KELUAR DARI BUKU DIKTAT

Apa yang ada di bayangan Pembaca sekalian ketika ada seseorang menyebut kata Sejarah. Bisa jadi banyak hal berkelebat dipikiran Anda, atau mungkin juga hanya satu hal. Ada yang merasa tertarik, ada yang bosan, ada yang apatis, ada yang sinis, ada yang gembira, dan ada juga yang bangga. Sejarah, sebagai salah satu bidang kajian yang metodologis, memang tak bisa dilepaskan dari selera orang. Tapi saya yakin banyak orang yang tertarik. Yah, tentu saja selain orang-orang yang beranggapan miring. Tapi percayalah, sebenarnya banyak orang suka sejarah.

Saya sampai pada kesimpulan itu setelah beberapa kali terlibat obrolan dengan beberapa orang. Memang bukan tolok ukur yang valid, namanya juga kesimpulan pribadi. Mungkin memang benar, sejarah itu membosankan. Lihatlah di ruang-ruang kelas sekolah SMA atau SMP. Seakan-akan murid-murid duduk manis mendengarkan dongeng masa lalu dari gurunya. Saya sendiri bahkan mengalami hal itu. Sungguh ngantuk sekali mendengarkan guru menerangkan materi dengan nada datar dan tanpa gerakan apapun.

Atau, mungkin juga ketika Anda bertemu dengan kawan lama yang lalu bertanya-tanya tentang kegiatan anda saat ini.

Hai, wah lama tak jumpa kita. Kuliah di mana sekarang?”

Alhamdulillah, Kawan, aku sekarang kuliah di UI.”

Hehe, hebat kau ya… Jurusan apa kau ambil?”

Sejarah.”

Lalu tiba-tiba Si Teman itu terdiam, setengah melongo mungkin. Tiba-tiba pembicaraan stag di situ.

Serius kau.”

Seakan-akan ‘kehebatan’ kita yang tadi dikatakan Si Teman menguap begitu saja. Kalau Anda sama seperti saya yang pernah mengalami hal itu, tenanglah jangan khawatir. Mengapa? Seperti yang saya katakan di atas, sebenarnya banyak yang suka sejarah. Hanya saja harus diperjelas dahulu, sejarah yang seperti apa? Sebenarnya, pangkal masalah yang menurut saya penting untuk ditelusuri adalah masalah pengajaran dan penyampaian sejarah kepada publik.

Saya bisa katakan, bahwa murid-murid ini bosan bukan karena mereka malas belajar sejarah, tapi lebih karena penyampaian materi sejarah yang membosankan. Jadi, menurut saya ini adalah masalah metode mengajar. Sejauh yang saya telusuri, buku-buku diktat sejarah yang dipakai di tingkat SMA dan SMP atau yang sederajat sudah sangat baik kualitasnya. Perkembangan yang cukup signifikan dari buku-buku diktat itu adalah pengejawantahan metode belajar interaktif dua arah. Namun, memang harus diakui bahwa sebagus apapun metode yang termaktub dalam buku itu, kalau guru tetap kukuh dengan metode ‘ceramah’ ya hasilnya akan sama saja.

Kalau kita melihat nasib sejarah di ruang-ruang kelas tidak memberikan harapan, maka di luar sekolahlah kita melihat sejarah punya nasib yang berlainan. Lihatlah novel-novel yang ditulis dengan latar belakang sejarah. Sebut saja serial Gajah Mada karya Langit Kresna Haryadi, atau magnum opus Pramoedya Ananta Toer, tetralogi Buru.

Lihat pula televisi anda. Saya yakin sebagian pembaca pasti pernah nonton acara bertajuk Metro Files atau Riwayat. Acara di mana dikisahkan kembali peristiwa sejarah dan biografi dokumenter tokoh-tokoh sejarah. Sepanjang acara anda di suguhi video-video atau foto-foto lawas dari mas yang lampau. Juga narasi dan quotes dari para sejarawan yang jadi narasumber. Menarik sekali. Terkadang dalam narasi diselipkan retorika-retorika yang membikin kita tak mau beranjak dari kursi.

Pembaca tentu tahu drama radio bertajuk Tutur Tinular yang diadaptasi dari serial cerita silat berjudul sama. Dan beberapa tahun lalu diangkat menjadi serial laga ditelevisi. Mengambil masa keruntuhan Singosari hingga kejayaan Majapahit, Tutur Tinular cukup meledak kala itu. Bahkan sekarang pun masih ada (meski kualitasnya kalah jauh dibanding dulu). Seorang kawan bapak saya pernah bercerita betapa sukanya beliau mengikuti cerita Tutur Tinular dari sejak berformat drama radio hingga jadi sinetron.

Beberapa hal yang saya ceritakan tersebut kiranya sebuah indikasi bahwa sebenarnya memang banyak orang yang suka sejarah. Saya katakan ‘indikasi’ karena memang saya tidak pernah meneliti benar atau tidak. Terlepas dari hal tersebut, yang jelas orang jadi berminat dan antusias terhadap sejarah ketika sejarah itu ‘keluar dari buku diktat’. Dalam bahasa yang lain, sejarah harus mampu memahami audiennya jika ingin terus eksis.

Orang awam tidak selamanya seorang akademisi yang tahan pada teks panjang dan monoton. Karena itulah penulis, penutur, dan akademisi sejarah sendiri harus bisa luwes. Tahu di mana ia sedang membawakan sejarah. Ia bisa menjadi sangat kritis dan perfeksionis kala berhadapan dengan situasi akademik. Di saat yang lain bisa santai dan penuh guyon saat berhadapan dengan anak-anak yang ingin tahu cerita sejarah. Pun di saat bertatap dengan masyarakat kebanyakan, tentu tidak nyambung jika dipakai kata-kata yang sangat akademik dan begitu buku – meminjam istilah Andrea Hirata.

Orang-orang tua kita, kakek-nenek, bahkan buyut sebenarnya adalah para penutur sejarah yang sangat piawai. Mereka mengemas sejarah bukan dengan kekakuan khas buku diktat, tapi mengemasnya dalam cerita-cerita folklore yang menarik. Memang kemudian sejarah jadi bias, namun jejaknya terus hidup selama tuturan itu masih diceritakan kepada generasi-generasi selanjutnya. Itulah yang saya maksud sejarah harus memahami audiennya.

Takut jika fakta-fakta sejarah jadi terdistorsi? Tenang. Secara akademik sejarah punya seperangkat metodologi yang jadi penjaganya. Biarkanlah cerita-cerita itu berkembang dan terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Itu adalah kearifan yang seharusnya kita jaga. Dan masalah distorsi fakta serahkanlah pada para sejarawan. Tugas para akademisi sejarahlah yang nanti akan mengevaluasinya. Karena menurut saya sejarah itu ada dua. Sejarah yang men-tradisi dan sejarah yang akademik.

Tulisan saya ini adalah sebuah idea yang mengalir dari otak, bukan sebuah tulisan akademis yang valid. Saya tidak hendak membawakan kepada pembaca teori-teori, karena memang saya tak sedang berteori. Terlebih lagi saya juga bukan siapa-siapa. Yang jelas saya ingin mengajak pembaca memaknai sejarah dari dimensi yang lain. Yang tidak melulu buku dan rigid. Anggaplah saya sedang cerita tentang apa yang ada diotak saya. Tapi bukankah sejarah itu sebuah cerita juga? Salam!

Oleh Fafa Firdausi

Depok, 12 Mei 2012

2 responses

  1. Halo, saya kebetulan sekali hari ini mampir ke blog ini karena link dari salah satu om. Senangnya ada yang rajin menulis semua tentang sejarah bangsa, dari peristiwa/tokoh yang sudah dikenal sampai yang jarang terdengar.
    Saya salah satu orang penggila sejarah, zaman SMP-SMA sejarah adalah pelajaran favorit saya. buku favorit waktu SD adalah PSPB, juga ensiklopedi pahlawan nasional. Beranjak SMA semakin gila sejarah. kepingin kuliah sejarah, tapi akhirnya masuk psikologi🙂

    Setuju banget, masalah metode pengajaran itu penting. sejarah menjadi asyik kalau cara penyampaiannya asyik. sejarah dituturkan tapi juga harus dikemas menarik sehingga menantang murid untuk mempelajarinya. Tulisan yang bagus!

    Semoga tetap semangat menceritakan kembali sejarah bangsa ya!😀

  2. Wah bagus ya. Tapi bagusan mana prospek kerjanya kalo dibandingin teknik, manajemen, dan kedokteran?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: