Catatan Seorang Demonstran

Barang kali judul buku ini diambil dari salah satu puisi Taufiq Ismail dalam antologi “Tirani dan Benteng”. Saat ini sangat sulit sekali menemukan buku ini di toko buku. Saya sendiri hampir satu tahun mencari buku ini, dan akhirnya ketemu di Shopping (sebuah pasar buku) di Yogayakarta. Hanya dua kali saya menjumpai buku ini. Yang pertama tentu  saja di Yogyakarta tadi, dan di toko buku di area kampus UIN Supel Surabaya. Heran juga tidak menemukan buku ini di toko buku bonafit macam Togamas dan Gramedia. Padahal isinya sangat bagus buat para pemuda Indonesia.

“Catatan Seorang Demonstran” merupakan buku harian Soe Hok Gie. Anda belum kenal Gie? Kalau pembaca adalah seorang mahasiswa, sangat disayangkan sekali jika anda tidak mengenal seorang Gie. Kenapa begitu? Karena dulu saaat saya bertemu dengan seorang pedagang koran dan saya ngobrol dengannya, ia malah cerita tentang Gie. Ini bukan bualan, ia tukang koran kenalan saya ini sangat mengenal Gie. Tapi itu bukanlah masalah penting. Yang penting adalah mulailah mengenal seorang Soe Hok Gie, seorang pelopor gerakan mahasiswa UI tahun 66 saat peristiwa G 30 S meletus di Jakarta. Ia adalah orang yang jujur, berani, tegas, dan ulet. Lebih dari itu ia adalah orang Indonesia “lahir-batin”.

Dan salah satu jalan mengenalnya adalah dengan membaca buku ini. Sebuah catatan harian yang ditulis saat Gie berumur sekitar 15 tahun sampai 2 hari sebelum ia meninggal di usianya yang ke 27. Isinya sangat menarik dan dengan cukup detail memotret kegelisahan dan liku hidup pemuda-pemuda Indonesia menjelang keruntuhan rezim orde lama. Gie dengan gaya tulisannya yang khas, bercerita tentang sekolahan, pengemis di jalan, pesta, demonstrasi mahasiswa tahun 66, pendakian gunung, dan suasana kisruh politik saat itu. Tak lupa pula ia bercerita tentang cinta. Catatan-catatannya bisa saya katakan sebuah fragmen-fragmen sebuah novel kehidupan. Menarik sekali.

Banyak sekali cuplikan-cuplikan peristiwa yang sangat menarik dalam buku ini. Salah satunya adalah ketika Gie bertemu dengan seseorang yang jika dilihat dari pekaiannya bukanlah seorang pengemis. Gie menceritakan bahwa orang itu memakan kulit mangga karena lapar. Peristiwa yang sangat biasa barangkali, tapi akan jadi sangat miris jika peristiwa ini terjadi dekat sekali dengan istana kepresidenan yang glamor. Dan Gie benar-benar mengalaminya. Betapa kontrasnya kehidupan seorang rakyat Indonesia yang punya kekayaan alam berlimpah tapi kelaparan dan para elit politik yang berfoya-foya dengan istri-istrinya di istana. Sebuah sentilan kritis dan tajam kepada pemerintahan Soekarno waktu itu. Peristiwa ini benar-benar membekas di hati Gie. Setelah peristiwa ini, catatan-catatannya benar-benar merupakan kegelisahan seorang rakyat Indonesia yang mendapati ketidak adilan di sekelilingnya.

Catatn-catatannya bersifat reflektif dan spontan. Terasa sekali kejujuran seorang Gie. Namun karena spontanitas inilah kadang-kadang tulisannya terasa agak ngawur dan memihak. Atau beberapa catatatannya yang terkesan seenaknya sendiri. Agak mengganggu juga awalnya. Tapi mungkin itulah efek dari kejujurannya sebagai seorang mahasiswa.

Pertama kali muncul dalam edisi stensilan yang dipelopori oleh beberapa kawannya. Lalu setelah melewati masa sepuluh tahun tanpa kejelasan, pada tahun 1983 buku ini diterbikan oleh LP3ES. Sempat menjadi buku paling laris di tahun-tahun awal penerbitannya. Namun lama-lama buku ini seperti menghilang ditelan zaman. Sampai Riri Riza dan Mira Lesmana barinisiatif mengangkat kisah hidup Gie yang singkat itu menjadi sebuah film bertajuk “GIE”. Sangat tepat kiranya jika LP3ES menerbitkannya lagi dan mendistribusikannya secara lebih luas di toko-toko buku sekaliber Togamas dan Gramedia. Sayang sekali jika buku-buku langka seperti ini (saya kira di Indonesia, buku seperti ini hanya ada dua. Yang satu lagi adalah catatan harian seorang santri bernama Ahmad Wahib asal Madura)  tidak terjamah oleh pemuda-pemuda kita yang butuh inspirasi.

Kediri, 8 Mei 2009

One response

  1. [LIMITED STOCK] CATATAN SEORANG DEMONSTRAN

    Penulis : Soe Hok Gie
    Penerbit : Pustaka LP3ES
    Halaman : xxx+385 hlm (SC)
    Ukuran : 15.5 x 23
    Harga : Rp 60.000

    ask-order-request-buy.
    send ur message to our FB or 0821.3382-2284 – 0899.4545.573

    ‘Catatan Seorang Demonstran’ Sebuah buku tentang pergolakan pemikiran seorang pemuda, Soe Hok Gie. Dengan detail menunjukkan luasnya minat Gie, mulai dari persoalan sosial polotik Indonesia modern, hingga masalah kecil hubungan manusia dengan hewan peliharaan. Gie adalah seorang anak muda yang dengan setia mencatat perbincangan terbuka dengan dirinya sendiri, membawa kita pada berbagai kontradiksi dalam dirinya, dengan kekuatan bahasa yang mirip dengan saat membaca karya sastra Mochtar Lubis.

    “Gie”, banyak menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat kaleng yang memaki-maki dia ” Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibunya pun sering khawatir karena langkah-langkah “Gie” hanya menambah musuh saja.

    “Soe Hok Gie” bukanlah stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah pecinta kalangan yang terkalahkan dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.

    Semangat yang pesimis namun indah tercermin dimasa-masa akhir hidup juga terekam dalam catatan hariannya : “Apakah kau masih disini sayangku, bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.”

    “aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan bersama hidup yang begitu biru”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: