Batavia, Banjir Sejak Dahulu Kala…

(Disusun oleh Omar Mochtar, mahasiswa Ilmu Sejarah FIB UI)

Banjir dan Jakarta adalah dua hal yang sulit dipisahan. Semua orang pasti mafhum, banjir merupakan salah satu masalah yang dihadapi kota Jakarta sejak lama. Banjir besar pertama yang melanda Jakarta saat masih bernama Batavia tercatat pada tahun 1621. Beberapa hal yang menjadi sebab Batavia selalu dilanda banjir adalah letak Batavia yang sebagian besar wilayahnya berada lebih rendah daripada permukaan laut, curah hujan yang tinggi, kurang baiknya sistem drainase, dan tentu saja sampah. Seiring perjalanan waktu, banjir yang melanda Batavia semakin tahun semakin parah, awalnya banjir yang melanda Batavia hanya merendam kawasan pinggiran sungai-sungai besar yang mengalir di wilayah Batavia, namun lama kelamaan kota bagian tengah pun tak luput dari banjir.

Usaha pertama untuk menanggulangi banjir di Batavia pertama kali dilakukan oleh gubernur jendral VOC keenam, Gubernur Jenderal JP. Coen. Cara pertama yang dilakukan JP. Coen untuk menanggulangi banjir di Batavia dengan cara membagi aliran Sungai Ciliwung melalui pembangunan kanal-kanal seperti yang ada di negeri Belanda. Kanal-kanal itu dibuat untuk memperlancar aliran Sungai Ciliwung menuju Laut Jawa. Kanal-kanal yang dibangun di masa kolonial tidak hanya dibangun untuk membantu aliran air sungai-sungai yang melintasi Batavia, tetapi untuk sarana transportasi air di daerah Batavia. Misalnya saluran Ammanusgracht yang dibangun oleh Johannes Amanus pada tahun 1647 berguna untuk pengangkutan barang ke laut melalui Kali Angke.

Banjir besar kembali melanda Batavia di awal tahun 1918 setelah hujan terus melanda Batavia. Akibat dari banjir besar tahun 1918, pada awal tahun 1920 pemerintah setempat merencanakan upaya untuk menangggulangi banjir. Rencana itu datang dari Herman van Breen, seorang insinyur hidrologi yang bekerja pada Burgelijke Openbare Werken yang merupakan cikal bakal Dinas Pekerjaan Umum RI. Rencana van Breen saat itu cukup sederhana yaitu memecah aliran sungai yang masuk Batavia melalui sebelah kiri dan kanan Batavia sehingga aliran air tidak ada yang masuk tengah kota. Atas dasar rencana itulah pada tahun 1922 dimulai pembangunan Banjir Kanal Barat setelah sebelumnya membangun pintu air Manggarai.

Banjir Kanal Manggarai-Karet atau sekarang dikenal dengan Banjir Kanal Barat dibangun dalam dua tahap. Tahap pembangunan pertama dimulai dari Pintu Air Manggarai menuju arah barat melewati Pasar Rumput, Dukuh Atas, lalu membelok ke arah barat laut di daerah Karet. Tahap kedua dibangun setelah BOW mendapat bantuan dana dari Pemerintah, tahap kedua ini dibangun dari dari Karet menuju ke arah Tanah Abang, Tomang, Grogol, Pademangan, dan berakhir di sebuah reservoar di muara, di daerah Pluit. Dipilihnya Manggarai sebagai awal dari Banjir kanal ini menurut Paulus Londo (2002) karena letak Manggrai yang merupakan batas kota di sebelah selatan dan dianggap aman dari banjir yang bisa memudahkan pengedalian air saat musim hujan. Sebenarnya van Breen juga telah merancang pembangunan Banjir Kanal Timur, namun gagal terwujud karena masalah dana. Banjir Kanal Timur sendiri mulai di bangun di masa pemerintahan Presiden Megawati pada Juli 2003 lalu dengan menggunakan rancangan van Breen.

Dalam kurun waktu 1911-1938 cukup banyak usaha-usaha yang dilakukan Pemerintah Hindia-Belanda dan Pemerintah Batavia untuk menanggulangi banjir di Batavia. Selain membangun  pintu air seperti Pintu Air Manggarai, Karet, dan Kampung Gusti, pemerintah juga melakukan pemeliharaan sungai dengan mengeruk beberapa sungai besar yang ada di Batavia seperti Sungai Ciliwung, Kali Angke, Sungai Krukut, Kali Baru, Saluran Sentiong dan lain-lain. Itulah kelebihan yang dilakukan Pemerintah Hindia-Belanda saat itu, melakukan banyak pembangunan untuk menanggulangi banjir di Batavia, hanya saja kekurangan mereka adalah dana yang besar telah banyak dikeluarkan, namun hasil yang di dapat belum maksimal karena pada tahun 1930-an Batavia kembali dilanda banjir besar, sampai sekarang.

Daftar Pustaka :

Gunawan, Restu. 2010. Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Adhi, Robert, Ksp, dkk. 2010. Banjir Kanal Timur: karya anak bangsa. Jakarta : Grasindo.

Artikel : Banjir di Batavia: Dinamika Pembangunan Kota di Dataran Rendah 1913 – 1940. Restu Gunawan. Disampaikan pada Konferensi Nasional Sejarah Indonesia, di Jakarta; 13 – 17 Nopember 2006

http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/04/02/nrs,20040402-03,id.html

http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-347-air-mengalir-sampai-banjir.html

http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result

One response

  1. ternyata banjir di sono udah ratusan tahun. kini solusinya harusnya makin komplek. tp pergantian pemimpin demi pemimpin selalu gagal. mungkin butuh pemimpin yg “real”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: