Jalan Raya Pos, Jalan Daendels; Pram’s Last Masterpiece

Bisa dibilang Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu dari sedikit novelis terbaik yang pernah dilahirkan Indonesia. Banyak karya-karyanya yang memukau banyak kalangan. Apalagi jika kita membaca tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) yang merupakan masterpiece-nya. Sudah sekitar 50 karya lebih yang telah lahir dari tangan dinginnya. Gaya ucapnya khas dan mempribadi tetap konsisten, termasuk ketika beliau memasuki usia yang begitu sepuh. Dan kali ini saya coba untuk meresensi karya terakhir beliau sebelum menghembuskan nafas terakhir pada 30 April 2006, “Jalan Raya Pos, Jalan Raya Daendels” (selanjutnya disebut JRD).

 

Kali ini Pram (sapaan akrab beliau) tidak sedang menulis sebuah novel untuk pembaca setianya. JRD merupakan sebuah reportase sejarah tentang pembangunan Jalan Raya Pos yang diprakarsai Maarschalk en Gouverneur General Meester Herman Willem Daendels pada 1809. Reportase yang disajikan dalam bertuk tuturan perjalanan ini bisa katakan sebagai pesan terakhir Pram untuk bangsa Indonesia. Sebuah tulisan bernada satire tentang bangsa Indonesia yang kaya tapi lemah dan terjajah.

 

Jalan Raya Pos atau yang lebih dikenal sebagai Jalan Daendels merupakan proyek yang sangat prestisius saat itu. Membentang 1000 kilometer di bagian utara Pulau Jawa dari Anyer di Provinsi Banten saat ini Hingga Panarukan di Jawa Timur. Dibangun “hanya” dalam waktu satu tahun dengan mengerahkan tenaga rodi rakyat Hindia Belanda yang tak berdosa. Pembangunannya yang demikian ini menjadikan proyek ini sebagai salah satu tragedi genosida terbesar dalam sejarah Hindia Belanda. Diperkirakan 12.000 (ini hanya angka perkiraan yang dibuat pemerintah kolonial Inggris, bisa saja lebih) rakyat tak berdosa tewas karena kerja paksa dan wabah malaria selama pembangunan jalan ini. Sebuah peringatan untuk kita para generasi penerus.

 

Pram dengan begitu teliti menampilkan data-data historis yang begitu detail berikut pengalaman-pengalamannya dalam buku ini. Secara sekilas namun intens, Pram juga menyisipkan kisah-kisah genosida yang pernah menimpa bangsa ini, baik oleh kaum penjajah maupun oleh bangsa Indonesia sendiri. Secara runtut Pram menjelaskan proses pembangunan Jalan Daendels sejak dari titik nol di Anyer hingga Panarukan. Dari kota ke kota Pram menyajikan fakta-fakta menarik dan data-data historis tentang proses pambangunan jalan ini. Dan ternyata Jalan Daendels bukanlah sebuah jalan “baru” yang dibangun oleh Daendels. Beberapa ruas jalan telah ada sejak berabad-abad sebelum orang Eropa menginjakkan kakinya di Pulau Jawa. Daendela hanya memperlebar dan memperbaiki infrstruktur jalan sehingga dapat dilalui segala jenis kendaraan. Data-data mengenai jalan kuno tersebut dengan metode penuturan disajikan dengan sangat baik oleh Pram.

 

Tidak berbeda jauh dengan karya-karyanya yang lahir sejak 1950-an, JRD juga cukup kental nuansa kemanusiaannya. Hal ini tentu saja tak lepas dari pandangan politik Pram yang kontroversial dan ada yang menganggap “kekiri-kirian”. Hanya saja intensitasnya tak seberapa jika dibandingkan dengan karya-karyanya yang terdahulu. Jika di perhatikan dengan seksama, beberapa kali Pram terasa tak fokus dan mengalihkan topik pembicaraan ke masalah lain yang kurang berhubungan dengan materi yang sedang dibahasnya. Hal ini dapat kita temui di beberapa bagian buku ini. Untuk pembaca yang kurang sabar barangkali akan menimbulkan kebingungan. Dan lagi, di beberapa bagian cukup terasa kalau Pram sedang “marah-marah”. Namun begitu, karya kecil Pram ini patut kita beri apresiasi yang terhormat. Di masa senjanya Pram masih mampu menyajikan sebuah reportase sejarah yang sedemikian detail dan cukup akurat. Sebuah prestasi yang tak banyak dimiliki penulis-penulis negeri ini.

 

Seperti halnya nasib bangsa ini di msa lalu, Pram sendiri merupakan sosok penulis Indonesia yang kontroversial dan penuh vitalitas. Dikucilkan oleh komunitas sastrawan karena track record-nya sebagai budayawan LEKRA yang vokal dan tak kenal kompromi, tapi juga dipuji karena kualitas karya-karyanya yang mendunia. Selamat membaca.

 

Kediri, 23 April 2010

One response

  1. Reblogged this on wo_chaaa and commented:
    reblog ya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: