The Death Railway, Pekanbaru-Muaro Sijunjung (Bagian 1)

(Disusun oleh Omar Mohtar, mahasiswa Ilmu Sejarah UI 2010)

Tiga jalur kereta apa di Asia mendapat julukan “The Death Railway”. Pertama, adalah jalur kereta api Bangkok-Rangoon yang mempunyai panjang kurang lebih 415 Km. Kedua, jalur kereta api Saketi – Bayah di Banten, yang mempunyai jarak kurang lebih 89 Km. Kemudian yang ketiga dan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah jalur kereta api Pekanbaru – Muaro Sijunjung yang mempunyai jarak sekitar 220 Km. Ketiga jalur kereta api tersebut dibangun pada saat Jepang menguasai Asia Tenggara dalam kurun waktu tahun 1942 sampai dengan 1945. Ketiga jalur kereta api tersebut dibangun sebagai salah satu strategi dan cara tentara Jepang untuk mempertahankan, meluaskan daerah jajahan mereka, dan mempermudah eksploitasi sumber daya alam yang ada di Indonesia.

Jalur kereta api Pekanbaru – Muaro Sijunjung dibangun oleh Jepang bertujuan menghubungkan bagian barat Sumatera dengan bagian timur Sumatera untuk mempermudah perpindahan pasukan tambahan tentara Jepang yang didatangkan dari Singapura. Selain itu, tujuan lain dibangunnya jalur kereta api ini adalah sebagai salah satu cara untuk mengangkut batu bara dari Tapui menuju Pekanbaru untuk kemudian dibawa ke Singapura dengan kapal. Jepang bisa membangun jalur ini karena telah mempelajari arsip tentang rencana pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan pantai barat dan timur Sumatera yang tersimpan di Nederlands-Indische Staatsspoorwegen (Perusahaan Negara Kereta Api Hindia Belanda).

Pembangunan jalur kereta api Pekanbaru-Muaro Sijunjung dimulai pada bulan Maret 1943. Hampir sekitar 100.000 romusha yang dilibatkan dalam proyek maut ini. Sebagian besar didatangkan dari Jawa dan sisanya diambil dari penduduk sekitar serta dari Medan dan Bukittinggi. Ditambah lebih dari 5000 orang tahanan perang (Prisoner of War / POW) asal Amerika Serikat, Australia, Belanda, Selandia Baru, dan Inggris dilibatkan pula dalam pembangunan jalur kereta api yang selesai tepat saat Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 ini. Sebelum dibangun, jalur kereta api ini telah banyak memakan korban baik dari romusha ataupun dari tahanan perang. Para romusha dan tahanan perang telah banyak yang tewas saat perjalanan menuju Padang dan Pekanbaru karena kapal yang membawa mereka menuju kedua kota tersebut tenggelam ditembak kapal-kapal sekutu. Kapal Junyo Maru yang membawa 6500 romusha dan tawanan perang yang diberangkatkan dari Tanjung Priok, tenggelam di barat perairan Muko-Muko Bengkulu setelah ditorpedo oleh kapal selam Kerajaan Inggris HMS Tradewind. Hal itu mengakibatkan sekitar 5620 romusha dan tawanan perang yang ada di kapal itu tewas. Kapal kedua adalah kapal Harukiku Maru yang ditembak di Selat Malaka, dalam pelayaran dari Belawan menuju Pekanbaru.

Proses pembangunan jalur kereta api ini dilakukan dengan cara mengerjakannya bermula di dua titik, yaitu Pekanbaru dan Muaro Sijunjung hingga bertemu di titik tengah keduanya. Para pekerja sangat menderita karena selama pembangunan jalur kereta api ini, mereka mendapat perlakuan yang buruk dari para tentara Jepang. Henk Hovinga dalam bukunya menulis,

Dalam suatu neraka hijau, penuh ular, lintah darat dan harimau, lebih buruk lagi miliaran nyamuk malaria, di bawah pengawasan kejam orang-orang Jepang dan pembantu mereka orang Korea.

Selain itu dalam situs COPEFOW beberapa korban yang bertahan hidup menceritakan apa yang mereka lihat dan alami selama membangun jalur kereta api Pekanbaru-Muaro Sijunjung ini. “Bagi mereka yang sudah sakit dan tidak mampu bekerja mereka akan dibawa ke perkemahan. Beberapa dokter dengan menggunakan peralatan yang sederhana berjuang keras untuk memberi harapan hidup kepada para korban. Salah satunya adalah W.J van Ramshorst dokter bedah militer dari Den Haag yang mengoperasi dan mengamputasi korban hanya dengan menggunakan pisau dan garpu sederhana……..” Dalam cerita lain diberitahukan bahwa, ketika para pekerja kekurangan makanan, mereka memakan apa saja termasuk belatung. “Saya melihat ayam memakan belatung, lalu berpikir jika baik bagi ayam baik bagi orang-orang juga.  Jadi kami mengambil belatung dengan ember dari kakus, mencucinya, memasaknya, kemudian tampak orang-orang yang sakit membaik setelah memakan ini karena porsi ekstra protein”.

Dalam pembangunan jalur kereta api sepanjang 220 Km ini, banyak romusha dan tawanan perang yang meninggal. Beberapa hal yang menyebabkan banyaknya korban yang meninggal dalam pembangunan jalur ini adalah kurangnya obat-obatan yang disediakan, kelelahan, penyakit tropis seperti; diare, malaria, dan disentri, kurangnya makan yang tersedia, buruknya kondisi kamp-kamp romusha, dan lain-lain. Tentara Jepang sepertinya sengaja tidak terlalu memperhatikan kondisi kesehatan para pekerja, karena setelah perang berakhir diketahui bahwa ada banyak bantuan obat-obatan dari Palang Merah yang tertahan di Pekanbaru. Menurut alm. H. Rosihan Anwar, jumlah korban yang tewas dari tahanan perang berjumlah 2.596 orang sedangkan dari 100.000 romusha yang hidup sekitar 20.000 orang.

Setelah memakan waktu hampir dua tahun, pada 15 Agustus 1945, jalur ini selesai dibangun. Namun jalur ini tidak difungsikan seperti tujuan semula, jalur ini kemudian digunakan hanya untuk menyelamatkan para romusha dan tawanan perang yang masih ada di kamp-kamp yang terdapat di pinggir rel seperti di daerah Taratak Boeloeh, Soengeitengkrang, Soengaipagar, Lipat Kian, Logas, Kota Baroe Moeara, Tapoei, dan Petai. Setelah digunakan untuk mengangkut para pekerja tersebut, jalur ini tidak pernah digunakan kembali sampai sekarang. Untuk mengenang para pekerja yang membangun jalur ini, maka dibangun Monumen Lokomotif dan Tugu Pahlawan Kerja di Riau. Tidak hanya dibangun di Riau, di Inggris pun dibangun National Memorial Arboretum Staffordshire.

 

Daftar Pustaka :

Henk Hovinga : “Eindstation Pakan Baroe 1943-1945 – Dodenspoorweg door het oerwoud”

Jan de Bruin, Het Indische spoor in oorlogstijd

Pikiran Rakyat, 25 Februari 2004.

http://www.riaudailyphoto.com/2011/05/napak-tilas-kereta-api-di-riau.html

http://pakanbaroe.webs.com/

http://www.cofepow.org.uk/pages/asia_sumatra3.html

http://kadaikopi.com/?p=934

17 responses

  1. wew,di sumatera ada juga ya dulu kereta api, berarti seharusnya bisa dipertimbangkan utk mengadakan transportasi masal berupa kerta api disana🙂. *menunggu bag 2*

    1. Sip mas… artikel ini kontributornya temen saya. Ini juga sedang nyusun bagian 2.

  2. sangat disayangkan banget, andai jalur ini befungsi mudah2an bisa membantu masyarakat sumatera. kira2 jalurnya itu mati karena apa ya mas ??

    1. Menurut data dari yang punya tulisan ini… rel-rel pada jalur itu sudah banyak yg hilang dan jembatan-jembatan sepanjang jalur yang melintasi sungai juga hanyut karena terbuat hanya dari kayu saja.

  3. Ternyata Begitu Sulitnya Membangun Jalan yg Dilakukan oleh Putra Banngsa kita,,,,,,dibawah Tekanan Jepang yg Biadab,,,,sekarang Hanya Tinggal Kenangannya Saja,,,Rel Kereta Api itu sekarang tidak ada Lagi,,,,,,yang masih terdapat Rel Hanya Di Logas Muaro Sijunjung,,,,

    1. Sebenarnya kalau pemerintah mau keringetan dikit bisa tuh ya dikembangin lagi jadi wisata sejarah atau bahkan dibangun lagi jadi jaringan rel kereta api. Yah…beginilah pemerintah kita. Semoga segera sadar kalau kita punya banyak potensi yang belum tergali.
      Trima kasih sudah mampir Mas Morgan🙂

  4. […] tulisan sebelumnya tentang The Death Railway dapat disimak di sini) Peta Jalur Kereta Maut Saketi-Bayah (Sumber : War, Nationalism, and Peasants: Java Under The […]

  5. saya sangat terkesimak dengan berhasilnya pekerjaan kerja paksa Romusa di muaro sijunjung, diantara pekerja jalan kereta api tersebut salah satunya paman saya yg bernama Chaidir Anwar ( Almrh) meninggal thn l998,berasal dari Sijunjung, sempat membangun komunikasi dengan salah satu ir pekerja pembuat jln kereta api tersebut orang jepang, Saiji Kaneko. meninggal thn 2000. sejak tahun l990, telah terjalin komunikasi dan berkunjung ke Sijunjung dan Padang hampir tiap thn sampai Desember thn 2000. saat ini mereka sdh tidak ada lagi, saya sempat dibawa berkunjung ke Jepang 2x guna meningkatkan hubungan kekeluargaan Pada thn l996 dan l997, sebelum mereka meninggal. Banyak kesan dan pesan yang disampaikan kepada saya, diantaranya keinginnan mereka untuk dibuatkan musium romusa di Sijunjung/ Muaro, seperti di Burma. Siapa yang bisa membantu saya ? Tks

    1. Wah… cerita yang menarik ini, Bang Asrizal🙂
      Dan usaha Bang Asrizal ini layak untuk diapresiasi. Sekiranya ada yang bisa kami bantu, bisa dishare lewat email penuli Bang. Semoga bermanfaat🙂

  6. terima kasih…saya sudah berupaya mengusahakan membentuk kerjasama dengan pemda kabupaten sijunjung guna memberi dukungan berupa gagasan-gagasan untuk membangun museum kereta api di sana. pada bulan juni 2008, saya beserta tim mengadakan survey dan napak tilas ke lokasi rel kereta api. turut ikut serta juga bersama kami tim reporter dari metro tv dan praktisi rafting dari arus liar-citarik, Jawa Barat. namun sampai hari ini dari pemda setempat (pemda kabupaten sijunjung) belum menanggapi dengan serius. nampaknya tidak ada keinginan dari pemerintah untuk melestarikan salah satu nilai sejarah bangsa yang penting ini. Sebagai putra daerah Sijunjung, saya sangat salut dengan kelengkapan dokumen-dokumen yang anda miliki. mungkin saja tidak banyak juga putra2 daerah yang banyak tahu mengenai situs bersejarah ini.saya berharap kita bisa saling melengkapi dan mewujudkan apresiasi ini menjadi kenyataan.

    1. Sejarawan Muda turut mengapresiasi dan memberi dukungan bwt usaha Mas Asrizal Badar🙂
      Semoga nantinya membuahkan hasil, Mas.
      Ada usulan nih, coba diadakan acara-acara trip sejarah ke situs tersebut dgn sasaran peserta siswa sekolahan atau umum. Supaya situs tersebut bisa terpromosikan dan dapat menjaring dukungan dari masyarakat luas. Sekaligus sebagai wahana edukasi sejarah bagi masyarakat.

  7. […] (Seri tulisan sebelumnya tentang The Death Railway dapat disimak di sini) […]

  8. terimakasih… tulisan di blog anda bagus sekali. kalau boleh tahu, judul skripsi anda tentang kereta api juga kah? demikian, salam….

    1. Sahabat Omar memang sedang menulis skripsi ttg kereta api diesel pertama di Solo.

  9. […] Setelah digunakan untuk mengangkut para pekerja tersebut, jalur ini tidak pernah digunakan kembali sampai sekarang. Untuk mengenang para pekerja yang membangun jalur ini, maka dibangun Monumen Lokomotif dan Tugu Pahlawan Kerja di Riau. Tidak hanya dibangun di Riau, di Inggris pun dibangun National Memorial Arboretum Staffordshire.(sejarawanmuda.wp) […]

  10. humm bleh tanya gak,, emang saat belanda merencanakan rel kereta api muaro sijunjung-pkanbaru belum di bangun nya,, hingga japang melanyutkan apa yang direncanakan belanda,, maksih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: