Tirto Adhi Soerjo dan Pergerakan Nasional

Membicarakan kurun pergerakan nasional Indonesia, jika setiap orang Indonesia di tanya pasti akan teringat akan organisasi Boedi Oetomo. Selama ini Boedi Oetomo senantiasa melekat dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia sebagai organisasi pelopor. Jadilah tanggal berdirinya Boedi Oetomo, 20 Me i 1908, sebagai hari kebangkitan nasional yang kita peringati hingga kini. Belakangan, di beberapa artikel di internet dan media cetak yang mempertanyakan kembali pemilihan tanggal 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional. Jadi, ada sebuah pertanyaan menarik, “apa benar Boedi Oetomo merupakan organisasi pelopor pergerakan nasional di Indonesia?”.
Lebih jauh penulis-penulis artikel-artikel tersebut memberikan penjelasan bahwa sebenarnya yang layak menyandang predikat sebagai organisasi pelopor adalah Sarikat Dagang Islam. Ada pula yang menyebut Sarikat Islam. Berbagai alasan dan “data” mereka tunjukkan untuk memperkokoh pendapatnya. Dari sinilah penulis merasa tertarik untuk mencari kejelasannya lebih lanjut. Karena di dalam tulisan-tulisan tersebut terdapat beberapa kerancuan yang cukup mencolok.
Terlepas dari polemik tersebut, dalam tulisan ini penulis ingin menampilkan seorang tokoh yang barangkali telah dilupakan perannya. Seorang tokoh yang cukup memiliki andil besar dalam periode pelik zaman pergerakan nasional Indonesia. Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Karena beberapa keterbatasan, tentu tidak mungkin menyusun secara detail mengenai pribadi dan kehidupannya. Dalam tulisan ini hanya penulis sajikan perannya dalam ranah organisasi pergerakan. Dan sekaligus tulisan ini juga menjadi sebuah bahan pertimbangan untuk menjawab pertanyaan yang tersebut di atas.

R.M. Tirto Adhi Soerjo

Sekitar tahun 1906-07 seorang pensiunan dokter Jawa di Yogyakarta, Mas Ngabehi Wahidin Soediro Hoesodo mengadakan perjalanan berkeliling Jawa. Dokter Wahidin bermaksud mendirikan sebuah studiefonds, sebuah lembaga pendanaan bagi pemuda yang cakap namun tidak mampu. Sasaran pertama beliau adalah para pejabat-pejabat pemerintahan, namun di kalangan ini gagasan beliau tidak mendapat respon yang berarti. Kemudian Dokter Wahidin mengalihkan sasarannya kepada para pelajar di sekolah-sekolah Belanda.
Pemikiran Dokter Wahidin mendapat respon yang baik di kalangan pelajar STOVIA. Bahkan mereka mengusulkan agar gagasan itu diperluas. Caranya dengan mendirikan sebuah perkumpulan dan studiefonds tersebut merupakan bagian dari kegiatan perkumpulan tersebut. Muncullah Raden Soetomo dan Raden Gunawan Mangoenkoesoemo ke muka dengan mendirikan sebuah organisasi yang kita kenal sebagai Boedi Oetomo [2].
Patut dicatat pula, bahwa bukan hanya Dokter Wahidin yang berkeliling untuk mempropagandakan cita-citanya memajukan kaum bumi putra. Hal serupa juga dilakukan oleh R. M. Tirto Adhi Soerjo. Sejauh mana beliau berkeliling, tak ada catatan pasti yang dapat menjelaskannya. Hanya dari salah satu tulisannya di harian Medan Prijaji beliau mengatakan kegiatannya itu.
Dalam pada tahun 1906 ketika kita keliling di Hindia Olanda, maka pada pertemuan kita dengan raja-raja yang memerintah sendiri kerajaannya dan dengan berjenis-jenis orang dari rupa-rupa kasta, maka hampir terbit dari satu mulut kita dapat persilaan akan mencari daya upaya supaya adalah persarikatan umum yang memperhatikan hal kita anak Hindia yang sia-sia itu.
Sejauh yang dapat dilacak oleh Pramoedya, R. M. Tirto melakukan “pengembaraan” ke Maluku sekitar 1905-1906 [4]. Dan sekembalinya dari Maluku pada 1906, R. M. Tirto mengunjungi beberapa pembesar bumi putera di Batavia. Tujuannya jelas untuk mencari dukungan dalam mendirikan sebuah organisasi.
R. M. Tirto pertama kali mendatangi R. M. Prawirodiningrat, seorang jaksa kepala di Batavia. Dari sana beliau berhasil mendapatkan dukungan. Sekaligus R. M. Prawirodiningrat menyarankan agar R. M. Tirto mendatangi pejabat commandant district Mangga Besar, Thamrin M. Thabri. Menurut R. M. Prawirodiningrat, Thamrin merupakan pejabat bumi putra yang cukup disegani dan punya pengaruh luas. R. M. Tirto setuju akan usul R. M. Prawirodiningrat dan seperti yang diharapkannya, Thamrin pun mendukung.
Sarikat Priyayi : Eksperimen Pertama yang Gagal
R. M. Tirto segera bertindak cepat dan di tahun itu juga (1906), beliau dan pejabat-pejabat bumi putra yang mendukungnya mendirikan Syarikat Prijaji. Setelah meresmikan organisasinya dan membentuk pengurus pusatnya sebagai berikut:
  • Presiden : R. M. Prawirodiningrat (jaksa kepala Batavia)
  • Anggota : Thamrin M. Thabrie (Commandant District Mangga Besar)
  • Taidji’in Moehadjilin (Commandant District Tanah Abang)
  • Bachran (Commandant District Penjaringan)
  • Sekretaris : R. M. Tirto Adhi Soerjo (Journalist di Weltevreden)
R. M. Tirto sendiri yang membuat anggaran dasar dan rumah tangga Syarikat Prijaji dan membacakannya dalam peresmian itu. Untuk keanggotaannya, pengurus pusat Syarikat Prijaji mewajibkan setiap pendaftarnya untuk membayar iuran sebesar f 10 untuk mereka yang berpenghasilan lebih dari f 100 sebulan dan sebesar f 0,50 untuk rata-rata anggota.
Sangat disayangkan karena tak ada catatan yang memberikan keterangan perihal kongres-kongres atau kegiatan Syarikat Prijaji di awal pendiriannya. Namun dapat dipastikan bahwa Syarikat Prijaji membuat sebuah surat kabar mingguan Medan Prijaji sebagai organ organisasi untuk menyuarakan aktivitas dan cita-citanya. Terbit pertama kali pada 1907 dalam format mingguan dan sejak tahun 1909 berubah menjadi harian. Dalam terbitan awal tahun ketiganya inilah dapat ditemukan keterangan mengenai kegiatan Syarikat Prijaji sebagaimana yang diwartakannya melalui pamflet ini.
Tuan-tuan!
Kita orang yang bertanda di bawah ini sudah ambil mufakat mendirikan satu perhimpunan antara priyayi-priyayi dan bangsawan Bumiputera bernama Sarikat Priyayi, bermula buat di Betawi saja, akan nanti bercabang di antero tanah Hindia pada masing-masing tempat akan diadakan afdeeling dari perhimpunan ini, yang maksudnya memperhatikan hal pengajaran anak kita priyayi dan bangsawan Bumiputera dengan mendirikan satu studie fonds, maka dalam maksud itu hendak di perhatikan:
1. Mendirikan rumah pemondokan di Betawi guna anak murid yang ayahnya tinggal di lain negeri atau di luar kota Betawi, yaitu murid-murid yang sekolah di kota Betawi. Dalam rimah pemondokan ini murid-murid itu dapat pemeliharaan baik sedang pembayaran buat makan dan tumpangan dibikin sangat ringannya serta perlu dibuka buat murid yang tidak mampu itupemondokan percuma.
2. Pada rumah pemondokan itu hendak didirikan sekolah dasar (frobel onderwijs) buat memudahkan anak-anak yang akan mengunjungi sekolahan Belanda, juga diadakan Hollandsche Cursus buat orang yang adiwasa atau anak murid yang sudah tidak ada pengharapan buat dapat diterima di sekolah Belanda.
3. Membantu belanja murid yang orang tuanya tidak mampu dan murid yang maju pengajarannya untuk meneruskan belajar hingga dapat hak yang tak boleh disangkal karena surat ujian yang diperolehnya, yaitu hak mendapat pekerjaan yang pantas, dengan perjanjian nanti murid itu akan pulangkan kembali belanja itu dengan mencicil jika murid itu sudah bekerja.
4. Membuka studie-beurs guna belanja murid-murid yang kepandaiannya melebihi, belanja yang demikian ini tidak dipulangkan lagi.
5. Mengadakan perkumpulan beberapa jenis buku yang berfaedah bukan buat murid-murid saja, juga buat anggota perhimpunan Sarikat Priyayi……
Cukup mengherankan mengetahui pamflet ini dapat ditemui pada terbitan tahun ketiga Medan Prijaji. Mengapa tidak pada terbitan awalnya di tahun 1907? Dapat diduga bahwa Syarikat Prijaji mengalami stagnasi. Kaum priyayi yang jadi anggotanya adalah kaum yang sudah mapan. Sangat sulit mengharapkan gerakan dari mereka yang mau bersusah payah. Dalam terbitan tahun ketiga itu juga di halaman yang lain terdapat pemberitaan perihal meninggalnya dua pimpinan pusatnya. Akhirnya kepemimpinan diambil alih oleh Thamrin M. Thabrie.
Terlepas dari stagnasi yang dialami organisasi ini, patut kita perhatikan bahwa Syarikat Prijaji memiliki cita-cita untuk berkembang di seluruh Hindia Belanda. Tampak bahwa Syarikat Prijaji tidak membatasi lingkup keanggotaannya. Dengan pendirian afdeeling-afdeeling di luar Batavia dan rencana meluaskan gerakan ke seluruh Hindia Belanda menunjukkan bahwa Syarikat Prijaji bukanlah organisasi berbasis kesukuan. Barangkali mereka tidak menyebut cita-cita nasionalisme secara gamblang, namun indikasi kearah itu dapat kita lihat dari pamflet di atas. Dan dilihat dari segi administrasi dan struktur organisasi, jelas Syarikat Prijaji telah menerapkan “cara-cara Eropa”.
Sayang sekali sangat sedikit keterangan yang bisa di dapat tentang kegiatan-kegiatannya dan perkembangannya lebih lanjut. Apakah misinya menyebar ke seluruh Hindia Belanda terlaksana? Sulit untuk ditelusuri. Yang mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan tentang kehidupan Syarikat Prijaji adalah pesatnya perkembangan Medan Prijaji ternyata jauh lebih baik daripada organisasi yang menaunginya. Pada salah satu edisi Medan Prijaji tahun ke-3 atau 1909, diketahui bahwa R. M. Tirto sedang mendirikan lagi sebuah organisasi baru. Kenyataan bahwa Medan Prijaji tetap hidup [8] dan kegiatan R. M. Tirto hendak mendirikan sebuah organisasi baru setidaknya dapat memberi petunjuk bahwa Syarikat Prijaji sudah tidak berpengharapan lagi.
Sepeninggal Sarikat Priyayi : Sarikat Dagang Islamiah hingga Sarikat Islam
Pada 27 Maret 1909, di rumah R. M. Soerjo di Bogor terjadi pertemuan untuk pembentukan sebuah organisasi baru. Berdirilah Sarikat Dagang Islamiah di Bogor. Berbeda dengan Sarikat Prijaji yang menggaet para pegawai dan pekerja pemerintahan dari golongan pribumi (dan ternyata tidak efektif), R. M. Tirto menjadikan berdagangan dan Islam sebagai sarana untuk menyatukan rakyat Hindia Belanda dalam organisasinya.
R. M. Tirto menyadari bahwa pegawai pemerintahan hanyalah selapisan kecil saja dari masyarakat Hindia Belanda. Oleh karena itulah beliau menjadikan Islam sebagai asas organisasinya karena mayoritas rakyat Hindia Belanda adalah muslim. Sedangkan perdagangan beliau pilih sebenarnya mengacu pada “kaum mardika”, yaitu mereka yang penghidupannya tidak berasal dari pengabdian kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda. Akhirnya Sarikat Dagang Islamiah berdiri pada 5 April 1909.
Sarikat Dagang Islamiah pusat berkedudukan di Bogor. Segera setelah pendiriannya, dibentuklah pimpinan pusatnya dengan susunan sebagai berikut :
  • Presiden : Sjech Achmad bin Abdoerachman Badjenet (saudagar)
  • Wakil Presiden : Mohamad Dagrim (dokter)
  • Komisaris : Sjech Achmad Said Badjenet (tuan tanah)
  • Sjech Galib bin Said bin Tebe (tuan tanah)
  • Sjech Mohamad bin Said Badjenet (tuan tanah)
  • Mas Railoes (tuan tanah)
  • Haji Mohamad Arsad (saudagar)
  • Kasir : Sjech Said bin Abdoerachman Badjenet
  • Sekretaris Advisor : R. M. Tirto Adhi Soerjo.
Kantor pusatnya berada di gedung sewaan di daerah Tanjakan Empang, Bogor. Secara administratif SDI hanya mendapatkan ijin dari Kepala Negeri Bogor dan belum mendapat ijin resmi dari Gubernemen. Namun begitu kegiatan organisasi tetap berjalan dan bahkan SDI mengangkat C. J. Feith, asisten reseden Bogor, sebagai pelindung.
Untuk memperluas gerakannya SDI mengirimkan propagandis-propagandisnya ke daerah-daerah dan mendirikan afdeeling di beberapa kota di seluruh Hindia Belanda. Dalam sebuah tulisannya di Medan Prijaji Th. IV No. 9, 5 Maret 1910 R. M. Tirto menerangkan bahwa SDI telah menghimpun anggota hingga mencapai 20.000 orang di seluruh Hindia Belanda. Sejauh mana kebenarannya belum didapatkan bukti yang pasti. Setidaknya dapat diindikasikan bahwa SDI banyak menarik minat rakyat dan karena itu cepat menjadi besar.
Seperti yang tertera pada namanya, SDI merupakan organisasi para pedagang yang dipersatukan dengan semangat Islam. Namun beberapa gagasan dan program Sarikat Prijaji juga masuk dalam rencana kerja SDI, yaitu hendak mendirikan sekolah dagang dan pertukangan. Namun sejauh yang diketahui hingga sekarang belum pernah SDI mendirikan satu sekolah pun di Hindia Belanda.
R. M. Tirto sendiri sering berkeliling untuk mempropagandakan SDI. Dan dari perjalanannya ini beliau mengenal seorang pedagang batik asal Solo bernama Haji Samanhoedi. Haji Samanhoedi kemudian memimpin SDI Afdeeling Solo sebagai cabang SDI Bogor. Sejak saat itu, Haji Samanhoedi menjadi orang kepercayaan R. M. Tirto. Ketika pada 1912 R. M. Tirto menghadapi perkara perdata karena utang-utangnya hingga akhirnya dijatuhi hukuman buang ke Ambon selama 6 bulan, Haji Samanhoedi mendapatkan mandat untuk menggantikannya mengurus SDI.
Sepeninggal R. M. Tirto, sejak tanggal 22 Agustus 1912 penerbitan Medan Prijaji dihentikan [12]. Sejak saat itu R. M. Tirto menjalani hukuman buang di Ambon. Meskipun dari Ambon beliau tetap bisa melakukan kegiatan tulis-menulis, tapi semua itu tidak ada artinya lagi. Karena kasus perdatanya itu, nama dan reputasi R. M. Tirto telah jatuh. SDI pun menjadi sepenuhnya berada dalam penguasaan Haji Samanhoedi.
Langkah langkah yang dilakukan Haji Samanhoedi selanjutnya amat menentukan kelangsungan kehidupan SDI. Dalam sebuah risalah yang dikemukakan Dr. Moh. Hatta dalam sebuah ceramah, beliau menulis :
Nama Sarikat Dagang Islam tidak lama, kata Dagang dihilangkan, kemudian jadi Sarikat Islam, sebagaimana direncanakan oleh R. M. Tirto Adisuryo. Peraturan dasarnya disusun pada tanggal 9 Nopember 1911 :
Fasal 1 : perkumpulan Sarikat Islam akan didirikan pada tiap-tiap tempat di mana terdapat anggota sekurang-kurangnya 50 orang. …
Fasal 2 : Tujuannya.
1. Mencapai supaya anggota satu sama lain bergaul sebagai saudara. Dasarnya ialah : Islam, menurut perseorangan, satu sama lain sebagai saudara.
2. Memperkuat semangat persatuan dan bantu membantu antara umat Islam. Masih didasarkan pada Islam.
3. Yang lain-lain dengan jalan sah yang tidak bertentangan dengan undang-undang negeri dan pendirian pemerintah, jadi tidak boleh bertentangan dengan peraturan negeri dan pemerintah, meninggikan derajat bangsa untuk mencapai perkembangan kemajuan dan kebesaran negeri …
… setahun setelah Tirto Adisuryo membuat Sarikat Islam, menyusun peraturan, dibuat lagi, berdasarkan notaris 10 September 1912.
Nyatalah di sini bahwa sebenarnya cikal bakal pendirian SI adalah prakarsa R. M. Tirto. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Drs. Susanto Tirtoprodjo, SH dalam Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Hanya saja Susanto lebih menitik beratkan proses pendiriannya kepada peran Haji Samanhoedi. Pada perkembangan selanjutnya Haji Samanhoedi mengajak serta seorang cendekiawan muslim yang taat dari Surabaya, H. O. S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto mengusulkan agar organisasi jangan dibatasi pada para pedagang saja.
Bersama-sama Tjokroaminoto, Haji Samanhoedi berusaha melanjutkan kelangsungan organisasi “peninggalan” R. M. Tirto ini. Selanjutnya mereka berusaha agar SI mendapatkan status badan hukum dari Gubernemen. Namun usaha memperolah pengakuan hukum tersebut gagal setelah keluarnya surat penolakan dari Gubernur Jendral Indenburg tertanggal 30 Juni 1913. Dalam surat tersebut Gubernur Jendral tidak mengakui SI sebagai perkumpulan yang mencakup seluruh Hindia Belanda, tetapi Gubernur Jendral mengakui setiap afdeelingnya sebagai sebuah badan hukum. Jadi SI sebuah organisasi lokal di setiap daerah-daerah. Sampai tahun 1914, telah terdapat 56 Afdeeling SI di seluruh Hindia Belanda yang diakui sebagai badan hukum.
Masa-masa Akhir R. M. Tirto Adhi Soerjo
Sejak pembuangannya ke Ambon, R. M. Tirto, praktis beliau tak mampu berbuat apa-apa dalam perkembangan kegiatan-kegiatan di Jawa. Medan Prijaji telah diberangus, dan SI jatuh ke tangan H. O. S. Tjokroaminoto, dan beberapa usaha yang dirintisnya telah diambil alih. R. M. Tirto telah berakhir.
Sebenarnyalah hanya 6 bulan R. M. Tirto menjalani masa pembuangan, dan semua yang telah dirintis dan dibesarkannya selama bertahun-tahun kandas. Tak bisa ditolak bahwa sikapnya yang tidak mampu membatasi diri juga turut menyebabkan usahanya hancur. R. M. Tirto kembali ke Jawa dalam keadaan tak memiliki apa-apa. Dan tak berapa lama setelah itu beliau meninggal di Batavia. Tidak jelas apa sebabnya. Pada waktu itu Mas Marco Kartodikromo menjelaskan bahwa R. M. Tirto menderita sakit. De Locomotief mengumumkan bahwa pada waktu itu beliau “telah sepenuhnya rusak ingatan dan takut orang”. Akhirnya pada tanggal 7 Desember 1918, R. M. Tirto meninggal dunia di Batavia. Seorang sahabatnya, R. Goenawan menjelaskan bahwa beliau menderita disentri.
Daftar Pustaka :
L. M. Sitorus, 1951, Sedjarah Pergerakan Kebangsaan Indonesia, Jakarta : Pustaka Rakjat.
Paramoedya Ananta Toer, 1985,  Sang Pemula, Jakarta : Hasta Mitra.
Susanto Tirtoprodjo, 1970,  Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, Jakarta : PT Pembangunan.
Depok, 10 April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: