#Nitisemito

Melalui kultwit ini saya coba untuk mengapresiasi jasa-jasa HM Nitisemito yang telah merintis industri kretek nasional yang mandiri. Kretek Koning van Koedoes (Belanda: Raja Kretek dari Kudus) ini terbilang sukses dengan jalan ‘nyeleneh’. Kebanyakan bumiputra pada awal abad ke-20 lebih suka merintis karir jadi ambtenaar dengan gaji lumayan ketimbang jadi pengusaha. Tapi Nitisemito malah menjemput kemapanan dengan menjadi pengusaha mandiri. Nitisemito setidaknya telah membuktikan bahwa kaum bumiputra tak kalah dengan para tuan-tuan tanah Belanda dan saudagar-saudagar Tionghoa.

Sekaligus pula kultwit ini mencoba untuk mengimbangi wacana-wacana penggalang gerakan anti-tembakau yang akhir-akhir ini marak. Kretek nyatanya tak hanya soal kesehatan belaka. Kretek juga bicara soal budaya dan perekonomian pula. Berikut ulasannya…

***

Lukisan potret HM Nitisemito, Kretek Koning van Koedoes.

Masa penjajahan Belanda sering diidentikkan dgn kemelaratan & ketertindasan, pun di bidang ekonomi. #Nitisemito

Terlebih ketika masa kolonial memasuki masa liberalisasi ekonomi di mana modal swasta asing membanjir masuk Hindia Belanda. #Nitisemito

Tuan2 tanah Londo & saudagar2 Tionghoa mantap mengambil peran sebagai pemain2 utama ekonomi Hindia Belanda. #Nitisemito

Kaum bumiputra, the sons of soils Nusantara, dianggap hanya org2 pinggiran yg kolot & tradisional. #Nitisemito

Para pangreh praja pun telah dilenakan dgn gaji & jabatan mapan, membuat mereka ‘nggak ngeh’ terhadap peluang ekonomi yg ada. #Nitisemoto

Di saat itulah #Nitisemito mengambil perannya sebagai ‘pembeda’ & penjawab tantangan di tengah apatisme ekonomi kaum bumiputra.

Sebagian kita mengenal #Nitisemito sebagai ‘Kretek Koning van Koedoes’, Raja Kretek dari Kudus. Berkat beliaulah…

…usaha kretek yg asalnya hanya skala home industry berkembang jauh menjadi industri massal yg besar & punya daya saing. #Nitisemito

Adl seorang Roesdi, putra asli Kudus kelahiran Desa Jagalan 1863, yg awalnya berinisiatif utk cari peruntungan dr usaha dagang. #Nitisemito

Roesdi, nama muda #Nitisemito , enggan meneruskan pekerjaan mapan ayahnya sbg ambtenaar. Awalnya ia jd penjahit.

Lalu Roesdi bekerja di pabrik pakaian di Jawa Timur. Merasa tak untung ia beralih jadi pembuat & pedagang minyak kelapa. #Nitisemito

Pd 1894 Roesdi menikah & merintis usaha batik sambil membuka warung. #Nitisemito

Masih belum menemui kemujuran, pemuda Roesdi beralih lagi jadi blantik kerbau. Tapi sama saja, kemakmuran belum menghampirinya. #Nitisemito

Sekali lagi Roesdi mencoba membangun usaha, kali ini yg diliriknya adl usaha kretek klobot. #Nitisemito

FYI: Kretek bukan rokok. Rokok isinya tembakau. Kretek komposisinya tembakau, cengkeh, dan ramuan saus atau bahan lain. #Nitisemito

Ramuan saus inilah yg paling mebedakan, krn rasa kretek ditentukan dr sausnya & tiap perusahaan punya ramuan rahasianya sendiri. #Nitisemito

Roesdi alias #Nitisemito memulai usaha kretek klobotnya antara 1903-1905 dgn nama dagang yg berbeda-beda.

Brand klobot pertama Roesdi cukup nyeleneh, pd etiketnya tertulis ‘Kodok Mangan Oelo’ (Katak Makan Ular). Ia sempat ditertawakan. #Nitisemito

Lalu nama produknya bergiliran berganti ‘Tjap Soempil’, ‘Tjap Djeroek’, dan yg paling terkenal ‘Bal Tiga. #Nitisemito

Etiket bungkus kretek cap Bal Tiga Nitisemito.

Tak mau dipusingkan dgn nama akhirnya Roesdi membuat etiket dgn gambar 3 buah bola & namanya di bawah gambar. #Nitisemito

Orang2 pun punya sebutan beragam utk klobot bikinan Roesdi. Ada yg sebut ‘Tiga Lingkaran’, ada ‘Tiga Bola’, ada pula… #Nitisemito

…’Boender Tiga’, ‘Roda Tiga’, atau yg paling dikenal ‘Bal Tiga’. Yg jelas pd 1916 cab Bal Tiga itulah yg jadi brand resminya. #Nitisemito

Usaha kreteknya melesat sejak 1914 dan pd 1916 perusahaannya resmi bernama NV Sigareten Fabriek M. Niti Semito Koedoes. #Nitisemito

#Nitisemito termasuk pengusaha yg kreatif, terbukti dgn penerepan strategi pemasaran yg modern & menarik.

Strategi pemasaran yg diterapkan #Nitisemito : promosi ke daerah2 dgn mengirim armada dagang…

Dahulu, hadiah-hadiah seperti ini banyak mengundang konsumen untuk membeli kretek Bal Tiga. Ide marketing yang kreatif pada masanya.

Juga bungkus kreteknya bisa ditukarkan dgn bbrp hadiah menarik macam gelas, piring, arloji, hingga sepeda. #Nitisemito

Pd 1914 pula #Nitisemito membuka lahan 14 hektare di Desa Jati untuk pabriknya & menyerap 15ribu pekerja.

Jika beruntung, bukan hanya barang pecah belah saja yang bisa di dapat, tapi juga sepeda keren seperti dalam foto jadul ini.

Pd 1918 usaha #Nitisemito diguncang badai sbg imbas kerusuhan Tionghoa-pribumi yg terjadi di Kudus.

Beruntung perusahaan #Nitisemito masih cukup kuat setelah kerusuhan  yg disebabkan konflik usaha antara Tionghoa & pribumi itu.

Usaha rintisan #Nitisemito ini lalu ia turunkan kpd menantunya, Karmani, yg telah ia persiapkan sejak lama.

Namun akibat perselisihan internal dan isu fitnah yg menimpa Karmani, perusahaan #Nitisemito semakin terpuruk.

Setelah #Nitisemito wafat pada 1953 Bal Tiga benar2 telah hilang dari peredaran.  Kini imperium kretek dikuasai Tionghoa.

Meski kini Bal Tiga hanya kenangan, namun #Nitisemito tetaplah patut diberi ruang apresiasi atas rintisan2nya.

Berkat kejeliannya kini kretek telah menjadi industri besar yg mampu menyerap banyak sekali tenaga kerja. #Nitisemito

Industri kretek melibatkan & menghidupkan pula usaha pertanian, pergudangan, pengolahan tembakau, dll. #Nitisemito

Di tengah gembar-gembor anti-rokok anti-tembakau saat ini, fakta2 ini seringkali dikesampingkan. #Nitisemito

Padahal persoalan tembakau & kretek, atau yg ‘mereka’ sebut rokok kretek, tak melulu soal kesehatan. #Nitisemito

Kultwit ini tak hendak melawan kampanye anti-rokok demi kesehatan, namun bgmn kita melihat persoalan scr holistik. #Nitisemito

Rokok bahaya bagi kesehatan, benar itu. Tapi tak lantas main basmi begitu saja. Banyak aspek lain yg perlu jg ditilik. #Nitisemito

 

Referensi:

Badil, Rudi (editor). 2011. Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Topatimasang, Roem, dkk (editor). 2010. Kretek, Kajian Ekonomi & Budaya 4 Kota. Yogyakarta: Indonesia Berdikari.

Majalah GATRA edisi khusus Agustus 2005, hlm. 26.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: