Bangsa Barat di Indonesia; dari Pengembaraan Hingga Penjajahan

Berkelana ke Timur

Ditutupnya perdagangan di Laut Tengah oleh Turki Ottoman membuat bangsa-bangsa Eropa kebingungan. Rempah-rempah yang mereka butuhkan untuk melewati musim dingin menjadi komoditas yang langka dan mahal. Hanya ada dua pilihan bagi Eropa, mencari sendiri rempah-rempah langsung ke sumbernya atau menyerang pelabuhan-pelabuhan Islam dan menjarah apa yang mereka inginkan. Terdesak oleh kebutuhan tersebut mulailah bangsa Eropa berusaha untuk mencari sendiri rempah-rempah dari sumbernya. Bertambahnya pengetahuan bangsa Eropa (yang dipelopori oleh Portugis) dalam hal pelayaran menjadikan tujuan itu lebih mudah. Mereka mendapat pengetahuan tersebut dari bangsa Cina.

Abad XIV hingga XVI merupakan saat-saat di mana pelaut-pelaut Eropa menjelajahi samudera untuk mencapai Asia. Yang paling awal adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh pelaut-pelaut Portugis. Bartolomeus Diaz berhasil sampai ke Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, dan setelah berlayar selama tiga tahun (1497-1499) akhirnya Vasco da Gama berhasil sampai di India. Setelah merebut pelabuhan Goa dari kerajaan Bijapur, Portugis menjadikannya sebagai pusat kegiatannya di Asia. Untuk memperlancar tujuannya itu Portugis menerapkan strategi sentralistik dalam berdagang di Asia. Barulah setelah memantapkan posisinya, Portugis dibawah komando Alfonso d’Alberquerque melanjutkan ekspansinya ke Malaka.

Di mata orang-orang Islam di sekitar jalur pelayaran bagian barat Nusantara, cara-cara yang dilakukan Portugis sangat mengganggu.  Hal inilah yang menyebabkan Portugis agak kesulitan mengembangkan perdagangannya di sekitar selat Malaka. Orang-orang Islam tidak menyukai praktek monopoli yang dipaksakan oleh Portugis. Jadi meskipun Malaka berhasil ditundukkan oleh d’Alberquerque pada 1511, hal ini tidak membawa pengaruh positif baginya. Kantong-kantong perdagangan rempah-rempah berangsur-angsur beralih ke Aceh dan Banten.

Untuk memuluskan monopolinya, d’Alberquerque mengirim dua armadanya ke Banten dan Maluku. Di bawah komando de Alvin, armada pertama berhasil mencapai Sunda Kalapa yang saat itu masuk ke dalam wilayah Pakuan Pajajaran. De Alvin segera membangun hubungan baik dengan Prabu Surawisesa. Kala itu Cirebon yang sudah memeluk Islam sangat mengkhawatirkan kedudukan Pajajaran. Bahkan Prabu Surawisesa meminta agar Portugis membangun benteng di Sunda Kelapa. Walaupun akhirnya Portugis gagal menguasai Sunda Kalapa karena keburu di serang oleh Fatahillah, namun hubungan dagang dengan Sunda Kelapa tetap terjalin baik, juga dengan Banten hingga pertengahan abad XVI.

Sementara itu, armada lain di bawah komando Antonio de Abreu dikirim ke Maluku untuk membangun monopoli atas perdagangan cengkeh di sana. Armada de Abreu mendapat sambutan bagus dari Sultan Ternate, Sultan Abi Lais. Dalam perkembangannya, Portugis yang memanfaatkan konflik Ternate dan Tidore, berhasil membangun bentengnya di Ternate pada 1522. Sampai 1570 , meskipun diselingi dengan pertikaian-pertikaian kecil, terjalinlah hubungan dagang cengkeh antara Ternate dan Portugis.

Kemudian, 85 tahun sejak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, datanglah bangsa Eropa kedua ke Nusantara. Bangsa yang untuk waktu-waktu selanjutnya begitu kukuh berkuasa di kepulauan ini, Belanda. Pada 5 Juni 1596, empat kapal Belanda berlabuh di pantai barat Sumatera. Delapan belas hari kemudian, 23 Juni 1596 sampailah mereka di Banten. Karena kebrangasan pemimpinnya, Cornelis de Houtman, kedatangan Belanda yang semula disambut dengan baik berbalik menjadi sebuah kebencian. Belanda terusir dari Banten dan terkatung-katung tidak bisa berlabuh di pantai utara Jawa. Akhirnya mereka tiba di Bali dan mendapat respon yang baik di sini. Dengan membawa rempah-rempah, Belanda melanjutkan pelayarannya menyusuri pantai selatan Jawa dan seterusnya kembali ke Eropa.

Namun setidaknya, dengan kembalinya Cornelis de Houtman membawa sejumlah rempah-rempah cukup untuk menyita perhatian pedagang-pedagang Belanda. Mereka menggalang dana dan memberangkatkan armada kedua di bawah komando Jacob van Neck. Pada 1599 rombongan van Neck berhasil mencapai Maluku dan membina hubungan baik dengan Ternate. Pada waktu itu hubungan Ternate dan Portugis sedang dalam klimaksnya. Namun belanda juga berhati-hati dalam mengambil langkah. Van Neck tak mau terburu-buru menyambut tawaran persekutuan Ternate untuk menyingkirkan Portugis. Tapi ketika Steven van der Haghen tiba di Ternate pada 1600, permintaan sultan akhirnya dipenuhi.

Meskipun dapat mengambil kemudahan dari merosotnya reputasi Portugis, tapi Belanda justru menghadapi ancaman dari dalam tubuhnya sendiri. Para padagang belanda saling bersaing karena tak ada badan koordinasi yang mengatur mereka. Berbeda dengan Portugis yang telah membangun pondasinya di Goa. Pernah tercatat di pengadilan Amsterdam adanya penuntutan sebuah perusahaan dagang atas perusahaan dagang lainnya karena suatu kerusuhan di Aceh. Tampak bahwa sebenarnya Belanda masih belum bersiap penuh untuk menyaingi Portugis di Nusantara.

Pada 1598, parlemen Belanda (staten general) memberi usulan untuk mengkonsolidasi para pedagangnya dalam suatu organisasi. Usulan perlemen ini barangkali terpengaruh keberhasilan van Neck yang meraup untung mencapai 400%. Namun usaha penyatuan itu harus menunggu selama empat tahun untuk mewujudkannya. Akhirnya, pada bulan Maret 1602 impian membangun persekutuan dagang itu terwujud. Di Ambon VOC (Vereenig-de Oost-indische Compagni)  didirikan dan berkantor pertama kali di sana. Pada tahun-tahun awal semua kegiatan VOC diatur sepenuhnya oleh 17 orang direktur (Heeren Zeventien). Dengan modal kerajaan sebesar 6,5 juta gulden mereka menggerakkan VOC dari kerajaan, bukan dari area kerjanya. Karena hal inilah tak begitu banyak kemajuan yang dibuat VOC, kecuali keberhasilannya penguasaan penuh di Ambon pada 1605.

Selama delapan tahun pertamanya semua kegiatan VOC praktis di komando dari kerajaan. Baru delapan tahun kemudian Heeren Zeventien menunjuk seorang gubernur jenderal. Parlemen Belanda juga memberikan hak kedaulatan kepadanya. VOC bertindak atas nama parlemen Belanda. Dan hanya untuk kepentingan dagangnya, dalam tiga tahun saja kerajaan mengirim 38 kapal bersenjata lengkap secara bertahap untuk menjamin kedudukannya di Nusantara.

Sementara VOC terus mengembangkan jaringannya di Nusantara, datang pula kongsi dagang Inggris (East Indian Company) yang lebih lambat perkembangannya. Armada Sir James Lancaster, armada pertama kerajaan Inggris, pertamanya berhasil mencapai Aceh pada bulan Juni 1602 dan meneruskan pelayarannya ke Banten. Juga sejumlah kecil kapal-kapal Prancis tampak berlalu lalang di sekitar perairan selat Malaka. Saat itu Portugis telah kehilangan semua dayanya di Nusantara. Portugis benar-benar habis saat VOC berhasil menaklukkan Malaka pada 1641.

Di timur VOC telah berhasil menghapus jejak Portugis sama sekali. Ternate yang megap-megap karena serang Spanyol meminta bantuannya untuk memulihkan kembali wibawa sultan Ternate. Tahun 1607, Ternate mengakui kedaulatan parlemen Belanda sebagai pelindungnya dan VOC mendapatkan hak monopoli di perairan Maluku. Kendati mendapat serangan-serangan dari sisa-sisa armada Portugis, rongrongan EIC, dan beberapa kali penyerbuan Spanyol, VOC benar-benar tak tergoyahkan di Nusantara bagian timur. Namun sebaliknya, kegemilangan di wilayah timur tidak terjadi demikian di barat. Aceh telah tumbuh menjadi imperium besar menggantikan Malaka. Praktis VOC hanya mampu bergerak bebas sebatas sampai Jambi dan Palembang. Di Makassar VOC juga menghadapi tantangan cukup berat dari kerajaan Gowa yang telah menjadi Islam. Gowa berkeras bahwa wilayahnya adalah wilayah perdagangan bebas dan tidak menerima monopoli VOC.

 

Menegakkan Hegemoni

Melihat semua kemajuan VOC tersebut apakah lantas dapat dikatakan bahwa VOC memperoleh keuntungan dari semua kegiatannya? Mungkin tidak sepenuhnya. Di banyak pelabuhan-pelabuhan Jawa dan Sumatra VOC belum sepenuhnya berhasil. Pertikaian-pertikaian dengan beberapa penguasa lokal cukup memperburuk citra VOC. Di Banten VOC yang telah berdagang di sana sejak 1603 tidak mampu mempertahankan hubungan baiknya dengan kraton Surosowan. Ambisi Gubernur Jenderal Coen untuk menguasai Jayakarta menjadikan hubungan itu memburuk.

Ternyata Inggris juga turut campur tangan dalam hal ini. Sultan Banten yang menjalin persahabatan dengan Inggris dan memintanya untuk menyerang Jayakarta. Pimpinan Inggris waktu itu dipegang oleh Thomas Dale. Tahun 1618 Banten telah memutuskan dan terjadilah bentrokan antara Banten-Inggris dan VOC. Setelah setahun bertahan, VOC tak mampu bertahan dan berencana untuk menyerah kepada Inggris. Banten yang khawatir bila Inggris akan menyusahkannya di kemudian hari membuat maksud itu batal.

Namun akhirnya pada Mei 1619 VOC mengirim lagi sebanyak 17 armada dan menyerang Jayakarta (yang sejak 12 Maret 1619 diubah namanya menjadi Batavia oleh Coen, meratakannya dengan tanah dan merebut kembali bentengnya. Gubernur Jenderal Coen benar-benar melaksanakan ambisinya atas Batavia. Ia membangunnya dan menjadikannya pusat kerajaan niaga VOC yang luas.

Tidak berhenti di sini saja, ternyata VOC masih harus berhadapan dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram dan Makassar yang masih berkeras tak mengakui monopoli VOC. Mataram yang menganggap VOC sebagai halangan untuk dapat menguasai Banten. Sejak awal memang hubungan antara VOC dan Mataram di bawah Sultan Agung sudah tidak cocok. Kendati dua kali usaha Sultan Agung melenyapkan Batavia pada kurun 1628-1629 gagal total, namun benteng VOC tetap terancam jatuh. Begitu pula yang terjadi di Makassar. Gowa baru benar-benar tunduk setelah melalui perang-perang yang melelahkan di perairan Makassar.

Nampak jelas bahwa kekuasaan-kekuasaan lokal, betapapun kecilnya tetap menjadi penghalang serius bagi kelangsungan usaha VOC. Daripada membuat perjanjian-perjanjian damai yang belum tentu berhasil, VOC akhirnya mengambil sikap yang lebih agresif. Termasuk cara-cara campur tangan langsung dalam pemerintahan di beberapa kekuasaan lokal Nusantara. Militerisme berkembang menjadi cara paling ampuh bagi VOC untuk memaksakan monopolinya. Dalam pelaksanaan politik ekspansionismenya, terdapat beberapa Gubernur Jenderal yang menonjol, diantaranya Antonio van Diemen (1636-1645), Joan Maetsuyker (1653-1678), Rijkof van Goens (1678-1681), dan tentu saja Cornelis Janszoon Speelman (1681-1704). Inilah yang barangkali bisa kita sebut sebagai dasar imperialisme Belanda di Nusantara yang pertama.

Begitulah VOC memembentuk hegemoni di kepulauan Nusantara, walaupun belum seutuhnya. Perang demi perang dan hasutan-hasutan menjadi senjata utamanya. Namun tanpa sadar justru hal itulah yang kian lama kian jelas membuatnya terpuruk. Biaya perang yang tak henti-hentinya terus membengkak, didukung tindakan petinggi-petingginya yang korup VOC telah menggali lubang kuburnya sendiri. Memang benar VOC telah menggenggam kekuasaan mutlak atas monopoli rempah-rempah di kepulauaan, namun itu saja tak cukup untuk mengembalikan neraca keuangannya yang kolaps dan inefisiensi pejabat-pejabatnya.

Tahun 1795 VOC telah memasuki kuburnya, izin usahanya dicabut dan tidak pernah lagi ada VOC sejak 1799. Kerajaan Belanda pun telah jatuh ke tangan Prancis. Hindia Belanda, begitulah kerajaan menamai wilayah peninggalan VOC, diambil alih oleh kerajaan. Lodewijk Napoleon, raja Belanda saat itu, segera mengubah wajah kerajaannya dan juga jajahannya. H. W. Daendels dikirim ke Jawa dan dengan tangan besinya segera ia merombak Jawa menjadi Prancis baginya. Memperbarui birokrasi dan mempersiapkan Jawa sebagai benteng menghadapi serbuan Inggris. Ia membagi Jawa dalam beberapa prefektur ala Prancis dan menjadikan para bupati sebagai pegawai pemerintahan kolonial. Karena tindakannya itu, ia lebih banyak mendapatkan kebencian daripada kehormatan.

Satu-satunya prestasi yang dapat ia banggakan hanyalah terbentuknya akses jalan pos dan militer dari Anyer di barat hingga Panarukan di Timur. De Grote Postweg, begitu ia menamai proyeknya, menjadikan Jawa lebih efisien kendati dibangun dengan tumbal ribuan penduduk pribumi melalui rodi. Inggris melaporkan jumlah korban rakyat pribumi yang tewas dalam pembangunan jalan ini mencapai 12.000 orang. Itu yang tercatat resmi, diperkirakan jumlah itu belumlah seluruhnya. Daendels terpaksa ditarik kembali ke Eropa dan sebagai penggantinya naiklah Jansen menjadi gubernur jendral tahun 1811.

Sebenarnya Jawa kala itu hanyalah tinggal menunggu waktu saja untuk jatuh. Raja Willem V yang direbut tahtanya oleh Lodewijk Napoleon ternyata bisa lolos dari kepungan dan dilindungi kerajaan Inggris di Kew. Tahun 1795, raja malang tersebut mengeluarkan instruksi agar wilayah jajahan Belanda diserahkan saja kepada Inggris. Beberapa wilayah VOC sebelum kedatangan Daendels sebenarnya telah jatuh ke tangan Inggris, diantaranya Padang dan Malaka sejak 1795 dan Ambon pada 1796. Jadilah Daendels dan Jansen hanya memperlambat saja kejatuhan Jawa. 4 Agustus 1811 Batavia dikepung 40 kapal perang Inggris dan berhasil merebut Batavia pada 26 Agustus 1811. Jansen menyingkir ke pedalaman. Yogyakarta dan Surakarta yang muak pada Belanda memilih mengikuti Inggris dan akhirnya Jansen harus menyerah kepada Inggris tanggal 18 September 1811 di Salatiga.

Segera setelah itu, Thomas Stamford Raffles diangkat menjadi Letnan Gubernur di Jawa. Hampir sama dengan Daendels, Raffles adalah soerang pembaru, hanya saja ia lebih lunak daripada Daendels. Penguasa lokal yang awalnya mendukung Inggris lambat laun menyadari hal itu dan mulai membangkang. Yang paling vokal adalah Yogyakarta. Persekongkolan-persekongkolan unik mewarnai pertikaian antara Yogyakarta dan Inggris. Surakarta mengambil kesempatan ini untuk menjatuhkan Yogyakarta. Tahun 1812, Yogyakarta diserang dan akhirnya jatuh. Sultan Hamengku Buwono II diturunkan dan digantikan putranya. Yogyakarta harus dipecah menjadi dua kraton, Yogyakarta dan Pakualaman.

Dalam kekuasaannya yang hanya berlangsung lima tahun, Raffles hampir bisa melebihi apa yang dicapai Daendels. Sikapnya yang egaliter menjadikannya cukup populer di Jawa. Pada masanya kerja rodi dan perbudakan dihapuskan. Kebijakannya yang dikenal sebagai Land Rent atau sewa tanah telah menjadi dasar perekonomian di Hindia Belanda, meskipun banyak juga yang malah gagal seperti di Palembang. Dalam urusan birokrasi, kebijakan Raffles tidak berbeda jauh dari Daendels, jabatan bupati adalah sebagai pegawai pemerintah kolonial. Hanya saja sistem Prefektur ala Prancis yang sebelumnya dipakai ia hapus dan diganti dengan sistem karesidenan yang membawahi beberapa kabupaten.

Tahun 1816, Raffles harus meninggalkan Jawa dan Belanda kembali lagi. Tahun 1824, Raffles menyerahkan Bengkulu berdasarkan Perjanjian London dan ia dipindah tugaskan di Tumasik yang kemudian ia bangun dan menamainya Singapura, sebuah pelabuhan transit paling terkemuka di dunia. Dengan kembalinya Belanda, keadaan politik yang semula relatif dapat dikuasai kembali menjadi kacau. Di mana-mana rakyat yang muak dengan kepongahan Belanda menebarkan benih-benih ketidak sukaan. Apalagi Belanda tetap pada tabiatnya yang semula. Belanda tetap saja turut campur dalam pemerintahan-pemerintahan lokal. Dalam gerakan politiknya itu, sering akhirnya berujung pada pertikaian. Belanda juga melakukan kesewenang-wenangan dalam urusan pajak. Rakyat benar-benar menderita.

Di tengah kekacauan itulah kemudian muncul Diponegoro yang mengobarkan perang Jawa selama kurun 1825-30. Diponegoro yang menerapkan strategi gerilya berhasil membuat pemerintah kolonial Hindia Belanda kalang kabut. Dengan cepat, gerakan perlawanan Diponegoro meluas di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dua tahun pertama, medan perang dapat dikuasai sepenuhnya oleh Diponegoro dan sekutu-sekutunya. Namun sejak 1827, pemerintah kolonial sepertinya mulai tahu bagaimana membendung pasukan Diponegoro. Mereka menerapkan benteng stelsel untuk menjepit basis-basis pasukan Diponegoro dan mencegahnya meluas lebih jauh. Mereka berhasil, pasukan Diponegoro berhasil dilemahkan.

Memasuki akhir 1828, satu persatu sekutu Diponegoro menyerah. Diawali oleh Kyai Mojo pada November 1828, dan diikuti Ali Basa Prawirodirjo dan pamannya Pangeran Mangkubumi setahun kemudian. Maret 1830, Diponegoro yang sudah lemah bersedia untuk berunding dengan pemerintah kolonial di Magelang. Tanpa kejelasan Diponegoro ditawan dan diasingkan ke Menado lalu dipindah ke Makassar dan wafat di sana pada 1855.

Belanda tidak hanya menaklukkan Jawa, tetapi juga daerah-daerah lain di kepulauan Nusantara. Ambisi mereka adalah menundukkan kekuasaan-kekuasaan pribumi Nusantara dan membangun sebuah negara kolonial Hindia Belanda. Tahun 1840 Belanda mulai menjamah Bali. Politik ekspansinya di Bali benar-benar sangat alot dan menguras keuangan Belanda. Pada 1882, secara sepihak menjadikan Bali dan kepulauan di sekitarnya sebagai sebuah karesidenan Hindia Timur Belanda. Aksi sepihak Belanda membuat marah penguasa-pengasa Bali waktu itu. Pada tahun 1891, Lombok yang rajanya berasal dari Bali mengerahkan rakyatnya untuk bertempur melawan Belanda. Tapi akhirnya Belanda berhasil meredakannya untuk sementara. Pada 1904, terjadi insiden perampasan kapal Belanda yang terdampar di pantai Bali. Belanda menjadikannya alasan untuk kembali menyerang Bali pada 1906. Gubernur Jendral Rooseboom tak mampu menghentikan Bali karena habis masa jabatannya lalu ia di gantikan oleh seorang panglima Perang Aceh yang ambisius, van Heutsz. Bali akhirnya jatuh setelah mengobarkan Perang Puputan terakhir tahun 1908. Bali manjadi tanah taklukan Belanda terakhir yang akhirnya menjadikan terwujudnya sebuah negara Hindia Belanda.

Di Makassar, Belanda yang kehilangan status hukum atas perjanjian Bongaya karena penyerahannya kepada Inggris, mencoba untuk kembali menguasainya. Gubernur Jendral van der Capellen datang sendiri ke Makassar pada tahun 1824 untuk menawarkan pembaruan. Kerajaan Bone menolak dan melancarakan serangan-serangan kepada Belanda. Bone menyerah setelah digempur pasukan gabungan Belanda dan Makassar pada 1825. Namun karena adanya penarikan pasukan untuk memadamkan Perang Jawa, Bone kembali melawan. Baru pada tahn 1838 Bone mau memperbarui Perjanjian Bongaya. Namun hal itu tidak serta merta menjadikan daerah Makassar takluk, perlawanan-perlawanan kecil masih terus merongrong kedudukan Belanda. Akhirnya Belanda melancarkan sebuah serangan besar-besaran pada 1856-60, tapi baru pada 1905 seluruh Makassar dapat di taklukkan.

Di Aceh, Belanda merasa paling kewalahan menghadapi dua kekuatan sekaligus, Kaum Padri dan rakyat Aceh. Mula-mula Belanda mengambil keuntungan dari percekcokan yang terjadi antara kaum agamawan dan kaum adat di Sumatera Barat. Belanda membangun persekutuan dengan kaum adat untuk menghalau pengaruh kaum Padri. Peperangan tersebut meluas sampai di daerah perbatasan Aceh. Kaum Paderi memang dapat dilemahkan, dan Belanda mulai tergiur melirik Aceh. Serangan-serangan mulai dilakukan pada dekade 1870an. Aceh masih dipandang cukup punya wibawa kala itu, jika Belanda memang benar-benar ingin menguasai Aceh, mereka harus siap dengan perlawan sengit dan alot. Dan memang penaklukan Aceh merupakan penaklukan paling menguras tenaga bagi Belanda. Tahun 1881 memang terdengar kabar bahwa Belanda telah mampu menjerumuskan Kesultanan itu dalam kehancuran. Namun mimpi mereka masih jauh dari kenyataan. Aceh menjadi medan gerilya bagi pejuang-pejuang Aceh yang militan dan tak mudah menyerah. Pejuang pertama-tama yang mengangkat senjata setelah kesultanan runuh adalah Teuku Cik Di Tiro. Tahun 1885 Belanda terpaksa mundur.

Lalu tampillah van Heutsz di bantu oleh prof. Snouck Hurgronje. Setelah mempelajari seluk beluk Aceh melalui Prof. Snouck, van Heutsz mulai melancarkan serangan besar-besaran terhadap Aceh. Teuku Umar tampil menjadi pemimpin gerilyawan yang gigih. Setelah dalam sebuah insiden Umar terbunuh, pucuk pimpinan gerilyawan Aceh dipegang oleh istrinya, Cut Nyak Din. Gerilyawan masih bisa bertahan, tapi sebenarnya mereka hanya tinggal menunggu waktu saja untuk kalah. Menipisnya kepercayaan diri dalam tubuh laskar-laskar gerilyawan Aceh penjadi penyebabnya. Tahun 1903, Aceh telah meredup dan van Heutsz diangkat menjadi gubernur hingga ia dipanggil untuk menggantikan Rooseboom. Dalam masa jabatannyalah, wujud Hindia Belanda benar-benar jadi kenyataan. Van Heutsz adalah penggila perang tapi amat lunak dalam membangun hubungan dengan tokoh-tokoh pribumi.

Pengganti van Heutsz, Idenburg justru sebaliknya, ia bukan penakluk yang gagah tetapi amat perfeksionis dalam urusan birokrasi. Pada masa-masa inilah kaum bumi putera yang terpelajar hasil pelaksanaan politik etis Belanda bergerak dan membangun massa. Syarikat Priyayi sebagai pelopor organisasi bumi putera lahir dan menjangkitkan “demam organisasi” di seluruh Hindia Belanda pada masa-masa selanjutnya. Terbitan koran dan majalah melimpah ruah dan kadang malah menyusahkan pemerintah kolonial sendiri. Selamanya Belanda tak pernah benar-benar tenang hidup di Nusantara.

Di luar Hindia Belanda, Filipina dan Cina bergolak dan Jepang mulai berlagak di Asia. Ketakutan akan datangnya pengaruh Jepang semakin menjadi-jadi. Hindia Belanda pun mengalami pergolakan-pergolakan yang mulai mengarah pada cita-cita kemerdekaannya. Pemerintah kolonial hanya bisa berupaya membendung pengaruh kebangkitan Cina, Filipina, dan juga Jepang. Namun memang Belanda tidak ditakdirkan untuk berlama-lama menikmati Hindia Belanda yang utuh. Tahun 1942 Perang Pasifik meletus dan Belanda harus bersiap-siap mengemasi kekuasaannya di Hindia Belanda. Jepang akhirnya datang membawa buah yang lebih pahit.

 

Jepang : Imperialis Muda dari Timur

10 Januari 1942, Jepang menyerang Hindia Belanda melalui Tarakan di Kalimantan. Serangan Jepang juga mengarah ke Singapura. Tanpa diduga Singapura jatuh pada 15 Februari 1942. Pada hari itu juga, pertahanan pasukan gabungan antara Belanda, Inggris, Australia, dan Amerika di Laut Jawa mereka tembus. Hindia Belanda sudah tak tertolong lagi, ia runtuh dengan menyakitkan. Gubernur Jendral van Starkenborgh tertawan dan menyatakan menyerah pada 8 Maret 1942.

Dengan sangat cepat Jepang kemudian merombak total wajah Hindia Belanda. Sumatra di serahkan dalam komando Angkatan Darat ke-25, Jawa dan Madura dibawah Angkatan Darat ke-16, dan wilayah Kalimantan dan Hindia Belanda bagian timur yang luat diatur oleh Angkatan Laut. Jepang tak hendak membuang-buang waktu berkompromi dengan kaum revolisioner bumi putra. Segala tindakan revolusioner yang menyusahkan segera mereka tangani secara represif. Praktis tidak ada sama sekali organisasi politik pada masa Jepang.

Tujuan Jepang adalah memperoleh pemasukan ekonomis dan material untuk terus menopang perangnya di Pasifik. Itu merupakan neraka bagi rakyat pribumi. Kebijakan yang mereka terapkan hanya dua : menghapus pengaruh-pengaruh barat yang tersisa dan memobilisasi rakyat untuk perang. Bahasa Belanda di larang. Sampai Agustus 1942 pemerintahan sementara Jepang lalu dialihkan kepada pemerintahan militer yang dikepalai seorang gubernur militer (gunseikan). Jepang menempatkan orang-orang pribumi untuk mengisi jabatan-jabatan orang-orang Eropa yang ditawan. Selain itu Jepang juga menggandeng para pemimpin politik yang populer dikalangan rakyat untuk mempercepat mobilisasi rakyat.

Bulan Maret 1943, organisasi Putera (pusat tenaga rakyat) dibentuk dan berada dalam pengawasan ketat Jepang. Namun segera saja organisasi ini tidak populer karena tak bisa bergerak justru karena ketatnya sensor Jepang pada setiap usahanya. Bulan April 1943 dibentuklah Seinendan, korps pemuda yang bersifat semi militer untuk pemuda berumur 14-22 tahun. Untuk membantu tugas-tigas kepolisian, Jepang membentuk satuan Keibodan yang anggotanya adalah para pemuda berusia 25-35 tahun. Pertengahan 1943 Heiho dibentuk sebagai bagian dari tentara angkatan darat dan angkatan laut Jepang. Tampak jelas bahwa mobilisasi rakyat hanyalah untuk memuluskan perangnya. Dan pada Oktober 1943 Peta atau pembela tanah air dibentuk. Selanjutnya Peta selalu memegang peran terpenting dalam usaha-usaha militer Jepang, namun juga pihak yang cukup kuat merongrong kekuasaan Jepang dengan perlawanannya.

Karena cara-cara kotor dan tidak manusiawi yang dilakukan oleh Jepang di mana-mana rakyat sangat menderita, bahkan lebih menderita daripada masa Hindia Belanda dulu. Hal itulah yang menggerakkan perlawanan-perlawanan rakyat di beberapa daerah. Sebuah perlawanan kaum petani dipimpin oleh seorang ulama meletus di Aceh pada November 1942. Di Jawa sendiri terjadi beberapa perlawanan yang dengan mudah dapat ditumpas oleh Jepang. Bahkan kesatuan militer buatannya pun menyerangnya. Pada Februari 1945 detasemen Peta Blitar melancarkan serangan ke gudang senjata Jepang. Walaupun dapat diatasi, namun serangan itu cukup menimbulkan kekhawatiran di pihak penguasa wilayah pendudukan.

Memasuki Tahun 1944, posisi Jepang di Pasifik telah menunjukkan tanda-tanda kejatuhannya. Pada bulan Februari 1944 Jepang tersingkir dari kepulauan Marshall dan menderita kekalahan serius di Filipina. Bulan Juli 1944 pangkalan militer Jepang di Saipan sirna. Akibatnya krisis benar-benar menguncangkan pemerintah pusat Jepang, Perdana Mentri Tojo Hideki kian terpojok. Untuk menarik sisa-sisa kekuatan rakyat wilayah pendudukan agar mau membantu perangnya, Jepang memberikan iming-iming kemerdekaan. Bulan Maret 1945, Jepang membentuk BPUPKI untuk memberikan kepastian janjinya kepada Indonesia. Pertengahan 1945 Jepang telah kehilangan seluruh dayanya. Berturut-turut pada tanggal 6 Agustus dan 9 Agustus bom atom dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang takluk, dan dengan memanfaatkan momentum tersebut pemimpin-pemimpin Indonesia mengumumkan kemerdekaan Indonesia.

Daftar Pustaka :
Bernard H. M. Vlekke, 2010,  Nusantara;Sejarah Indonesia (terj. Samsudin Berlian), Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia & Freedom Institut

Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, 2008,  Sejarah Nasional Indonesia IV (Kemunculan Penjajahan di Indonesia), Jakarta : Balai Pustaka

Marwati Djoenet Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, 2008,  Sejarah Nasional Indonesia V (Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda), Jakarta : Balai Pustaka

M. C. Ricklefs, 2008, Sejarah Indonesia Modern;1200-2004 (terj. Satrio Wahono dkk), Jakarta : Serambi

Pramoedya Ananta Toer, 2007,  Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, Jakarta : Lentera Dipantara

4 responses

  1. kembali mengingat sejarah..
    terima kasih postingnya..

    1. Terima Kasih juga atas kunjungannya….😀
      Salam Persahabatan..

  2. Pimpinan VOC yang terdiri dr 17 Anggota(Heren Zeventien) itu ap? Mohon blasannya

    1. Sebelumnya terima kasih atas kunjungannya🙂

      Yang perlu diketahui sebelumnya tentang VOC adalah kenyataan bahwa VOC ini adalah sebuah perusahaan dagang milik kerajaan Belanda (semacam BUMN kalau sekarang). Tujuan didirikannya VOC adalah untuk mengurangi persaingan antara pedagang-pedagang Belanda yang saat itu kerap terjadi dan memperlancar usaha Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Hindia Timur / kepulauan Nusantara. VOC adalah gabungan dari beberapa perusahaan dagang yang berpengaruh di Belanda. Untuk mengakomidasi kepentingan tiap-tiap anggotanya dibentuklah dewan direksi yang terdiri dari 17 orang yang seperti anda ketahui di sebut Heeren Zeventien. Pada awal-awal pendirian VOC, Heeren Zeventien inilah yang secara langsung mengurus VOC, bukan melalui Gebernur Jendral. Mengingat lingkup tugasnya yang jauh di Hindia Timur (sementara Heeren Zeventien berpusat di Belanda), Heeren Zeventin merasa perlu untuk mendelegasikan tugas2nya kepada wakilnya yang langsung berkedudukan di Hindia Timur. Barulah pada 1608 (?) Heeren Zeventien mendelegasikan tugasnya kepada seorang Gubernur Jendral, dialah Pieter Both, yang berkedudukan di Ambon. Posisi gubernur jendral adalah sebagai pelaksana mandat Heeren Zeventien. Jadi penguasaan VOC tetap pada para Heeren Zeventien.

      Semoga bisa membantu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: