1 Oktober, Membaca Kembali Sejarah Kita

Malam telah benar-benar kelam. Jalanan Jakarta sepi senyap. Hanya sayup-sayup obrolan orang-orang di warung kopi yang terdengar. Tiba-tiba beberapa truk militer menderu memecah keheningan malam. Di depan sebuah rumah jip-jip itu berhenti dan tentara bersenjata turun dengan sigap cekatan. Rumah segera dikepung, komandan mengetuk pintu dan si empunya rumah yang tak tahu apa-apa mempersilakannya masuk. Beberapa menit kemudian terdengar percakapan – atau lebih tepatnya percek-cokan – antara keduanya. Dan tak lama kemudian dentum senjata laras panjang yang memuntahkan pelurunya terdengar. Si empunya rumah, Letnan Jendral Ahmad Yani, jatuh tertelungkup bersimbah darah.

Itulah imaji yang tergambar dalam benak saya saat teringat akan peristiwa yang sekarang kita kenal dengan istilah “G30S” atau “Gestapu” atau “Gestok” atau apalah anda menyebutnya. Gambaran itu terbentuk setelah saya menyaksikan film garapan Arifin C. Noer, beberapa tahun lampau saat saya masih asik-asiknya main layangan. Kejam, itulah satu-satunya kata yang dituturkan bapak saya tentang PKI. Dan kata itu terendam dalam otak saya. Seiring waktu bergulir, seiring dengan bertambahnya umur, seiring dengan banyaknya buku yang saya baca, dan seiring diskusi-diskusi dengan kawan-kawan saya, semakin bingunglah saya. Ya, bingung, bahkan sampai sekarang.

Mengapa saya bingung? Karena saya menemukan fakta-fakta ini : PKI adalah partai pertama yang dengan gamblang menyebut dirinya “Indonesia”; PKI adalah organisasi yang berani melakukan pemberontakan frontal terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda; PKI adalah elemen pendukung pemerintahan Soekarno yang paling loyal; PKI “dianggap” sebagai dalang peristiwa G30S ’65; Mayjend Soeharto adalah jendral yang dengan sigap mampu meredakan chaos di Jakarta pasca G30S; Tindak kekerasan terhadap jendral-jendral AD yang “katanya” dilakukan oleh oknum PKI ternyata fiktif; Tentara melakukan “pembersihan” oknum PKI dan simpatisannya hingga menyebabkan ribuan (jutaan?) orang tak bersalah terbunuh; dan yang lain-lain lagi. Intinya adalah bahwa fakta-fakta itu saling bertolak belakang.

Ruwet memang, tapi itulah kenyataannya. Sampai sekarang masih saja ada orang yang sentimen terhadap PKI-nya kuat. Ada pula sentimen terhadap Orba-nya Soeharto amat kuat. Jadi sebenarnya masih relevankan kita menyebut PKI dengan label “kejam”? Atau masih relevankah Soeharto kita cap “diktator”? dan yang terpenting apakah sejarah itu adalah dikotomi antara HITAM dan PUTIH?

Dalam catatan ini saya tak hendak mendalami G30S atau PKI atau Soeharto. Sungguh-akan sangat sangat sangat panjang sekali jadinya. Dan lagi pula pengetahuan saya masih belum bisa dianggap mumpuni untuk bicara soal itu. Di sini saya ingin mengajak Anda, sidang Pembaca sekalian, untuk merenungkan sejarah kita. Saya menjadikan G30S ini hanya sebagai titik tolak diskusi kita, karena memang isu sejarah yang paling sensitif dan selalu hangat sampai sekarang adalah peristiwa itu. Namun sebenarnya masih banyak, banyak sekali, isu-isu yang punya muatan sama dengan masalah G30S. Isu-isu sejarah yang pada intinya dapat kita tarik benang merah di antara seluruhnya, bahwa masih pantaskah kita menganggap sejarah sebagai dikotomi antara HITAM dan PUTIH?

Jika permasalahan ini kita ibaratkan sebagai gunung es, maka G30S adalah bagian kecil pucuk yang tampak. Di bawah permukaan lautan sejarah masih banyak masalah-masalah yang perlu dikaji ulang. Saya ambil contoh penobatan Sultan Hasanuddin  sebagai pahlawan nasional dan Aru Palaka (atau Arung Palaka) sebagai penghianat. Seperti kita tahu bersama, Sultan Hasanuddin atau Si Ayam Jantan dari Timur adalah penguasa pribumi yang gigih menentang VOC. Beliau berperang mati-matian untuk mengusir VOC dari wilayah Makassar. Sementara itu kita mengenal Aru Palaka sebagai antek penjajah yang membantu VOC melawan Sultan Hasanuddin. Itu adalah berita yang selama ini disampaikan kepada kita. Tapi ternyata sejarah tidak hanya sampai di situ saja.

Anda tahu mengapa Aru Palaka bersedia membantu VOC? Saya yakin guru sekolah, dari jenjang SD hingga SMA tidak akan memeri keterangan ini (atau kalau ada, pasti sedikit sekali), bahwa sebenarnya Sultan Hasanudin adalah seorang imperialis juga. Sultan Hasanudi yang orang Makassar kala itu menganeksasi kerajaan Bone yang diperintah Aru Palaka. Sebagai terjajah, Aru Palaka berusaha melepaskan diri dari cengkraman Makassar bagaimana pun caranya. Dan kala itu VOC-lah sekutu potensial yang bisa membantunya. Jadi siapakah yang sebenarnya pahlawan? Siapakah yang sebenarnya penghianat? Patut digaris bawahi juga bahwa sebelum abad 20, “Indonesia” sebagai sebuah nation bahkan belum ada dalam angan-angan setiap manusia yang berjalan di atas kepulauan yang sekarang kita sebut Indonesia. Yang ada adalah Kesultanan Demak, Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Banten, dll.

Dalam ruang dan waktu yang lain kita dapat melihat Pangeran Diponegoro yang angkat senjata melawan hegemoni kolonial Hindia Belanda di Yogyakarta dan sekitarnya. Untuk menekan kekuatan militer Diponegoro orang-orang Belanda memanfaatkan legiun Mangkunegaran yang terkenal sebagai kesatuan militer yang disegani kala itu. Ketika Indonesia merdeka Diponegoro memperoleh kehormatan sebagai pahlawan. Di sisi lain Belanda adalah penjajah keji yang jahat. Lalu di manakah posisi legiun Mangkunegaran, organisasi militer pribumi yang disegani dan paling modern di Asia kala itu. Apakah mereka penghianat? Kalau mereka ini penghianat, mengapa mereka harus ikut bersusah payah menahan gempuran serdadu Jepang ketika terjadi perang besar di Laut Jawa pada 1942?

Semua yang saya tulis di atas adalah masa lalu kita, sejarah kita. Itu yang saya ketahui. Pembaca sekalian pastilah punya tafsiran lain-lain lagi. Tapi intinya, jika kita sama-sam melakukan penafsiran, pantaskah kita melabeli sejarah dengan cap “ini benar” dan “ini salah”. Semantara kita sendiri belum tentu tahu kebenaran sesungguhnya. Bahkan kita tidak mengalami peristiwa masa lalu itu. Kita hanya menerima sumber-sumber, cerita-cerita, kesaksian-kesaksian, dan juga mitos-mitos.

Ada orang mengatakan, “Sejarah telah dibelokkan” jadi harus diluruskan kembali. Saya tidak tahu benar tidaknya idiom itu. Yang saya tahu adalah bahwa sejarah punya banyak sudut pandang, sehingga punya banyak tafsiran tergantung Anda melihat dari sudut yang mana. Yang jelas adalah bahwa sejarah adalah cermin. Cermin di mana kita melihat masa lalu dan merefleksikannya pada kekinian. Dengan begitu sejarah bukan hanya cerita yang kering kerontang. Sejarah bukan hanya lukisan yang diam, tapi ia punya jiwa yang membawa pesan moral untuk kita di masa kini. Dan pada tanggal 1 Oktober yang bersejarah ini, mari kita membaca kembali sejarah kita. Wallohua’lam🙂

Oleh Fafa Firdausi

10 responses

  1. itulah sejarah, yg diajarkan di sekolah memang juga ada unsur kepentingan penguasa. saya juga menemukan atau melihat sisi lain dari PKI selepas dulu menyelesaikan membaca tetralogi roman pulau buru, Pramodya. luar biasa, tp juga kecewa. menyesal baru tau setelah kuliah bertahun2. melihat indonesia harusnya lbh holistik.

  2. Memang sejarah itu ditulis dengan begitu banyak kepentingan di baliknya. Itulah sebabnya saat mengamati suatu peristiwa sejarah, kita hendaknya mengutipnya dari banyak sudut pandang sekaligus…

    Kalau soal G 30 S ini sih, saya lebih condong melihatnya sebagai perebutan kekuasaan antara PKI dengan tentara menyusul melemahnya kekuasaan Presiden di dalam negeri…

  3. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan dan sejarahnya. Memang kadang membingungkan mengenai sejarah di Indonesia ini. Lepas dari itu semua, kita harus tetap menghargai perbedaan yang ada dan terus maju membangun negeri ini.

    1. komen menarik, trima kasih🙂

  4. Ya, menarik. Tulisan sejarah tidak ada yang betul-betul sempurna, dan juga betul-betul lurus. Itulah yang dikatakan Dr.Alfian, salah seorang sejarawan Indonesia yang terkenal pada masanya. Diakui bahwa ahli sejarah tentu berusaha keras untuk bersikap obyektif dalam menulis karyanya. Sungguh pun begitu, jauh di lubuk hati dan alam pikirannya, mereka mengetahui betul bahwa adalah mustahil bagi siapa saja, betapapun pintar dan ahlinya, untuk menghasilkan tulisan sejarah yang dapat dikatakan betul-betul obyektif dan sempurna. Sebuah tulisan sejarah memang dapat dikatakan, ditinjau dari segi mutu dan sebagainya, lebih obyektif dan lebih sempurna dari karya-karya lainnya. Tetapi tulisan tersebut tidaklah dapat dikatakan sebagai sesuatu yang final atau sebuah karya tanpa kelemahan dan kekurangan sama sekali. Di samping banyak tulisan sejarah yang buruk dan tidak bermutu, biasanya ada sejumlah karya yang dinilai baik dan berkualitas tinggi (http://dasmandj.blogspot.com)(http://dasmandjamaluddinshmhum.blogspot.com)

    1. Wah, suatu kehormatan Pak Dasman mampir ke blog ini. Terima kasih komentarnya, Pak🙂
      Motivasi bagi kami untuk terus memberikan artikel sejarah yang bermutu..

  5. Mungkinkah sukarno adalah target selanjutnya setelah JFK? Pembuat kesepakatan The Green Hilton Agreement? Hanya sukarno manusia di bumi ini kala itu yg punya peluang membawa pulang emas milik Indonesia, harta rampasan perang seberat 57.150 ton. Dan masih dalam taraf pengakuan?hubungkan dgn tanggapan presiden Amerika, begitu mendengar kejatuhan sukarno. Konon dikatakan oleh presiden Amerika bahwa jatuhnya Sukarno adalah hadiah besar dari Asia Tenggara. Kira-kira apa yg dimaksud dg hadiah?

  6. Apakah menurut anda amerika akan berkata kepada sukarno:nggeh monggo silahkan dibawa pulang,emas itu memang milik mbahmu? apakah perlu pertanyaan baik atau buruk? jahat atau tidak? demi menguasai emas seberat 57.150 ton? jalan apapun bisa jadi akan ditempuh,termasuk membeli tentara di suatu negara? membuat huru hara? seheboh hebohnya?demi mengalihkan perhatian pada tujuan yg sebenarnya? bagaimana bisa sukarno yg terang-terangan anti barat, kok tentaranya konon disapa mesra oleh amerika dg kalimat “our army friends”?

  7. our local army friends, bukti keikut sertaan fihak luar? juga bukti adanya tentara pengkhianat? masihkah kita akan sibuk mencari kesalahan dari dalam negara sendiri? penanggungjawab pembantaian massa pd G30S,sepertinya bisa jadi bukan orang Indonesia? tentara tentara tersebut adalah tangan dan alatnya?sedangkan otaknya berada jauh dari tanah Indonesia? yaitu yg menulis kalimat,our local army friend? the green hilton agreement bisa dijadikan alibi logisnya?

  8. mengapa sukarno tidak mau membubarkan PKI? sesuai tuntutan mahasiswa ketika itu? karena sukarno bukan orang yg bodoh. pembubaran yg bagaimana? itu sama halnya pembantaian massal yg akan terjadi selanjutnya adalah tanggungjawab beliau. akan menjadi tali gantungan di pengadilan yg menghukumnya kemudian,proses hukumnya tidak di Indonesia?tapi pengadilan internasional?bagian dari trik politik yg berhasil dihindari?diganti surat perintah?dg atas nama negara tentara kemudian melakukan pembubaran paksa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: