MEMPERTIMBANGKAN HADITS SEBAGAI SUMBER SEJARAH

Kita tahu bahwa sumber sejarah dibagi dalam dua kelompok, primer dan sekunder. Lalu penulis mencoba menghubungkan konsep sumber sejarah tersebut berkenaan dengan hadits nabi Muhammad saw. Itulah titik tolak penulisan artikel ini. Penulis ingin coba menguraikan keberadaan hadits nabi Muhammad saw dalam kaitannya sebagai sumber sejarah. Lebih spesifik lagi, termasuk sumber sejarahkah hadits itu?

Terlebih dahulu perlu dijabarkan tentang sumber sejarah primer dan sekunder. Dikatakan sumber sejarah primer yaitu kesaksian yang diperoleh dari pelaku sejarah secara langsung. Dan dikatakan sumber sejarah primer yaitu keterangan-keterang yang didapat dari manuskrip-manuskrip kuno seperti prasasti, kitab, dan sejenisnya. Jadi jelaslah perbedaan yang tampak pada kedua jenis sumber sejarah tersebut. Sedangkan mengenai hadits dapat dijelaskan sebagai perkataan, perbuatan, dan taqrir atau persetujuan nabi akan suatu hal yang berkenaan dengan syariat, hukum, muammalah, ibadah dan lain-lain.

Dari pernyataan definisi hadits di atas, tampak bahwa hadits lebih terspesifikasi dalam bidang keagamaan. Namun begitu dalam suatu hadits dapat kita temukan kesaksian sejarah. Terlebih hadits mempunyai asbabul wurud, sebab-sebab terjadinya hadits yang mana di situ terkandung sebab-sebab sosiologis masyarakat awal Islam. Terutama tentang keadaan masyarakat arab saat itu.  Akhirnya karena saya belum menemukan konsepsi yang memuaskan, esoknya saya menemui Pak Shodiq, guru sejarah saya.

Ketika saya tanya tentang kebingungan saya, beliau menjawab “bisa”. Tegas. Menurut beliau hadits juga termasuk sumber sejarah, tepatnya sumber sekunder. Karena meskipun hadits adalah perkataan Nabi Muhammad saw, tapi apa bisa kita dengar atau kita verifikasi untuk sekarang ini. Tidak bisa. Saat ini hadits telah ditulis oleh para perowinya. Karena sifatnya yang berubah jadi kebendaan berupa kitab maka hadits termasuk sumber sejarah sekunder.

Kata beliau hadits bisa jadi sumber sejarah dalam batas-batas tertentu. Yaitu hadits yang subtansinya menginformasikan tentang sebuah peristiwa, bukan yang sifatnya dogmatis atau penjelasan-penjelasan agama. Baik itu hadits shohih atau pun yang masih diragukan alias dhoif.

Tapi ada catatan penting. Kata beliau hadits bisa jadi sumber sejarah dalam batas-batas tertentu. Yaitu hadits yang subtansinya menginformasikan tentang sebuah peristiwa, bukan yang sifatnya dogmatis atau penjelasan-penjelasan agama. Baik itu hadits shohih atau pun yang masih diragukan alias dhoif. Mengapa begitu? Hal itu kembali pada sifat informasi sejarah yang memang multiversi. Tak hanya butuh satu sumber. Tak cukup hadits shohih saja atau dhoif saja. Semua bisa, karena nantinya informasi-informasi tersebut akan diolah dan direduksi agar menjadi informasi yang utuh.

Pada hemat saya pun, misalnya kita ambil hadits dhoif sekalipun kalau memang memiliki relevansi dan penjelasan yang cukup bisa saja dipertimbangkan. Dan jika nantinya tidak valid, akhirnya akan tereduksi juga. Tinggal bagaimana kejelian peneliti sejarahnya. Kembali lagi bahwa sejarah itu memang multiversi, tak cukup hanya satu sudut pandang.

Akhirnya kansepsi yang dijelaskan pak Shodiq bisa memuaskan saya. Cukup detail beliau menjelaskan. Saya suka gaya beliau dalm menjelaskan suatu masalah. Banyak sudut pandang. Memang, kita tidak bisa hanya menggantungkan pada satu sumber. Itulah yang membuat saya makin semangat belajar sejarah.

 

Kediri, 9 Maret 2009

One response

  1. Sejak dulu Hadist itu memang jadi sumber sejarah bos, tp ilmu pengtahuan sekuler barat tidak mengakui dan berusaha menampik hal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: