Siapa Penganjur Pekik Nasional “Merdeka” ? (Pak Diro)

(Detail-detail sejarah bangsa Indonesia hingga kini masih banyak berserakan dan masih juga jarang dikupas. Hal-hal “kecil” yang terjadi di masa lalu tersebut seringkali dianggap sepele, namun ketika ia diungkap malah semua orang tertegun-tegun. Dan ini adalah satu dari sekian banyak detail yang mungkin tak banyak orang Indonesia mengetahuinya. Pekik “Merdeka”, yang terkenal itu, yang tiap menjelang peringatan Hari Proklamasi selalu di pekikkan di mana-mana itu, siapa yang mencetuskan? Kalau anda belum tahu, mari baca tulisan Pak Diro yang dimuat dalam Berita Yudha tanggal 14 Oktober 1984. Selamat membaca!)

Kini, setelah kita hampir 40 tahun menjadi bangsa yang merdeka, pasti pekik nasional kita, yang hanya terdiri dari satu patah kata saja itu, telah diketahui oleh setiap orang Indonesia. Baik secara tertulis – pada awal surat-menyurat, maupun pada saat pembukaan rapat. Pekik “Merdeka” pasti dijawab dengan teriakan yang sama, “Merdeka”. Ada juga menjawabnya dengan kata, “Tetap”.

Dalam Mubenas Angkatan 45 di Ujung Pandang baru-baru ini, kalau ada pembicara yang lupa menyerukan pekik perjuangan kita itu, selalu oleh para peserta Mubenas diperingatkan. Dengan cara mendahuluinya dengan teriakan, “Merdeka, Bung!”. Ada pula yang secara senda gurau menjawab pekik tersebut dengan kata-kata, “Ya, sudah 39 tahun!”.

Bung B. M. Diah, pemimpin umum dari harian Merdeka kadang-kadang menjawabnya dengan seruan, “Bacala!”. Maksudnya, “Bacalah koran Merdeka” yang dipimpinnya. Pendeknya, rakyat Indonesia seluruhnya, wanita dan pria, tua dan muda, bahkan bayi pun, sudah mulai diajarkan pekik tersebut oleh ibu-bapaknya atau kakaknya.

Tetapi kalau saya sekarang tanya, siapakah yang mencetuskan pekik kita itu, bahkan yang untuk pertama kali menyerukan pekik nasional kita itu, pasti banyak yang tidak tahu! Atau telah lupa!

Tokoh itu bukanlah Bung Karno, yang pernah dalam Rapat Samodra di tahun lima puluhan mengajak para pendengarnya untuk bersama-sama meneriakkan pekik nasional kita itu selama lima menit atau lebih terus menerus! Bukan pula pemimpin berusia muda seperti misalnya almarhum Sukarni atau Chaerul Saleh!

Kalau tidak salah ingat, ketika pada hari senin tanggal 20 Agustus 1945, kami datang di kantor Jawa Hookookai di gedung Mahkamah Agung yang sekarang, di tangga gedung tersebut kami berpapasan dengan seorang tokoh, yang bertubuh tinggi besar, dengan suara menggeledak, “Indonesia Merdeka!”, memekokkan kata-kata itu, dengan mengangkat tangan kanannya!

Beliau ialah Pak Otto Iskandar Dinata, tokoh Jawa Barat, yang kini telah almarhum. Konon, beberapa waktu setelah Proklamasi Kemerdekaan kita pada tanggal 17 Agustus 1945, beliau diculik oleh gerombolan, setelah ditelusuri dengan tekun oleh sahabat-sahabat beliau antara lain seorang anggota Barisan Pelopor Istimewa, yang pernah turut main film pada tahun lima puluhan sebagai tukang bajigur dalam film itu main bersama dengan almarhum, Dr. A. K. Gani, akhirnya diketahui, bahwa pak Otto telah dibawa oleh gerombolan penculik ke suatu tempat di sekitar Mauk, Kabupaten Tangerang, dan di sanalah beliau dibunuh.

Beliaulah yang pertama kali menganjurkan dan sekaligus menggunakan pekik nasional “Indonesia Merdeka”. Oleh karena pekik tersebut dirasa terlalu panjang, maka kemudian oleh beberapa teman dianjurkan untuk disingkat menjadi satu patah kata saja, yaitu : “Merdeka’.

Dalam pimpinan Barisan Pelopor Pusat, Pak Otto Iskandar Dinata duduk sebagai Sanyo (Penasehat).

Dalam koran-koran beberapa hari yang lalu, dapat dibaca tulisan sdr. Hadipranoto yang antara lain mengisahkan, bahwa sebagai camat dari Rengasdengklok pada tahun 1945, Sang Saka Merah Putih sudah dikibarkannya di Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945, dus sehari sebelum Hari Proklamasi 17 Agustus 1945.

Sdr. Hadipranoto tersebut yang sebelum menjadi camat di Rengasdengklok itu – oleh rekan-rekannya mahasiswa di Jakarta diberi julukan “Siegfried” – menyatakan bahwa Rengas dengklok sebenarnya merupakan daerah yang pertama kali “merdeka” bahkan sebelum Proklamasi Kemerdekaan, yang kurang saya percaya ialah keterangannya. Bahwa sudah pada tanggal 16 Agustus 1945 itu, beliau bersama beberapa orang anggota PETA di Rengasdengklok, telah pula memekikkan salam nasional kita, “Merdeka”.

Bekas camat Rengasdengklok, sdr. Hadipranoto tersebut di atas, kini hidup sebagai pensiunan residen dan duduk dalam Pengurus Besar PWRI.

Mengenai tokoh nasional almarhum Otto Iskandar Dinata, dari seorang putranya, Mayjen (Purn) Sentot Iskandar Dinata, saya telah mendengar kisah tentang almarhum sebagai berikut :

Makam alm. Pak Otto Iskandar Dinata sampai sekarang belum /tidak diketemukan. Secara simbolis segenggam tanah, yang menurut keterangan beberapa orang saksi di Mauk, dari sekitar tempat di mana terjadi pembunuhan kejam tersebut di atas, telah dibawa oleh keluarga almarhum, dan kemudian ditanam di Lembang, sebelah utara kota Bandung.

Tempat tersebut kini dinyatakan sebagai Taman Pahlawan, khusus bagi almarhum Pak Otto Iskandar Dinata. Yang dengan Keppres NO. 088/TK/1973 tertanggal 6 November 1973 oleh pemerintah RI telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

 

Sumber :

BERITA YUDHA, 14 Oktober 1984

7 responses

  1. ternyata “sekadar” pekik pun punya sejarah yg patut disimak, baru tau euy😀

  2. Bahkan makam pak Otto pun masih belum diketahui hmmm
    patut diselidiki itu.

    1. Kalau mau sedikit info soal menghilangnya Otto Iskandar Dinata, baca di majalah TEMPO edisi 13-19 Agustus 2007.

    1. OK terima kasih info tambahannya Bang Reynaldi Tukul🙂

  3. makasih infonya, gan nice. salam kenal

  4. Terima kasih informasinya. Saya pernah membaca informasi serupa tapi lupa lagi sumbernya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: