atau lambat mesti dihadapi Hindia Belanda. Pada 1939 akhirnya B. Margono memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, Yogyakarta. Dengan pesangon yang lumayan besar B. Margono membangun sebuah rumah yang cukup bagus untuk ukuran zaman itu di Gang Nakula, Ketanggungan, Wirobrajan. Di Yogyakarta B. Margono tidak lantas meninggalkan kesukaannya pada dunia seni. Beliau memilih bekerja sebagai guru menggambar di sekolah-sekolah seperti di HIS Ngupasan, Tungkak, Gayam, dan Mangkukusuman. Selain itu beliau juga aktif di Yayasan Kanisius dan menjadi ilustrator di majalah Taman Putera dan koran Sinar Matahari. B. Margono terkenal dengan julukan Om Gono.

Pada masa pendudukan Jepang, B. Margono sempat mengajar di SMEP dan SGP di Gondokusuman. Ketika zaman kemerdekaan B. Margono banyak bergaul dengan seniman-seniman senior seperti R.J. Katamsi, Abdul Salam, Jayeng Asmoro, dan Hendro Djasmoro. Bersama-sama dengan seniman-seniman itu beliau turut membidani berdirinya Akademi Seni Rupa Indonesia. Namun, beliau tidak sempat turut mengajar karena terkendala ijazah yang hanya tingkatan normal school. Kemudian B. Margono memilih meneruskan belajarnya di UGM dan tertarik pada bahasa Sansekerta. Pada tahun 1955 B. Margono akhirnya pensiun dari dunia mengajar.

Di masa-masa akhir hidupnya beliau sempat mengerjakan sebuah buku yang ia beri judul Metode Menggambar. Namun karena kesehatannya terus memburuk buku tersebut tak pernah terselesaikan dan hanya tersimpan dalam bentuk draft-draft gambar. Oleh karena serangan jantung akut yang dideritanya, pada 10 April 1959 B. Margono meninggal dunia di rumah sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

 

Tidak Pernah Masuk Galeri

Dalam buku IlustrasiKaryaB.Margono:SEPORET1931-1955 yang disusun oleh Hermanu, terdapat bagian yang menampilkan karya-karya B. Margono. Meski tidak secara eksplisit disebutkan adanya klasifikasi terhadap karya-karyanya, dalam buku tersebut ilustrasi-ilustrasi B. Margono telah dibagi-bagi menurut medianya. Hampir secara konsisten B. Margono menggambar tokoh Petruk dan Gareng dalam tahun-tahun produktifnya. Karena itulah tidak mungkin kita mengklasifikasi karya-karya beliau berdasarkan perkembangan tahun atau tema. Dan lagi B. Margono semasa hidup tak pernah berpameran.

Karena hal itulah, dalam buku ini karya-karya B. Margono ‘diklasifikasi’ berdasarkan media tempat karyanya muncul. Selain sebagai ilustrator tetap di majalah Kedjawen, B. Margono juga bekerja Balai Pustaka dan sesekali menggarap proyek iklan. Karya ilustrasi juga sebenarnya bukanlah sebuah karya seni yang idenya murni dari kreatornya. Ilustrasi bermaksud memvisualisasikan ide tulisan kedalam bentuk yang lebih hidup. Karena itulah perkembangan tema dalam karya B. Margono tidak terlihat. Lebih mudah kita melihat karya-karya B. Margono berdsarkan media tempat karya itu dipublikasikan. Dalam buku ini sendiri Hermanu mengklasifikasikan karya-karya B. Margono dalam empat kategori, yaitu:

  1. Ilustrasi untuk rubrikRembagipun Petruk lan Garengdi majalah Kedjawen.
  2. Ilustrasi untuk rubrik Cerkak atau CeritaCekak di majalah Kedjawen.
  3. Ilustrasi untuk buku-buku pengajaran.
  4. Ilustrasi untuk iklan produk.

 ***

B. Margono mungkin bukan seniman terkenal. Beliau tidak akan mampu menyamai kemasyuran nama Raden Saleh, Affandi, Sudjojono, atau Joko Pekik. Karya-karyanya pun bukan karya yang spektakuler. B. Margono ‘hanya’ seorang ilustrator yang sepenuhnya menggambar untuk memvisualisasikan sebuah ide dalam tulisan. Namun bukan dalam segi itu kita menilai ketokohan B. Margono.

B. Margono sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ons Untoro dan Kuss Indarto pada bagian sebelumnya, memiliki peran khusus dalam dunia seni ilustrasi Indonesia. Bukan lewat karya dengan tema yang spektakuler, tapi dengan konsistensinya mengangkat unsur-unsur sosial-budaya masyarakat dalam setiap karyanya. Ikon Petruk dan Gareng kiranya cukup menjadi bukti hal tersebut. Memilih wayang sebagai objek karyanya membuat karya-karya B. Margono membumi dan dekat dengan masyarakat. Selain lewat ikon Petruk dan Gareng pun B. Margono setia menggambar suasana masyarakat, kota maupun desa, dengan sama konsistennya. Itulah sumbangan besar B. Margono bagi perjalanan sejarah seni ilustrasi di Indonesia. (Fafa Firdausi)

One response

  1. R.M Margono yang sekarang namanya diabadikan sebagai nama salah satu nama gedung di fakultas Ilmu Budaya UGM🙂

    makasih infonya mas🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: