Tag Archives: tan malaka di bayah

The Death Railway, Saketi – Bayah (bagian 2)

(Seri tulisan sebelumnya tentang The Death Railway dapat disimak di sini)

Peta Jalur Kereta Maut Saketi-Bayah (Sumber : War, Nationalism, and Peasants: Java Under The Japanese Occupation 1942-1945, Shigeru Sato.)

 

Jalur kereta api Saketi-Bayah yang terletak di Banten, merupakan salah satu jalur yang mendapat julukan “Death Railway”. Seperti yang telah diketahui, jalur dengan julukan yang sama juga terdapat di Birma-Thailand, dan di Pulau Sumatera yang mengubungkan Pekanbaru-Muaro Sijunjung. Setelah sedikit membahas tentang jalur Pekanbaru-Muaro Sijunjung, kali ini akan sedikit dibahas jalur kereta api Saketi-Bayah yang berjarak sekitar 89 Km.

            Jalur Saketi-Bayah yang dibangun Jepang mempunyai tujuan untuk mengangkut batubara yang digunakan untuk bahan bakar kereta dan kapal laut dari Cikotok serta menghindari kehilangan armada kapal laut Jepang yang digunakan mengangkut batubara dari Sumatera dan Kalimantan ke Jawa, karena mulai terganggunya jalur distribusi akibat serangan kapal selam Sekutu. Jepang mendapat informasi tentang adanya cadangan batubara di daerah Cikotok dekat Bayah dari arsip peninggalan pemerintah Hindia Belanda tahun 1900-an. Dalam laporan itu tertulis bahwa cadangan batubara di sana mencapai 20 sampai 30 juta ton. Untuk itu pada Agustus 1942 pemerintah Jepang yang diwakili biro transportasi melakukan penyelidikan bersama dengan pemandu lokal dan empat orang insinyur asal Belanda. Penyelidikan itu untuk mengetahui cara dan rintangan yang akan dihadapi dalam membuat jalur penghubung Saketi-Bayah. Setelah selesai melakukan penyelidikan, rancangan jalur  mulai dibuat pada bulan Juli tahun 1942. Tidak hanya rancangan jalur, pembangunan beberapa infrastruktur pendukung  barak, gudang, kantor, dan jalan juga berlangsung.

            Pembangunan jalur ini dimulai pada Februari 1943, setelah pemerintahan militer Jepang resmi memerintahkan pembangunannya. Namun, dalam perjalanannya pembangunan jalur ini menghadapi beberapa kendala misalnya seperti daerah yang ditutupi dengan hutan lebat, rawa, dan pegunungan penuh dengan hewan buas seperti harimau, buaya, ular berbisa, kalajengking dan juga penuh dengan berbagai macam penyakit. Untuk pembangunan jalur rel dan membuka hutan, banyak digunakan rakyat dari berbagai daerah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan dari daerah Banten sendiri. Tidak ada data yang pasti berapa jumlah romusha yang dipakai untuk membangun jalur ini, namun dalam buku Continue reading →

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 252 pengikut lainnya.