Raja, Priyayi, dan Kawula; Surakarta 1900-1915

 

 

 

Judul Buku      : Raja, Priyayi, dan Kawula; Surakarta 1900-1915 (selanjutnya disebut RPK)

Penulis             : Kuntowijoyo

Penerbit           : Penerbit Ombak, Yogyakarta

Tahun Terbit    : 2006

 

Kepakaran seorang Kuntowijoyo dalam hal sejarah dan budaya sudah tak diragukan lagi. Sejumlah terbitan dalam berbagai genre – mulai dari sastra, budaya, sejarah, dan religi – telah beliau tulis semasa hidupnya. Sebagian bahkan menjadi masterpiece dan diakui secara luas sebagai karya yang berkualitas tinggi. Dalam bidang sejarah, Kuntowijoyo dikenal fokus pada penulisan sejarah lokal. Dan dalam buku yang akan kami review ini, Kuntowijoyo menulis tentang spesialisasi yang sangat jarang diangkat, sejarah mentalitas.

Dalam kata pengantar buku ini yang ditulis oleh tim penerbit disebutkan bahwa buku ini merupakan kompilasi dari  empat makalah yang beliau telah susun sejak 1991 (hal. v). Bab II berasal dari “Politik Simbiosis Pakubuwono X, 1900-1915: Simbol Personal dan Simbol Politik”, yang dipresentasikan dalam Kongres Nasional Sejarah tahun 1996 di Jakarta. Bab III berasal dari “Power and Culture: The Abipraya Society of Surakarta in the Early Twentieth Century”, yang dipresentasikan dalam A Conference on Modern Indonesian Culture: Asking The Right Questions yang diselenggarakan oleh Asian Studies, School of Social Sciences, Flinders University, Adelaide, South Australia pada 1991. Bab IV berasal dari “Sumur Ajaib: Dominasi dan Budaya Tandingan di Surakarta awal abad XX”, makalah dalam Simposium Ilmu-ilmu Humaniora I, Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada pada Oktober 1996 (hal. vi).  

Kuntowijoyo. Selain sebagai sejarawan beliau juga dikenal sebagai sastrawan dan budayawan.

 

Buku “kecil” karya Kuntowijoyo ini penulis anggap amat penting setidaknya karena dua hal. Pertama, penting kaitannya dengan salah satu spesialisasi sejarah yang masih jarang ditulis, Sejarah Mentalitas. Konsepsi sejarah mentalitas ini oleh Kuntowijoyo telah dijelaskannya dalam bukunya yang berjudul Metodologi Sejarah edisi Kedua. Kedua, penting mengingat buku RPK ini dapat dikatakan sebagai tindakan praktis Kuntowijoyo menerapkan konsepsinya yang telah tertuang dalam Metodologi Sejarah edisi Kedua.

Secara umum RPK bertutur tentang keadaan sosial-budaya di Surakarta pada awal abad 20. Secara khusus Kuntowijoyo menyoroti tentang kehidupan Pakubuwono X (PB X), golongan priyayi abdi dalem, dan rakyat kecil di Surakarta. Meskipun tampak terpisah-pisah, namun Kuntowijoyo secara implisit menampilkan relasi sosial di antara ketiga golongan masyarakat Surakarta awal abad 20. RPK mengupas lapis demi lapis hirarki sosial di Surakarta kala itu melalui pendekatan psikologi, sosiologi, dan tentu saja sejarah. Formulasi inilah yang menjadi pilar-pilar bangunan sejarah mentalitas. Dengan pendekatan itulah Kuntowijoyo berusaha menampilkan sejarah tentang kehidupan emosional manusia di masa lalu.

Buku ini dibuka dengan terlebih dahulu menampilkan sosok PB X. Sebelum lebih jauh, perlu penulis garis bawahi bahwa RPK tidaklah menampilkan sejarah naratif. Kuntowijoyo tak hendak bercerita tentang perjalanan hidup PB X tetapi mendeskripsikan aspek psiko-sosial PB X sebagai seorang raja. Pada masa itu bisa dibilang tak ada peristiwa sejarah yang besar. Tapi dalam masa “tenang” itu PB X tampil menjadi raja pribumi besar yang dikenang. Tentu hal ini agak mengherankan mengingat meskipun PB X adalah seorang raja, tetapi kekuasaannya sangatlah terbatas. Seperti yang disebutkan oleh Kuntowijoyo sendiri bahwa pada masa itu terdapat dualisme kekuasaan di Surakarta. Pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan pemerintahan Kasunanan Surakarta. Dan jika diperjelas lagi, posisi kasunanan berada di bawah kuasa residen Surakarta. Susuhunan hanya memiliki kuasa terbatas untuk urusan-urusan sipil dan hukum.

Profil Susuhunan Paku Buwono X beserta permaisuri. Memanfaatkan simbol-simbol budaya untuk menunjukkan kuasanya.

Anomali ini dengan jeli dijelaskan oleh Kuntowijoyo sebagai kompensasi yang dilakukan oleh PB X. Ia memang dibatasi secara yuridis, namun dengan kuasa budaya yang dimilikinya, PB X menegakkan eksistensinya melalui simbol-simbol. Dari pengamatan-pengamatan yang dilakukan Kuntowijoyo dengan pendekatan psikologisnya, diperoleh pula kesimpulan bahwa PB X memiliki Emotional Intelligent (EI) yang tinggi. PB X tahu benar akan potensi yang dimilikinya. Dengan diperkuat tradisi kraton yang ketat, PB X lihai memainkan perannya sebagai seorang raja dan beliau sukses. Dalam folklore Jawa dikatakan bahwa Susuhunan PB X adalah raja Jawa terbesar yang telah menghabiskan kemuliaan, kemuktian, dan kewibawaan untuk dirinya sendiri, sehingga bahkan tak tersisa sedikitpun untuk raja-raja sesudahnya. Secara umum PB X dengan sukses telah memainkan simbol personal (kewenangan, titel, pakaian, penghormatan, anugerah, dan hedonisme) dan simbol publik (tradisi, nasionalitas, religiusitas, dan interkultural), serta kepribadiannya yang menonjol untuk mempertahankan eksistensinya sebagai raja.

Selanjutnya Kuntowijoyo beralih membahas golongan priyayi. Secara garis besar terdapat tiga golongan priyayi di Surakarta. Priyayi abdi dalem raja, priyayi abdi dalem parentah ageng (institusi kerajaan, dibawah kuasa patih selaku kepala pemerintahan), dan priyayi terpelajar. Sementara yang menjadi fokus dalam deskripsi Kuntowijoyo dalam RPK adalah priyayi abdi dalem raja, tetapi beliau juga menjelaskan sekelumit tentang golongan priyayi lainnya walau sepintas lalu. Menurut pengamatan Kuntowijoyo, kesetiaan priyayi kepada raja disebabkan perkenalan mereka yang intens dengan kekuasaan sejak dini dan sosialisasi oleh pendahulunya.

Menjadi abdi dalem sudah menjadi cita-cita para anak priyayi sejak kecil. Sebelum mendapatkan status priyayinya, para putra abdi dalem yang akan meneruskan pekerjaan orang tuanya harus melewati beberapa tahapan. Tahapan itu dimulai dengan suwita (belajar) pada priyayi tinggi. Lalu magang (masa percobaan) dengan mengerjakan tugas-tugas sesuai profesi yang ingin ditekuni. Setelah itulah baru ia di-wisuda (pengukuhan) sebagai priyayi. Jenjang-jenjang ini menunjukkan kepada kita bahwa hubungan antara priyayi dan raja adalah hubungan patron-client.

Lebih jauh jenjang-jenjang ini juga menunjukkan bahwa dalam dunia kepriyayian pun ada stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial ini dijaga dan dilestarikan juga dalam simbol-simbol budaya. Simbol-simbol itu di antaranya adalah jumlah kewajiban sembah, pakaian, bahasa, dan tempat duduk kala beraudiensi dengan raja. Selain itu juga berkembang di kalangan priyayi tentang world view mereka yang secara ilmiah disebut political mysticism. Pandangan mistisme para priyayi ini berkaitan dengan panggilan jiwa mereka saat menjalankan amanah dari raja. Bagi para priyayi ini, kemuliaan karena berhasil menjalankan amanat raja adalah tujuan utama.

Lalu kemudian Kuntowijoyo menyoroti kehidupan para kawula, terutama dari aspek budaya tandingan yang berkembang dalam komunitasnya. Mengapa budaya tandingan? Dalam pembahasan-pembahasannya perihal raja dan priyayi, terang sekali ditemukan banyak sekali korelasi di antara keduanya. Melalui hubungan patron-client yang terbangun antara keduanya, adalah hal mudah bagi kita membuat kesimpulan bahwa raja dan priyayi adalah kaum superior. Sementara dalam anggapan mereka, rakyat atau kawula adalah para penonton saja. Kehidupan rakyat adalah kehidupan tersendiri yang terpisah dari jangkauan korelasi raja-priyayi.

Kawula memiliki jarak sosial-budaya yang jauh dengan raja dan priyayi. Jika dikatakan politik simbol amat memengaruhi hubungan raja dan priyayi, maka hal itu tidak lagi berlaku pada kawula. Menurut Kuntowijoyo, simbol-simbol kekuasaan telah melemah setelah melewati jarak sosial yang jauh. Kawula memiliki dan mengembangkan budayanya sendiri yang oleh Kuntowijoyo disebut sebagai budaya tandingan itu. Kawula punya simbol-simbolnya sendiri. Di sini Kuntowijoyo mengetengahkan fenomena sumur ajaib dan beberapa fenomena supranatural yang hidup dikalangan rakyat kebanyakan.

Dengan jeli Kuntowijoyo menghimpun pemberitaan-pemberitaan perihal fenomena gaib dari media massa sezaman. Yang menarik adalah komentar beliau terhadap pemberitaan ini. Menurut Kuntowijoyo, apa yang diberitakan dalam media massa sezaman itu memang bukanlah fakta empiris yang punya kebenaran. Tetapi sejarawan mempunyai hak untuk mempercayainya bahwa para narasumber berita sungguh-sungguh menyatakan sesuatu yang mereka lihat. Jadi yang mereka nyatakan adalah sebuah peristiwa psikologis, bukan empiris, sehingga peristiwa itu tetap bisa dipandang memiliki makna historis. Peristiwa itu adalah alternatif dari simbol-simbol kekuasaan yang dominan kala itu.

Selain dalam aspek sosial-budaya, “perlawanan” kawula terhadap dominasi raja dan priyayi tampak pula dalam bidang pergerakan, bahkan selanjutnya memegang peranan penting. Jika para priyayi punya wadah Abipraya, maka para kawula punya Boedi Oetomo dan Sarekat Islam. Meski kemudian BO berubah menjadi organisasi yang elitis, tapi BO awalnya tetaplah dipandang sebagi wujud resistensi kawula. Pada gilirannya, kawula-kawula yang punya pemikiran maju muncul kepermukaan sebagi seorang “bangsawan pikiran”. Organisasi-organisasi inilah alat mobilisasi mereka.

Di bagian akhir RPK, Kuntowijoyo mengetengahkan peristiwa perkawinan kedua PB X. Kuntowijoyo melihat peristiwa ini sebagai bentuk “perlawanan diam-diam” oleh PB X terhadap dominasi kolonial di Surakarta. Seperti dikemukakan di awal bahwa di Surakarta terdapat dualisme kekuasaan dan pihak koloniallah yang sebenarnya berkuasa. Dalam hal ini PB X menunjukkan bahwa bagaimanapun juga ia tetaplah seorang raja yang menguasai Surakarta. Melalui pesta perkawinan yang megah PB X melibatkan seluruh elemen masyarakat Surakarta. Baik priyayi, kawula, dan bahkan pihak kolonial berada dalam “penguasaannya”. Semua orang tunduk dalam protokol Kasunanan dalam peristiwa perkawinan PB X itu, tak terkecuali residen Surakarta. Dan langkah PB X ini mendapat sambutan positif dari organisasi-organisasi di Surakarta seperti Narpo Wandowo, Abipraya, BO, dan SI. Peristiwa ini oleh Kuntowijoyo dijelaskan sebagai sebuah pertunjukan “Nasionalisme Jawa”.

Sebagai sebuah karya akademis, Kuntowijoyo menunjukkan dedikasinya dalam RPK ini. Kematangannya sebagai sejarawan terlihat dalam analisis dan komentarnya yang kritis. Tampak betul Kuntowijoyo menguasai metode sejarah mentalitas yang ia kemukakan dalam pengantar buku ini. Mengingat sejarah mentalitas bukanlah sejarah yang bercerita, maka diperlukan deskripsi yang jelas dan mudah dipahami pembaca. Kuntowijoyo sukses dalam hal ini. Penjelasan-penjelasan sederhana dan kontekstual yang beliau tuliskan relatif mudah untuk ditangkap pembaca. Juga ketelitiannya dalam menggali sumber primer patut kita apresiasi.

Hanya saja RPK menemui masalah ketika dihadapkan pada masalah koherensi. Kita tahu bahwa buku ini bukanlah tulisan tentang suatu topik yang digarap utuh. Kenyataan bahwa RPK disusun dari beberapa makalah yang disatukan dalam sebuah buku menjadikannya kelemahan yang mendasar. Terutama dalam tiga bab pertamanya, penjelasannya terasa terpotong-potong. Satu bab berdiri sendiri dengan topik yang dibawanya lalu bab selanjutnya dimulai lagi awal membahas topik lain. Jadi, Kuntowijoyo tidak menjelaskan keterkaitan antara raja, priyayi, dan kawula sebagai kesatuan terkait tetapi menjelaskannya secara terpisah-pisah. Seringkali pula terdapat lompatan-lompatan gagasan di beberapa bagian buku.

Terlepas dari itu semua, Kuntowijoyo melalui RPK memberikan gambaran umum kepada generasi sejarawan sesudahnya tentang relevansi sejarah mentalitas sebagai suatu genre penulisan sejarah. Terutama dalam kemampuannya untuk memahami keadaan psiko-sosial masyarakat dan budaya. Hal inilah yang membuat tulisan sejarah menjadi tulisan yang hidup, tidak kering dan kaku.

Oleh: Fafa Firdausi

5 responses

  1. ngingetin ttg kota solo, seandainya dulu pas kul di solo uda tertarik ama sejarah (spt sekarang ini),pasti kepengen beli buku ini😀

  2. SEMANGAT!!!!

  3. Terimakasih Artikelnya bermanfaat dan Infonya menambah Ilmu pengetahuan. Harus dicoba.

  4. ROSSYTA DIAN S. | Balas

    DIK,,, punya buku2 tentang sejarah politik??

    1. Beberapa mungkin punya… hehe saya lebih konsennya di sejarah budaya soalnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: