Mooi Spoorwegen op Vorstenlanden

Kereta api, merupakan sarana transportasi massal yang kehadirannya dirasa penting bagi negara dengan penduduk besar seperti Indonesia. Jumlah daya angkut manusia, waktu tempuh yang relatif lebih cepat dibanding transportasi darat lainnya, anti macet, dan harga tiket yang lumayan terjangkau merupakan contoh beberapa kelebihan kereta api dibandingkan dengan moda transportasi darat lain.

Kantor pusat NISM di Semarang, sekarang kita mengenalnya dengan sebutan Lawang Sewu.

Hadirnya kereta api di Indonesia, berawal dengan berdirinya perusahaan swasta NV Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 27 Agustus 1863. Sekitar enam tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 10 April 1869, Pemerintah Hindia Belanda juga mendirikan perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS). Pendirian SS ini dilatarbelakangi adanya kesulitan dalam pembangunan jalur kereta, misalnya masalah finansial. Namun, ide pembangunan jaringan jalur kereta api telah dikemukakan oleh Kolonel JHR Van Der Wijk, seorang petinggi Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), pada 5 Agustus 1840, 23 tahun sebelum NISM didirikan. Menurut Kolonel JHR Van Der Wijk kereta api merupakan salah satu jalan keluar untuk mengatasi masalah pengangkutan dan akan sangat menguntungkan dalam bidang pertahanan. Ide awal yang ia rencanakan adalah pembangunan jalur kereta api Batavia-Surabaya melalui Yogyakarta dan Surakarta. Pemerintah Hindia Belanda menerima ide itu, tetapi jalur yang dibangun  malah  menghubungkan Semarang dengan Surakarta dan Yogyakarta.

NISM sendiri didirikan setelah mendapatkan izin dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Mr. L.A.J.W. Baron Sloet Van De Beele untuk membangun jalur Kemijen-Tanggung yang berjarak 26 km. Pembangunan jalur kereta api di Jawa, kemudian dilakukan pada 17 Juni 1864, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke- 52  Van De Beele. Jalur Kemijen-Tanggung selesai dan mulai dipergunakan pada 10 Agustus 1867. Jalur Kemijen-Tanggung ini kemudian diperpanjang hingga sampai Yogyakarta melalui Surakarta dan mulai dipergunakan pada 10 Juni 1872. Selesainya jalur baru ini sekaligus menandai masuknya kereta api untuk pertama kali ke wilayah Yogyakarta. Stasiun Lempuyangan kemudian dibuka dan diresmikan pada 2 Maret 1882. Semua jalur tersebut dikuasai dan dikelola oleh NV. NISM (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij / Perusahaan Kereta Api Hindia-Belanda).

Hadirnya kereta api di Surakarta membuat NISM pada tahun 1870 membangun sebuah stasiun di tanah milik Keraton Mangkunegaran. Di tanah yang berada di dekat pacuan kuda milik kerabat keraton di daerah Balapan itu kemudian berdiri sebuah stasiun yang sekarang dikenal dengan nama Solo Balapan (SLO). Stasiun Solo Balapan ini dibangun sebagai tempat penguasa Kasunan Surakarta Pakoeboewono X memberi sambutan kepada para Gubernur Hindia-Belanda yang datang ke wilayahnya sebelum dibawa menuju keraton. Pembangunan jalur kereta Tanggung, Surakarta, dan Yogyakarta menurut sejarawan UNS Dr. Yoyok Mugiyanto M.Si yang dimuat dalam Majalah Kereta Api edisi Juni 2012 adalah untuk melancarkan kepentingan diplomasi pemerintah Hindia Belanda. Beberapa tahun kemudian, kepentingan diplomasi ini berubah menjadi kepentingan untuk angkutan manusia, terutama ketika Staats Spoorwegen mulai menguat dan berhasil membuat jaringan jalur kereta api di seluruh Jawa.

Stasiun lain di Surakarta yang dibangun setelah adanya jalur kereta api Surakarta-Yogyakarta adalah Stasiun Purwosari. Stasiun ini dibangun oleh NISM pada 1875, tiga tahun setelah selesainya jalur kereta api Surakarta-Yogyakarta. Stasiun ini merupakan pintu masuk kereta api  ke wilayah Surakarta dari arah barat, Yogyakarta. Di stasiun Purwosari, terdapat jalur kereta api menuju ke arah Wonogiri yang dibangun pada tahun 1922. Tidak hanya terdapat jalur menuju Wonogiri, jalur menuju Boyolali pun sempat ada di stasiun ini. Jalur menuju Boyolali digunakan untuk memperlancar pengangkutan hasil produksi pabrik seperti pabrik tembakau dan gula. Jika jalur Purwosari-Wonogiri masih aktif sampai saat ini, nasib sebaliknya dialami jalur Purwosari-Boyolali yang sudah tidak lagi aktif dan hilang.

Pakubuwono X menyambut Gubernur Jendral De Jonge di Surakarta.

Selepas dari Surakarta, disepanjang jalur kereta menuju Yogyakarta juga dibangun beberapa stasiun kecil yang berguna untuk mengangkut penumpang, hasil bumi dan hasil produksi kerajinan masyarakat di masanya. Stasiun Delanggu misalnya, yang dibangun pada tahun 1884. Stasiun ini pada masa kolonial digunakan sebagai tempat pengangkutan hasil panen beras dari wilayah sekitar daerah Klaten bagian utara. Tidak hanya hasil panen beras yang diangkut dari stasiun ini, karung goni hasil produksi masyarakat di daerah ini pun demikian. Karung goni ini dibuat sebagai tempat untuk hasil panen beras dan gula, baik di Klaten maupun di seluruh Jawa. Lebih ke barat, akan ditemui stasiun yang terletak berada di titik tengah jalur Surakarta-Yogyakarta, stasiun Klaten. Stasiun ini dibangun hampir bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api Surakarta-Yogyakarta.

Stasiun Srowot.

Stasiun Srowot, merupakan sebuah stasiun kereta api yang dibangun tahun 1920 yang mempunyai fungsi hampir sama dengan stasiun Delanggu. Stasiun ini pada awalnya terhubung dengan pabrik gula Gondang Winangoen yang dibangun oleh N.V. Klatensche Cultur Maatschappij pada 1860. Jalur menuju pabrik gula Gondang Winangoen saat ini telah tidak aktif lagi. Namun, beberapa lokomotif yang dahulu bertugas menarik gerbong ketel yang berisi hasil produksi pabrik masih tersimpan di museum gula wisata agro Gondang Winangoen. Lokomotif-lokomotif tersebut adalah lokomotif uap buatan Ornestein & Koppel tahun 1896 dan 1901, serta loko diesel Ajak Deutz buatan Jerman tahun 1905. Lokomotif uap Ornestein & Koppel yang dibuat tahun 1896 mempunyai nama ‘si mbah’ karena merupakan loko tertua dan paling lama digunakan pabrik.

Masuk wilayah Yogyakarta, ada beberapa stasiun kecil sebelum sampai di stasiun akhir jalur Surakarta-Yogyakarta yang dibangun NISM. Salah satu stasiun kecil itu adalah stasiun Maguwo, yang dibangun hampir bersamaan dengan pembangunan jalur Surakarta-Yogyakarta pada 1872. Stasiun akhir jalur yang dibangun NISM ini adalah stasiun Lempuyangan yang resmi digunakan pada 2 Maret 1872. Sebelum dibangunnya stasiun Tugu oleh Staats Spoorwegen yang diresmikan pada 2 Mei 1887, stasiun Lempuyangan merupakan stasiun utama di wilayah Yogyakarta. Stasiun ini pada awalnya dibangun bertujuan untuk melancarkan diplomasi pemerintah Hindia Belanda dengan penguasa lokal dan mendistribusikan hasil perkebunan yang ada di wilayah Yogyakarta ke wilayah lain. (Omar Mohtar)

Sumber Buku:

Tim Telaga Bakti Nusantara. Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid I. Bandung : Penerbit Angkasa.

Majalah Kereta Api edisi 71, Juni 2012.

Majalah Kereta Api edisi 52, November 2010.

Sumber Internet:

http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0701/29/dar10.htm

http://oase.kompas.com/read/2011/07/21/10045816/Sejarah.Kereta.Api.di.Indonesia

http://seputarsemarang.com/tonggak-tonggak-sejarah-perkeretaapian-indonesia/

http://wisataagro9.com/service.php?hal=6&sub=24

http://gudangarkeologi.blogspot.com/2012/05/latar-sejarah-jalur-kereta-api.html

http://www.semboyan35.com/showthread.php?tid=5110&page=2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: